Di masa lalu, Sidoarjo pernah menjadi salah satu pusat industri gula di Jatim. Setidaknya ada 16 pabrik yang berdiri. Kini yang masih bertahan hanya empat pabrik. Salah satunya Pabrik Gula (PG) Candi Baru.
ARISKI PRASETYO HADI-CHANDRA SATWIKA
DARI kejauhan, tiga cerobong asap milik PG Candi Baru yang tinggi menjulang itu terlihat jelas. Usia pabrik gula yang berdiri tepat di pinggir Jalan Raya Candi tersebut menginjak 185 tahun.
Kedatangan kami disambut hangat oleh Muhammad Wahyudi, staf bagian pabrikasi PT Pabrik Gula (PG) Candi Baru. Pria 50 tahun tersebut bekerja di PG Candi Baru sejak 1988. Dia mengawali karirnya sebagai karyawan tidak tetap yang hanya bekerja setiap musim giling. Bersama Wahyudi, kami menelusuri berbagai sudut pabrik legendaris yang didirikan pada 1832 oleh keluarga The Goen Tjing itu.
Semula, namanya N.V Suiker Fabriek Tjandi. Keluarga The Goen Tjing menguasai perusahaan selama 79 tahun. Pada 1911 kepemilikan pabrik berpindah tangan. Keluarga The Goen Tjing menyerahkan perusahaan kepada keluarga Kapten Tjoa. Perang Dunia II menjadi masa yang sulit bagi PG Candi Baru. Pabrik bergonta-ganti pemilik. Bahkan, pabrik sempat dikuasai Perusahaan Perkebunan XXII. Belakangan, kepemilikan dikembalikan lagi ke keluarga Kapten Tjoa.
Jalan pahit sempat dihadapi perusahaan pembuat gula tersebut. Periode 1941–1950, pabrik sempat mandek. Tutup. Pada 1951 pabrik kembali dihidupkan warga Belanda. Industri gula pun kembali berdenyut. Pemerintah sempat menasionalisasikan pabrik itu pada 1962. Nama perusahaan berubah menjadi Pabrik Gula Tjandi.
Pada 1963 kepemilikan pabrik jatuh ke tangan pengusaha Indonesia Wirontono Bakrie. Keluarga pengusaha itu menguasai saham mayoritas hingga 1991. Setelah itu, pabrik kembali berpindah tangan. PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) mengambil alih seluruh saham pabrik. Sejak 1993, Pabrik Gula Tjandi berganti nama menjadi PT PG Candi Baru.
PT PG Candi Baru menjadi destinasi pertama kami. Rabu (18/1) suasananya tidak terlalu ’’meriah’’. Maklum, musim giling memang baru mulai sekitar Mei. Musim tersebut berlangsung selama enam bulan atau sampai Oktober.
***
Tak mudah bagi orang luar untuk bisa bebas mondar-mandir di dalam pabrik gula tersebut. Kami termasuk beruntung. Bersama Wahyudi sebagai tour guide, kami bisa melihat secara langsung berbagai jejak dari masa lalu. Rasanya seperti kembali ke masa lampau.
Dari gerbang utama, kami disambut bangunan berpostur tinggi. Di atasnya menggantung mesin crane yang berbentuk melengkung dengan rantai panjang. Fungsinya mengangkut tebu dari lori. Tebu yang sudah ditimbang diangkat dengan crane, lalu masuk ke mesin penggilingan. Crane merupakan barang baru bagi pabrik tebu. Sebab, dulu, dari kebun menuju mesin gilingan, tebu diangkut tenaga manusia.
Setelah melewati mesin pengangkut tebu, kami disambut bangunan gedung yang berukuran besar. Mirip gudang penyimpanan. Atapnya terbuat dari seng. Temboknya bercat putih. Kesan arsitektur khas zaman kolonial Belanda terlihat dari hiasan berbentuk segitiga dan bulatan yang menempel di dinding bangunan. Pucuk atapnya berbentuk lancip. Bukti lawasnya bangunan itu terlihat dari goresan tahun yang menempel di dinding gedung. 1832.
Bangunan tersebut masih terawat dengan baik. Tidak ada bagian yang bopeng. Pihak pabrik, tampaknya, benar-benar menjaga heritage itu. Perawatan dilakukan dengan mengecat ulang bangunan. Karena itu, tidak ada kesan kumuh.
Wahyudi menjelaskan, ada lima bangunan era awal PG Candi Baru yang masih bertahan hingga kini. Misalnya, gedung berukuran besar yang barusan kami masuki dan cerobong asap. Di PG Candi Baru, ada tiga cerobong asap. Satu di antaranya asli peninggalan Belanda. Dua sisanya bangunan baru. Cerobong yang asli terbuat dari batu bata. Cerobong diberi warna putih setrip merah. Wahyudi menyatakan, tinggi cerobong lebih dari 100 meter. Menjulang ke langit. Yang bangunan baru terbuat dari lempengan besi. Sekilas lebih kurus. ”Kalau yang tua awet. Yang baru harus dirawat setiap tahun,” katanya.
Cerobong asap memang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan pabrik gula. Selain menjadi tempat pembuangan asap sisa pembakaran, cerobong asap menjadi penanda pergantian sif. Ketika musim giling, dengan mengatur volume keluarnya asap sedemikian rupa, cerobong asap tersebut bisa mengeluarkan bunyi keras. COSSSS. Ada tiga sif, yaitu pukul 06.00, pukul 14.00, dan pukul 22.00.
Yang lainnya adalah gudang yang terletak di sisi depan pabrik dan gedung pemrosesan tebu. Juga, rumah administrator. Bangunan itu dulu merupakan tempat pemrosesan tebu menjadi gula. Juga, tempat menyimpan hasil olahan tanaman tunas tersebut. ”Seluruh proses produksi dikerjakan di gedung itu,” paparnya.
Menempel di sebelah kiri, ada gedung yang tingginya sama. Bentuknya sama persis. Bedanya, bangunan itu memiliki empat jendela superbesar dan dilengkapi tralis besi serta atap penutup dari seng.
Dari sana, kami melanjutkan perjalanan ke gedung utama. Kali ini kami disambut spanduk besar dengan tulisan dilarang merokok. Letaknya persis di depan gedung. Para karyawan memang ”diharamkan” merokok di dalam pabrik. Sebab, di dalam gedung itulah, terdapat puluhan mesin produksi.
Bangunan tempat ratusan mesin tersebut sangat luas. Lebarnya mungkin sama seperti lapangan sepak bola. Yang terlihat hanyalah pipa-pipa besar saling tersambung satu sama lain. Ruwet mbulet. Selain itu, terdapat berbagai mesin. Mulai mesin gilingan sampai boiler. Setiap bagian dihubungkan dengan jalan yang terbuat dari pelat besi.
Kami lantas diajak naik tangga menuju stasiun gilingan. Terdapat deretan mesin giling yang digerakkan dinamo. Satu dinamo tersambung dengan kumparan-kumparan berdiameter sangat besar. Serentang tangan atau berkisar 2 meter. Wahyudi menyatakan, kumparan-kumparan mesin itu baru diganti. ”Yang peninggalan Belanda malah jauh lebih besar. Tingginya hampir mencapai atap gedung,” jelasnya.
Proses panjang pembuatan gula berawal dari stasiun penggilingan. Tebu yang diangkut crane dimasukkan ke mesin penggilingan untuk diremukkan. Hasilnya adalah cairan perasan tebu yang biasa disebut nira. Setelah dimurnikan, nira yang jernih akan masuk ke ketel uap untuk dimasak. Sementara itu, kotorannya ditampung menjadi blothong. Ampas nira tersebut masih bisa difungsikan. Biasanya blothong digunakan untuk pengurukan.
Pemasakan nira berlangsung di stasiun penguapan. Nira dipanaskan di dalam ketel. PG Candi Baru memiliki puluhan boiler. Kandungan air nira yang dipanaskan bakal menguap menyisakan sari berupa bubur gula. Dari sana, bubur gula masuk ke stasiun masakan. Bentuknya akan dipadatkan menjadi kristal gula yang disebut mascuite. Ukuran kristal bisa disesuaikan dengan keinginan.
Mascuite lantas masuk ke mesin putaran. Fungsinya memisahkan gula dengan cairan yang melekat pada gula. Dari pemisahan itu, akan didapatkan kristal gula yang murni. Setelah itu, masuk tahap akhir, yaitu packaging atau pengemasan.
Dalam pemasakan, ada dua cara yang digunakan PG Candi Baru. Salah satunya menggunakan ketel uap yang modern. Cara itu sekarang dipakai seluruh pabrik gula di Indonesia. Yang kedua adalah cara tradisional. Wahyudi menuturkan, pabrik tersebut masih mempertahankan mesin pembakaran yang dipakai Belanda. Letaknya di bagian belakang pabrik. Bentuknya mirip tungku besi. Berjejer empat. Pintu penutup terbuat dari besi baja. Mesin sederhana itu berbahan bakar ampas tebu.
Darimana ampas tebu itu? Wahyudi menjelaskan, ampas tebu tersebut diperoleh dari hasil penggilingan tebu. Sisa pemrosesan itu dimasukkan ke tungku lewat lubang di bagian bawah. ”Pekerja memasukkan ampas (secara) manual dengan sekop,” tuturnya.
Pembakaran di tungku itu menghasilkan asap dan debu. Asap dikeluarkan lewat cerobong pabrik. Sementara itu, debu harus dibersihkan atau diambil secara manual agar tidak menumpuk. Menurut Wahyudi, ada terowongan bawah tanah di bawah tungku tersebut. Panjangnya sekitar 6 meter dengan lebar 4 meter. Terowongan itu menjadi jalan bagi pekerja untuk mengambil abu sisa pembakaran. Abu-abu tersebut kemudian diangkut ke pinggir sungai.
Kami sempat mencoba memasuki terowongan itu. Kondisinya gelap gulita. Sama sekali tidak ada cahaya. ’’Kalau pas giling, (terowongan, Red) terang karena kami pasang lampu,’’ jelas pria asli Desa Candi itu.
Bangunan lawas di PG Candi Baru bukan hanya pabrik. Di seberang pabrik, terdapat gedung yang kini difungsikan sebagai kantor. Desainnya bergaya Eropa. Jendelanya besar. Atapnya terdapat ornamen segitiga dan bulatan. Mirip ornamen gudang di pabrik. Bagian depan bangunan simetris. Terdapat serambi.
Begitu masuk ke gedung, ada dua kamar besar di bagian depan. Kamar itu terpisah di sudut kanan dan kiri. Bagian tengah merupakan ruang keluarga. Halaman belakang terhampar luas. Staf IT PG Candi Baru Adminto menyebutkan, pada zaman Belanda, rumah tersebut digunakan sebagai tempat tinggal pimpinan pabrik gula atau administrator. Dulu biasa disingkat ADM, semacam GM atau general manager. Lokasinya berada di depan pabrik sehingga bisa langsung mengawasi pabrik.
Di sebelah gedung terdapat bangunan. Bentuknya lebih kecil. Dulu bangunan itu digunakan sebagai pos penjagaan. ’’Bagian pengamanannya ADM,” jelasnya. Di depan gedung juga, ada prasasti yang berbentuk mesin giling. Mesin tersebut terdiri atas tiga gelondong beton. Di ujungnya tersambung dengan roda gerigi kumparan. Kondisinya masih terawat dengan baik.
Tulisan prasasti itu cukup unik karena tersusun dari dua bahasa. Belanda dan Indonesia. Tulisan pemilik pabrik Kapitein The Goean Tjing terpatri. Selain itu, ada kalimat yang bertulis ’’dengen segalla slamet ini penggilingan teboe soedah lima poeloe tahon lamanja di boeka. Insja Allah Berlakoe’’.Prasasti tersebut merupakan mesin giling pertama yang digunakan PG Candi Baru. Prasasti itu dibuat sebagai bentuk terima kasih pemilik pabrik lantaran mesin sudah beroperasi selama 50 tahun. (*/c21/pri/sep/JPG)