KAMPUNG Genteng Candirejo RT 2, RW 8, Kelurahan Genteng, menyabet penghargaan Best of the Best Kategori Jawara.
Itu adalah kategori tertinggi dalam lomba kebersihan lingkungan yang diadakan sejak 2005 tersebut. Tidak berlebihan jika gelar itu disandang kampung tersebut.
Tidak percaya? Coba saja datang ke sana. Pintu masuk kampung ditandai dengan gerbang bertulisan Kampung Wisata Sampah Mandiri. Dari gerbang itu terlihat lorong hijau.
Pohon belimbing wuluh paling banyak dijumpai. Sebab, kampung tersebut dikenal dengan olahan belimbing wuluh.
Ketua RT 2, RW 8, Syahri mengajak Jawa Pos berkeliling kampung. Namun, dia enggan membicarakan tentang penghijauan, kebersihan, atau kesehatan.
Sebab, tahapan tersebut sudah dilalui. Tugasnya kini adalah menjadikan Candirejo sebagai kampung mandiri.
’’Ibarat SGC itu sekolah, kita ini sudah lulus,’’ kata pria yang juga menjadi fasilitator kelurahan (faskel) Genteng tersebut.
Terdapat tujuh pilar program di Candirejo. Syahri lalu mengambil banner di kolong meja balai RT. Masing-masing pilar punya banner sendiri.
Mulai pilar lingkungan, sanitasi, ekonomi, nutrisi, pendidikan, teknologi informasi, hingga aman dan nyaman.
Pilar ekonomi menjadi yang terpenting. Warga diberdayakan dengan stimulan berdagang. Barang dagangan diambil dari tanaman yang dibudidayakan.
Otomatis cara itu membuat warga melakukan penghijauan. ’’Setelah ekonomi hidup, pilar lain berjalan dengan sendirinya,’’ jelas pria 44 tahun itu.
Terdapat 14 usaha kecil menengah (UKM) di kampung tersebut. Mereka memproduksi minuman dalam kemasan. Mulai sinom, serai, kunyit asam, susu kedelai, secang, hingga produk andalan minuman belimbing wuluh.
Produk-produk itu didistribusikan ke sejumlah sentra UKM. Salah satunya sentra UKM Siola yang tak jauh dari Kampung Candirejo.
UKM tidak hanya menjual barang dagangannya di sentra. Mereka juga menjualnya kepada wisatawan yang berkunjung. Produk-produk itu tertata rapi di lemari es balai RT.
Tempat tersebut menjadi jujukan pertama setiap wisatawan yang datang. Kebanyakan di antara mereka ingin mengetahui sekaligus belajar tentang pengelolaan kampung.
Mereka penasaran dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan keguyuban warga. Dari kunjungan wisatawan itu, omzet UKM meroket. Awalnya hanya Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap bulan.
Seiring berjalannya waktu, omzet berlipat hingga Rp 3 juta per bulan. Warga yang menjadi wirausahawan semakin giat melakukan penghijauan. Sebab, dibutuhkan bahan produksi lebih banyak.
Syahri mengatakan, kampungnya punya peraturan daerah (perda). Warga dilarang membeli tanaman. Sebagai gantinya, dibangun green house di tengah-tengah kampung.
Di sanalah semua tanaman dibudidayakan. Ada lima jenis tanaman. Yakni, tanaman hias, toga, tanaman lindung, tanaman produktif, dan sayur mayur untuk urban farming.
’’Tinggal mbatek, gowo moleh,’’ kata dia sambil menunjukkan pohon kedondong yang mulai berbuah.
Salah satu yang dikembangkan saat ini adalah padi. Karena baru ditanam, padi itu masih berbentuk tunas.
Padi-padi tersebut diletakkan di wadah pot semen. Tujuan penanaman jelas bukan untuk kebutuhan dapur. Melainkan untuk edukasi.
’’Karena anak-anak itu ngertinya beras. Kalau ditanam seperti ini, mereka bisa mengamati prosesnya sejak masih berupa padi,’’ jelas pria asal Lamongan itu.
Selain tanaman, terdapat kolam ikan di kampung tersebut. Gemericik airnya menghilangkan suara ingar-bingar kendaraan. Di ujung kampung, belakang musala, di sanalah letak kolam produktif tersebut.
Tak terhitung berapa ikan nila yang ada. Yang jelas, ikan itu siap panen. Usianya sudah tiga bulan. Gemuk-gemuk. Warga bergantian memberi makan.
Ikan-ikan itu tidak dijual, melainkan dibagikan ke setiap rumah. Setelah dikuras, kolam diisi dengan bibit nila yang baru. Tanpa disadari, kolam tersebut menyatukan warga kampung.
Mereka lebih peduli pada lingkungan. Itu menjadi simbol saling berbagi. Apa yang ditanam bersama akan dinikmati bersama.
Ada pula kolam hias yang berisi ikan koi. Satu milik warga, satu lagi ada di balai RT. Kolam itu terlihat bersih. Sebab, karang taruna aktif membersihkannya.
’’Kita beri tanggung jawab karang taruna untuk menjaga kampung ini,’’ kata dia. Candirejo menjadi jujukan peserta UN Habitat Juli lalu.
Ada 193 negara yang ikut saat Surabaya menjadi tuan rumah dunia yang membahas tentang permukiman tersebut. Namanya sudah dikenal dunia.
Awal 2017 sudah ada 30 wisatawan asal Austria yang berniat tinggal selama sebulan di Candirejo. ’’Nanti tidurnya di rumah-rumah warga,’’ kata Syahri. (sal/c7/oni)