← Beranda
Pertahankan Tradisi Arak Peserta Khitan
Suryo Eko PrasetyoSelasa, 23 Mei 2017 | 02.18 WIB
RUTIN TIAP TAHUN: Peserta khitan masal naik dokar keliling Desa Anggaswangi, Sukodono.

JawaPos.com – Raut tegang tergambar di wajah 12 anak yang berkumpul di Masjid Taufiq Hidayah, Desa Anggaswangi, Sukodono, Minggu (21/5). Mereka menjalani momen yang hanya sekali dalam seumur hidup. Yakni, dikhitan.



Sebelum berangkat, mereka diajak berdoa bersama oleh Soleh Rois, salah seorang perangkat desa yang juga takmir masjid. ’’Semoga, setelah dikhitan, kalian jadi tambah pintar. Bisa membanggakan orang tua dan saleh. Nggak boleh nakal ya!’’ ucap Rois, lantas diamini anak-anak tersebut.



Mereka lalu diantarkan ke salah seorang dokter di Wonoayu untuk menjalani tindakan medis tersebut. Tak dibutuhkan waktu lama, sekitar pukul 08.00, rombongan khitanan masal itu kembali ke Desa Anggaswangi. Namun, mereka tak lantas pulang ke rumah masing-masing. Desa yang memiliki dua pedukuhan, yakni Dusun Anggaswangi dan Dusun Kweni, tersebut memiliki tradisi turun-temurun.



’’Setiap tahun pasti ada khitan masal seperti ini. Lalu, anak-anak yang sudah dikhitan diarak dengan barisan tarian kebudayaan,’’ papar Kepala Desa Anggaswangi Bambang Djutriyo. Menurut dia, tradisi tersebut tak hanya bertujuan agar masyarakat tetap guyub dan saling tolong-menolong. ’’Tapi juga mendidik anak-anak agar punya jiwa berani menghadapi tantangan,’’ lanjutnya.



Dalam acara itu, terdapat peserta kakak-adik, Renal Ardiansyah dan Daniel Nelson Prayoga. Sang adik, Daniel, tampak lebih tenang setelah dikhitan. Berbeda dengan Renal yang tak bisa diam. Dia berusaha menahan rasa sakit yang tertinggal sembari menikmati hiburan berupa aksi pencak silat Pagar Nusa dan bantengan.



’’Rasanya sakit, tapi jadi senang pas diarak. Ditepuki orang-orang,’’ ujar Renal, lantas tersipu. Putra Tolibul Huda tersebut juga terlihat semringah saat amplop berisi uang saku diberikan kepadanya. ’’Asyik sangu-nya banyak,’’ ujarnya, lantas terkekeh. Hal yang sama tersirat dari wajah sebelas anak lain yang duduk sembari berkalung bunga. (via/c22/ai)


EDITOR: Suryo Eko Prasetyo