← Beranda
Posko Pengungsian Banjir Jabon Tidak Diperpanjang
Suryo Eko PrasetyoJumat, 10 Februari 2017 | 16.00 WIB
MISI SELESAI: Toilet portabel di area pe ngung sian Dusun Penumpakan di kembalikan ke kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Sidoarjo.



JawaPos.com – Banjir yang menerjang lima desa di wilayah Jabon mulai surut. Berdasar pengamatan di sejumlah titik banjir Kamis (9/2), ketinggian air sudah jauh berkurang. Beroperasinya lima pompa air di Tambak Kalisogo mempercepat proses turunnya air.


Untuk mengecek ketinggian air, pada hari itu petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sidoarjo langsung terjun ke sejumlah titik banjir. Pengamatan pertama dilakukan di Desa Kupang. Tepatnya di jalan dusun Kupang Kidul.


Dengan menggunakan penggaris besi, petugas mengukur ketinggian air. Di jalan dusun, tinggi air hanya 10–15 sentimeter. Mayoritas rumah sudah tidak tergenang air. Air hanya terlihat menggenangi halaman depan rumah.


Salah satu bangunan yang dulu tergenang di Dusun Kupang Kidul adalah Masjid Al Quba. Saat puncak banjir, air sampai masuk ke masjid. Tempat ibadah itu sudah bisa digunakan untuk salat berjamaah.


Sejumlah rumah di dusun itu memang masih tergenang banjir. Ketinggiannya berkisar 30 sentimeter. Namun, hal tersebut lebih disebabkan kontur wilayahnya yang seperti cekungan. Genangan air itu terlihat hingga batas jalan Desa Kupang dan Desa Semambung.


Pengamatan berlanjut di Dusun Penumpakan, Desa Semambung. Wilayah itu merupakan titik banjir paling tinggi di Semambung. Ketinggian air sempat mencapai 70 sentimeter. Sebanyak 157 rumah terendam banjir. Namun, Kamis itu air tidak lagi menggenangi jalan dusun. Kendaraan sudah bisa lalu lalang di jalan tersebut. Titik genangan air masih terlihat di RT 1 hingga RT 4. Tepatnya di Gang Masjid. Ketinggiannya 10–20 sentimeter.


Surutnya genangan air dimanfaatkan warga untuk membersihkan rumah. Salah satunya Umi Kulsum. Perempuan berusia 38 tahun itu tampak membersihkan sisa-sisa air yang menggenangi lantai rumahnya. ”Lumayan tidak hujan tiga hari, airnya susut,” jelasnya.


Dia menceritakan, ketika banjir, ketinggian air di rumahnya mencapai 50 sentimeter. Umi bersama keluarganya mengungsi ke balai dusun. Tapi, hanya pagi hingga sore. ”Kalau malam ya pulang. Jaga rumah,” tuturnya.


Surutnya banjir membuat aktivitas pengungsi di Balai Dusun Penumpakan berakhir. Berdasar pengamatan, warga tidak lagi memadati balai dusun. Mereka memilih pulang ke rumah masing-masing. Kegiatan di dapur umum yang biasanya sibuk memasak makanan pun sudah tidak terlihat. Petugas juga sudah memindahkan toilet umum.


Kepala Dusun Penumpakan Samian menyatakan, warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Sebab, ketinggian air mulai turun. Dia mengungkapkan, genangan air tersisa di RT 1–RT 4 dan area persawahan. ”Selebihnya sudah kering,” ucapnya.


Bagaimana kondisi Dusun Semambung? Saat banjir, ketinggian air di wilayah tersebut berkisar 50 sentimeter. Hampir seluruh permukiman warga tergenang. Namun, hari itu genangan air sudah surut. Sejumlah warga membersihkan jalan dan rumah.


Di Desa Kedung Rejo, tepatnya Dusun Kaliwaru, genangan air masih terlihat. Banjir menggenangi area persawahan milik warga serta jalan desa. Ketinggian air 5–10 sentimeter.


Kepala Bidang Operasional Agus Hidayat menjelaskan, menurunnya ketinggian air disebabkan aktivitas pemompaan di wilayah Tambak Kalisogo. Pompa air tersebut menyedot air dari afvoer Golondoro yang meluap. ”Dengan demikian, air yang menggenangi desa bisa mengalir ke Sungai Golondoro,” jelasnya.


Pengeringan wilayah yang terdampak banjir, lanjut dia, memakan waktu sepekan. Penyebabnya, cakupan wilayah yang terdampak banjir sangat luas. Meliputi Desa Tambak Kalisogo, Semambung, Kedungpandan, Kupang, dan Kedungrejo. ”Belum lagi tambahan air dari wilayah Kalimati, Pasuruan, yang terus mengalir ke dam Golondoro,” jelasnya.


Untuk menangkal luberan dari Pasuruan, dinas PUPR sudah melakukan sejumlah langkah. Di antaranya, normalisasi Kalimati yang berada di wilayah Sidoarjo. Petugas membuat tanggul sementara yang terbuat dari sedimentasi sungai. Juga memasang sandbag sepanjang 1,5 kilometer. Agus menambahkan, pihaknya dibantu Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. ”Sudah kami koordinasikan,” ujarnya.


Sementara itu, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kabupaten Sidoarjo berkumpul di sekitar traffic light jalanan di kawasan Alun-Alun SidoarjoKamis (9/2). Mulai pukul 14.00–17.00, mereka menggalang dana untuk bencana banjir di Kecamatan Jabon.


Aliansi BEM se-Sidoarjo itu terdiri atas enam perguruan tinggi. Yakni, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida), Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sidoarjo, Universitas Maarif Hasyim Latif Sidoarjo (Umaha), Sekolah Tinggi Agama Islam Al Khoziny, serta Universitas Sunan Giri (Unsuri).


Selain berkeliling ke pengguna jalan dengan membawa kardus bertulisan Peduli Jabon, mereka berorasi. ’’Alhamdulillah. Orang Sidoarjo dermawan, banyak yang membantu. Ada yang memberi Rp 50 ribu, tapi rata-rata Rp 10 ribu,’’ ujar Zakaria Dimas, koordinator aksi.


Ini memang aksi pertama mereka turun ke jalan. Namun, mereka mengawali penggalangan dana di kampus masing-masing sejak 7 Februari lalu. Mereka berkeliling ke kelas-kelas untuk mencari rekan sesama mahasiswa, dosen, maupun staf kampus yang mau membantu. ’’Dana yang terkumpul kami belikan beras, obat-obatan, dan mi instan,’’ ujar Masrur Hidayat, presiden BEM STKIP. ’’Biar terlihat juga kepedulian teman-teman mahasiswa di Sidoarjo,’’ tambah Presiden BEM Umsida Azif Nofebri. (aph/uzi/c7/c10/pri/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo