JawaPos – Sudah sepekan ini kapal penumpang tujuan Gresik–Bawean tidak beroperasi. Cuaca buruk dan ombak tinggi penyebabnya. Penumpang pun masih tertahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Perak menyebutkan bahwa tinggi ombak perairan Gresik dan Bawean mencapai 3 meter hingga 3,5 meter. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhanan (KSOP) Gresik mengingatkan, jika pelayaran dipaksakan, kondisinya sangat berbahaya untuk kapal HSC (high speed craft, Red) atau kapal kecepatan tinggi.
’’Keselamatan penumpang harus diutamakan,’’ ujar Kepala Tata Usaha KSOP Gresik Nanang Afandi.
Nanang menjelaskan, kapal Express Bahari 8E dan KMP Gili Iyang termasuk kapal HSC yang melayani penumpang Gresik–Bawean. Namun, larangan itu juga berlaku untuk kapal layar motor (KLM).
Sejak Rabu (1/2) hingga Selasa (7/2) puluhan kapal masih bersandar di Pelabuhan Gresik. BMKG memprakirakan penundaan pelayaran berlaku hingga Sabtu (11/2).
Kondisi itu membuat ratusan penumpang tujuan Gresik–Bawean tertahan di Gresik. Sebaliknya, penumpang dari Bawean menuju Gresik juga tidak bisa apa-apa. ’’Kami sudah pantau kondisi ini,’’ kata Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Gresik Arifin.
Dishub, lanjut dia, berupaya keras mencari solusi. Sejauh ini Dishub Gresik berkoordinasi dengan Dharma Lautan Utama (DLU). Diharapkan ada bantuan dari kapal besar milik DLU untuk mengangkut penumpang dari Gresik ke Bawean dan sebaliknya. ’’Ini sifatnya darurat, sambil menunggu cuaca membaik,’’ ucap Arifin.
Pada Rabu (8/2) dishub kembali menemui DLU untuk memastikan kesiapan. Dengan begitu, Kamis (9/2) diharapkan ada kapal DLU yang berlayar dari Kalimantan dan singgah di Bawean. ’’Jika ada kepastian, segera kami kabarkan ke seluruh penumpang,’’ jelasnya. (mar/c15/roz/sep/JPG)