← Beranda
Sang Penunggang Angin Pegas (2-Habis)
Suryo Eko PrasetyoKamis, 16 Februari 2017 | 02.12 WIB
PASANGAN SANGAT BERBAHAGIA: Dahlan Iskan (kanan) bersama Rianto Nurhadi dan istrinya, Indrawati. Indrawati menyiapkan santapan untuk Rianto. Pasutri yang sudah 60 tahun berumah tangga.


HOBI menyanyi Rianto Nurhadi kelihatannya tumbuh sejak kecil. Di mana pun Rianto terdengar menyanyi. Suaranya memang merdu. Paling merdu di antara teman-temannya.


Yang dia juga tidak mengerti adalah mengapa dia lebih suka menyanyikan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Misalnya, Sepasang Mata Bola, Rayuan Pulau Kelapa, dan lagu-lagu pop Indonesia. Lagu Widuri misalnya, tidak bosan-bosannya disenandungkannya. Baik di rumah maupun di panggung-panggung pesta.


Begitu berhenti sekolah, Rianto ikut membantu kakak sulungnya mengumpulkan hasil bumi. Untuk dijual ke Surabaya. Dia ikut keliling ke desa-desa. Dengan sepeda. Lalu cari alat angkutan yang tidak mudah saat itu.


Dari situlah kakak-adik itu terus berpikir betapa pentingnya memiliki alat angkut sendiri. Ongkos angkut selama ini sebenarnya sudah bisa untuk membeli truk bekas. Itulah pikirannya siang-malam.


Maka ketika suatu saat ada penjualan truk bekas, kakak-adik itu nekat membelinya. Itulah truk pertamanya. Truk enam roda merek Chevrolet yang tidak ada baknya. Waktu itu, kayu jati masih murah. Kakak-adik tersebut membeli kayu untuk membuat bak truknya.


Memiliki truk bekas sama dengan memelihara persoalan. Kerusakan demi kerusakan menimpa. Kejengkelan demi kejengkelan berdatangan. Salah satu yang membuat mereka pusing adalah: kalau di tengah jalan pegasnya patah. Langsung saja usaha macet. Rugi. Jengkel.


Zaman itu truk masih jarang. Memperbaiki pegas juga tidak mudah. Dan tidak bisa cepat. Dari kesulitan inilah Rianto dan kakaknya berpikir membuat pegas ’’apa adanya’’. Bikin sendiri. Di bengkel truknya. Dengan peralatan roll manual. Jelek, sederhana tapi berfungsi.


Kian lama kian sempurna. Bahkan ada yang mulai memesan padanya. Lama-lama kakak-beradik itu memproduksi pegas untuk dijual.


Nah, momentum pun tiba. Modal asing diizinkan masuk Indonesia menjelang tahun 1970. Pabrik mobil mulai dibangun di dalam negeri. Mereka harus menggunakan komponen lokal. Rianto adalah satu-satunya yang secara nyata bisa memproduksi pegas.


Ketika utusan Jepang meninjau bengkelnya, mereka kaget: ini bukan pabrik pegas. Ini bengkel sederhana. Tapi, Jepang mau membinanya dengan modal dan teknologi. Jadilah pabrik pegas modern pertama di Indonesia.


Begitulah. Jepang tentu tidak hanya melihat besar kecilnya ’’pabrik pegas’’ Rianto di Malang yang ternyata hanya sebuah bengkel. Jepang bisa melihat pribadi dan karakter anak muda yang ada di belakang bengkel itu. Kalau saja Rianto saat itu bukan anak muda yang bekerja keras, yang rendah hati, yang haus belajar teknik, yang terus bertanya untuk bisa lebih baik, akankah Jepang tertarik pada bengkelnya?


Sikap, karakter, dan pribadi Rianto saat muda itulah yang lebih menentukan. Bukan bengkel pegasnya saja.


Sampai hari ini, karakter dan kepribadian Rianto seperti itu tidak berubah: baik hati, rendah hati, menghargai orang, dan terus belajar. Itu juga jadi kunci dalam membina kerukunan keluarga. Termasuk kerukunan dengan istrinya sendiri, Indrawati.


Dalam catatan ini diceritakan bagaimana Rianto yang suka mengalah kepada istrinya. Bukan dalam pengertian ’’suami takut istri’’, melainkan dalam pengertian ’’suami memahami istri’’. Termasuk mau mengakui sisi-sisi lebih dari istrinya. Sisi-sisi benar dari istrinya. Dan sisi-sisi nurani dari sang istri.


Dalam hal pembagian waris itu, misalnya. Rianto tidak minta pertimbangan orang lain. Tidak minta saran konsultan waris. Tidak membanding-bandingkan dengan bagaimana pengusaha besar lain melakukan pembagian waris. Satu-satunya yang dia ajak diskusi adalah istrinya.


Dan memang sang istri memiliki kapasitas untuk itu. Dia bukan ibu rumah tangga biasa. Dia juga pengusaha. Punya bisnis pribadi: dagang onderdil mobil. Bahkan sejak SMP sudah ikut menjaga toko kaca milik bapaknya di Malang. Lalu, ketika diboyong suaminya ke Surabaya, sebelum ada wabah mobil Jepang, dia tetap ingin mengelola toko yang terpisah dari bisnis suaminya. Dia buka toko onderdil di Jalan Kembang Jepun, Surabaya. Namanya toko ’’Moeng’’. Singkatan dari ’’Mobil England’’. Maklum, belum musim ada mobil Jepang. Dia hafal nama-nama mobil buatan Inggris yang ada onderdilnya di toko Moeng-nya.


Untuk menjaga keunggulan toko onderdilnya, sang istri tidak hanya terpaku pada pemasok onderdil dalam negeri. Itulah yang membuatnya terpikir untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Ke pusat-pusat perdagangan onderdil. Termasuk ke Jepang.


Pengalamannya belanja onderdil ke Jepang itulah yang kelak mewarnai pola pikirnya dan bahkan masa depan bisnis suaminya. Dia putuskan bahwa anak keduanya, perempuan, Ikawati, harus sekolah ke Jepang. Hampir saja Ikawati putus asa akan sulitnya menyesuaikan diri dengan budaya dan bahasa Jepang, tapi sang ibu terus menguatkan tekadnya.


Jadilah Ikawati putri andalan keluarga ini. Terutama ketika kelak Rianto dipilih oleh Jepang untuk menjadi pemasok pegas untuk industri mobil Jepang di Indonesia. Sampai sekarang Ikawati-lah yang jadi pimpinan puncak Grup Indospring milik keluarga Rianto. Anak wanita. Bukan anak laki-laki. Di kalangan pengusaha Tionghoa, keputusan mengunggulkan anak wanita ini sungguh keberanian yang luar biasa dari Rianto dan istrinya.


Tidak ada selisih pendapat sedikit pun dalam proses pemunculan Ikawati menjadi pimpinan puncak grup itu. Seperti juga dalam hal waris, diskusi melibatkan suami-istri Rianto. Dan akhirnya keputusan sang istri yang diambil sebagai putusan bulat keluarga.


Pasangan itu bisa dibilang pasangan abadi. Tapi juga bisa dibilang pasangan modern. Bukan pasangan yang dijodoh-jodohkan oleh orang tua. Bukan pasangan yang dihitung berdasar hitungan kekayaan. Bahkan, awalnya orang tua masing-masing tidak menyetujui hubungan tersebut.


Waktu itu, Rianto masih bernama Njoo Oeng Liong. Seorang pemuda tinggi, tegap, dan ganteng. Indrawati masih dikenal dengan nama Tjan Kiet Woen. Seorang gadis berambut pendek yang cantik sekali. Pemuda Njoo adalah Tionghoa dari keturunan suku Fuqing (dari Provinsi Fujian). Sedangkan gadis Tjan dari keturunan suku Kanton (Provinsi Guangdong). Dua provinsi itu sebenarnya berbatasan, tapi bahasa daerah mereka berbeda. Budaya berbeda. Kebiasaan bisnis berbeda. Orang Fuqing adalah petani. Orang Kanton adalah pedagang.


Tapi, Kota Malang mempersatukan keduanya. Lapangan basket ’’Fan Xing’’ mempertemukan mereka. Gadis Tjan yang kelak pada 1960-an berubah nama menjadi Indrawati adalah pemain basket di klub Fan Xing yang berarti gemerlap bintang itu.


Seminggu dua kali, sore hari, setelah sekolah, Tjan latihan di situ. Sedangkan pemuda Njoo yang kelak berubah nama menjadi Rianto adalah pengurus klub basket itu. Usia Njoo delapan tahun lebih dewasa dari Tjan. Bagi Njoo, jelaslah itu bukan cinta monyet. Cinta yang sudah matang. Di lapangan basket yang kini sudah berubah menjadi gedung SDN di kota lama Malang itulah hati pemuda Njoo dan gadis Tjan terkait. Cinta bersemi. Tidak bisa dibendung lagi.


Tapi, hubungan cinta mereka tidak berarti mulus. Bahkan teramat terjalnya. Orang tua masing-masing tidak menyetujui. Bahkan, saat melihat suatu hari putrinya pulang latihan dibonceng sepeda oleh Njoo, sang ayah membelikan Indra sepeda sendiri.


Susahnya perjuangan meyakinkan orang tua masing-masing itulah yang ikut menguatkan perkawinan mereka. Tapi, cinta yang sudah sebulat bola itu tidak bisa tidak terus menggelinding. Mereka akhirnya mendapat restu. Membina rumah tangga.


Saat kelak Njoo harus memilih nama baru pada 1960-an, kebingungan terjadi. Saat itu pemerintah melarang penggunaan nama Tionghoa. Njoo sudah ngotot untuk tidak mau ganti nama. Tapi, Njoo tidak seberani Kwik Kian Gie di Jakarta atau seberani tokoh pers Goh Tjing Hok di Surabaya.


Maka Njoo mencari-cari nama Jawa yang awalannya huruf ’’L’’. Agar agak mirip dengan nama belakangnya, Liong. Tidak ada yang cocok dengan hatinya. Tapi, akhirnya dia harus memutuskan. Dia tahu orang Tionghoa biasa juga mengucapkan ’’R’’ dengan ’’L’’. Maka dipilihlah nama Rianto.


Sebuah nama yang kelak membawa kesuksesannya.


Sukses perkawinan.


Sukses rumah tangga.


Sukses membina anak-anak.


Sukses sampai cucu dan cicit.


Sukses dalam bisnis.


Sukses dalam hobi.


Sukses dalam umur.


Sukses dalam hidup.



Semua sukses seperti terkumpul di Rianto suami istri. (*)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo