Masih ingatkah dengan sosok Mbah Dul? Kakek penarik becak yang peduli pada aspal berlubang. Sempat menjadi fenomena dua tahun silam, keseharian Mbah Dul masih sama hingga hari ini. Mencari aspal berlubang dan memperbaikinya dengan alat seadanya.
DEBORA DANISA
JALANAN di Surabaya Utara tidak bisa disebut layak. Bopeng-bopeng menganga setiap beberapa meter. Ada yang kecil, ada pula yang besar. Tapi, tak peduli berapa ukurannya, semua bisa memakan korban. Apalagi bila pengendara tidak waspada dan berhati-hati. Belum lagi saat musim hujan tiba seperti sekarang. Nyaris setiap sore Surabaya dirundung mendung dan diguyur hujan. Mendadak muncul kolam-kolam kecil berisi air kecokelatan di jalan. Jika hujannya deras, banjir bakal menutup lubang-lubang jebakan itu.
Mungkin kelihatannya sepele. Padahal, lubang sekecil apa pun bisa menjadi petaka. Makin digerus air, makin besar kerusakannya. Hal itulah yang menjadi kekhawatiran Abdul Syukur, 67.
Kakek yang akrab disapa Mbah Dul tersebut sudah lama tergerak untuk memperbaiki jalan yang rusak. Tentu dengan usianya yang sudah senja, fisiknya tidak lagi seprima anak muda. Namun, hal itu tidak menghalangi semangatnya untuk menutup lubang-lubang jahanam di jalanan.
Pada 2015 mungkin Mbah Dul sedang mengalami momen keemasan. Bapak enam anak itu seperti mendapat durian runtuh. Ada seseorang yang melihat aksinya menambal jalan berlubang dengan pecahan aspal. Mbah Dul difoto dan potretnya diunggah ke media sosial.
Nama Mbah Dul pun melejit. Berbagai media dan instansi menyambangi rumahnya di Jalan Tambak Segaran. Tidak sedikit pula yang memberinya penghargaan, bahkan materi. Termasuk juga Pemkot Surabaya. Wali Kota Tri Rismaharini turun langsung saat itu untuk menyapa Mbah Dul.
’’Tapi, sekarang sudah hilang baunya,” tutur Mbah Dul ketika mengingat masa-masa itu. Mbah Dul menunjukkan setumpuk foto dan piagam penghargaan yang dia dapatkan dua tahun silam. Ada foto bersama para pejabat hingga artis-artis ibu kota. Semuanya dia simpan rapi dalam sebuah album sederhana yang tidak begitu tebal. Piagam yang diterima dari wali kota dan sebuah perusahaan IT diabadikannya dalam pigura berbingkai hitam.
Kali terakhir Mbah Dul merasakan ’’kejayaan” tersebut adalah ketika diberangkatkan umrah pada 2016. Oleh-oleh umrahnya berupa stiker berwarna hijau yang ditempelkan di lemari pakaiannya. Setelah itu, lampu sorot seolah meredup. Mbah Dul kembali menjadi sosok biasa yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak. Tetapi, semakin senja raganya, Mbah Dul tidak lagi mengayuh sesering dulu. Bahkan, kini dia memutuskan untuk tidak menjadi tukang becak lagi.
’’Takut dimintai sama orang-orang,” ungkapnya. Ya, setelah publikasi yang melejitkan namanya itu, tentu orang akan berpikir pundi-pundi Mbah Dul lebih gemuk. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Memang Mbah Dul mendapatkan banyak penghargaan yang jumlahnya berlimpah. Yang dulu tak pernah dibayangkannya bakal ada di tangannya. Tetapi, semua sekarang hilang tidak berbekas. ’’Dipakai buat ’tutup lubang’ itu,” ujar kakek bercucu delapan tersebut. Lubang yang dimaksud tentu tidak secara harfiah. Apa lagi kalau bukan utang.
Meski tidak lagi menarik becak sebagai sumber nafkah utama, Mbah Dul rupanya tak berhenti memperbaiki aspal. Becak boleh pensiun, tapi jalan rusak tetap harus diperbaiki. Kini becaknya tidak lagi mengangkut penumpang biasa. Bongkahan batu-batu dan beling-beling kacalah yang menjadi ’’penumpang setia’’ becaknya.
Jika dulu Mbah Dul memperbaiki jalan dengan menggunakan pecahan aspal, sekarang dia lebih banyak mengandalkan kerikil, semen, dan tanah. ’’Susah cari pecahan aspal sekarang,” tuturnya. Sebenarnya dia berharap seseorang bisa memberinya bantuan berupa aspal untuk menambal jalan. Namun, bantuan semacam itu tidak kunjung datang. Tak mau lama-lama berpangku tangan, Mbah Dul memanfaatkan bahan apa saja yang ada. Kerikil dan batu-batu pecahan paving dipungutnya dari tepi-tepi jalan. Begitu pula tanah. Mbah Dul mengeruk tanah dari lahan yang tidak terpakai.
Sayangnya, bahan-bahan tersebut punya kelemahan. Terutama saat musim hujan. Tanah dan kerikil dengan mudah tergerus air begitu hujan turun dan menggenangi jalan. Lubang yang sudah diperbaiki pun kembali bopeng dalam waktu singkat.
Sebenarnya ada satu bahan yang lebih awet meski tidak sekuat aspal. Semen. Namun, harga semen cukup mahal untuk ukuran kantong Mbah Dul. Kalau ada rezeki, dia bisa membeli beberapa sak semen. Tetapi, bila tidak ada minimal selembar uang biru di dompetnya, satu sak semen pun tak terbeli. ’’Saya biasanya ngumpulkan besi-besi tua, terus dirombeng. Uangnya itu yang dibuat beli semen,” cerita Mbah Dul. Anak-anaknya kadang membantu mencarikan besi-besi tua dari bekas proyek. Tetapi, hal itu tetap tidak bisa jadi pendapatan utama.
Namun, Mbah Dul bersyukur masih ada orang yang berhati mulia. Ketika sedang memperbaiki jalan rusak, ada saja orang yang berhenti. ’’Lho, Mbah Dul ya? Matur suwun lho, Mbah,” kata Mbah Dul yang menirukan ucapan salah seorang pengendara yang lewat. Pengendara mobil itu mengucapkan terima kasih sambil memberikan salam tempel. Uang itu pun menjadi modalnya untuk membeli bahan-bahan memperbaiki jalan.
Bantuan tidak selalu datang dalam bentuk uang. Ada juga yang memberikan bantuan berupa makanan dan minuman. Misalnya, ketika dia memperbaiki sebuah lubang besar di Jalan Simokerto. Seorang pedagang bakso bernama Rebo memberinya beberapa mangkuk bakso secara cuma-cuma. Pedagang bakso itu pun sudah mengenal akrab Mbah Dul. Dia jugalah yang melapor kepada Mbah Dul kalau ada jalan yang rusak dan memakan korban di dekat tempatnya berjualan.
Dulunya, Mbah Dul pernah ditawari wali kota untuk menjadi pengawas di dinas pekerjaan umum. Namun, kakek itu menolak. Dia tidak mau dianggap aji mumpung. Menjadi pengawas juga memberikan beban tersendiri bagi dirinya. ’’Kalau saya jadi pengawas nanti, malah nggak ada lagi jalan rusak. Semua jalan sudah betul,” kelakarnya.
Setelah panjang lebar menceritakan masa lalunya, Mbah Dul mengajak Jawa Pos berkeliling untuk melihat jalan-jalan berlubang. Kami berputar di sekitar Jalan Kenjeran, Jalan Tambak Rejo, dan Jalan Simokerto. Pertama-tama, Mbah Dul menunjukkan lubang-lubang di depan Rumah Sakit Soewandhi yang sudah ditambalnya dengan semen. Terlihat tambalan tersebut masih cukup bagus.
Lain halnya dengan tambalan yang sempat dia kerjakan di Jalan Kenjeran tiga bulan lalu. Terdapat sekitar enam lubang besar di dekat perempatan. Tiga di antaranya sempat Mbah Dul perbaiki, tetapi kini sudah menganga lagi. Satu yang menjadi perhatiannya adalah saluran air tepat di belokan perempatan. Tidak ada berem yang membatasi saluran dengan jalan aspal. Beberapa kali kami mengamati motor yang melintas nyaris terperosok ke lubang saluran. Dalamnya sekitar 30 sentimeter. ’’Kalau hujan lebih ngeri lagi. Ndak kelihatan,” katanya sembari geleng-geleng.
Lubang jalan yang lebih mengenaskan berada di sepanjang Jalan Simokerto. Salah satu lubang paling besar berada di depan warung bakso milik Rebo. Lubang itu sering sekali memakan korban. ’’Banyak yang jatuh. Malah sampai ndelosor beberapa meter ke depan,” tutur Rebo. Sebenarnya lubang itu sudah diperbaiki Mbah Dul seminggu lalu. Karena intensitas hujan yang tinggi, kini lubangnya malah semakin parah. Kerikil-kerikil yang tadinya dia gunakan untuk menambal jalan tampak berserakan di pinggir.
Bukan hanya lubang di jalan besar, Mbah Dul rupanya juga mulai merambah jalan kampung. Sudah dua bulan terakhir dia membetulkan sebuah jalan di Depo Stasiun Sidotopo. Terlalu banyak aspal bocel di sana sehingga Mbah Dul memutuskan untuk menutupnya sekalian dengan tanah. Dia memanfaatkan pecahan batu dan beling sebagai fondasi. Semuanya lantas ditutup tanah yang dikeruk dari tepian jalan. Belum selesai digarap, Mbah Dul memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sudah empat hari terakhir dia tidak keluar rumah. ’’Punggung saya sakit,” katanya seraya mengurut-urut punggung sendiri.
Selama safari jalan rusak, tidak terhitung berapa kali Mbah Dul bertanya-tanya mengapa dinas PU tidak segera turun tangan. Alasannya, masih musim hujan. Jalan yang sudah diperbaiki bisa sia-sia karena segera rusak kena air. ’’Masak mau tunggu tidak hujan? Memangnya orang tidak bisa celaka waktu musim hujan?” kata Mbah Dul. Karena itu, meski musim hujan dan perbaikannya terancam cepat rusak, Mbah Dul tetap menambal aspal sebisanya.
Kini setelah tidak lagi disorot lampu ketenaran, Mbah Dul hanya berharap ada orang lain yang mau peduli juga pada infrastruktur jalan. Jadi, dia tidak lagi bekerja sendirian. ’’Jangan sampai tunggu kecelakaan dulu, baru diperbaiki,” katanya. (*/c7/dos/sep/JPG)