← Beranda
8 Tipe Teman yang Perlu Diwaspadai, Terlalu Dekat Bisa Menguras Energi
Mohammad Maulana IqbalJumat, 11 September 2026 | 15.23 WIB
tipe teman yang tak layak dipertahankan menurut psikologi../Freepik/ freepik

JawaPos.com – Memiliki teman dekat dapat menjadi salah satu sumber dukungan ketika seseorang menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan. Namun, tidak semua hubungan pertemanan selalu memberikan dampak positif.

Dalam hubungan sosial, seseorang terkadang dapat bertemu dengan teman yang membuatnya merasa dihargai dan didukung. Sebaliknya, ada pula hubungan yang justru membuat seseorang merasa lelah, tidak nyaman, atau terus-menerus dirugikan.

Karena itu, memahami pola hubungan yang kurang sehat menjadi hal penting. Bukan berarti setiap teman dengan satu karakter tertentu harus langsung ditinggalkan, tetapi beberapa perilaku memang perlu diperhatikan dan diberi batas yang jelas.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat delapan tipe teman yang dinilai kurang baik untuk dipertahankan apabila perilakunya berlangsung terus-menerus dan mengganggu kesejahteraan emosional.

Berikut di antaranya.

1. Teman yang Selalu Mengambil Keuntungan

Pertemanan yang sehat seharusnya memiliki hubungan timbal balik. Kedua pihak sama-sama bersedia memberikan waktu, perhatian, bantuan, maupun dukungan ketika dibutuhkan.

Namun, ada orang yang hanya datang ketika membutuhkan sesuatu. Mereka mungkin sering meminta bantuan, mencari tempat untuk bercerita, atau membutuhkan dukungan, tetapi jarang melakukan hal serupa ketika temannya sedang mengalami kesulitan.

Jika pola tersebut berlangsung dalam waktu lama, hubungan bisa terasa berat sebelah. Salah satu pihak akhirnya merasa hanya dimanfaatkan dan tidak mendapatkan penghargaan yang sepadan.

Dalam kondisi seperti ini, menetapkan batasan dapat menjadi langkah yang lebih sehat daripada terus memaksakan hubungan.

2. Teman yang Selalu Membawa Energi Negatif

Mengeluh sesekali merupakan hal yang wajar. Setiap orang tentu memiliki masa sulit dan membutuhkan tempat untuk mencurahkan perasaan.

Masalah dapat muncul ketika seseorang hampir selalu melihat segala sesuatu dari sisi buruk. Apa pun yang terjadi dianggap salah, tidak ada yang cukup baik, dan setiap pembicaraan akhirnya dipenuhi keluhan.

Jika terus berada dalam lingkungan seperti itu, seseorang dapat ikut merasa lelah secara emosional.

Karena itu, penting menjaga keseimbangan dalam pertemanan. Teman seharusnya bukan hanya menjadi tempat berbagi masalah, tetapi juga bisa menjadi sosok yang memberikan dukungan dan perspektif yang membangun.

3. Sahabat yang Hanya Datang Saat Bahagia

Tipe teman berikutnya adalah orang yang selalu hadir ketika keadaan sedang menyenangkan, tetapi menghilang saat masalah datang.

Mereka mungkin antusias ketika diajak bersenang-senang, menghadiri acara, atau menikmati keberhasilan bersama. Namun, ketika temannya sedang membutuhkan dukungan, keberadaannya tiba-tiba sulit ditemukan.

Padahal, salah satu nilai penting dalam persahabatan adalah kemampuan untuk hadir dalam berbagai situasi, bukan hanya ketika semuanya berjalan baik.

Memiliki sedikit teman yang benar-benar dapat dipercaya terkadang jauh lebih berarti daripada mempunyai banyak kenalan tetapi tidak memiliki hubungan yang mendalam.

4. Teman yang Tidak Mau Berkembang

Setiap orang dapat berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Pandangan, tujuan hidup, hingga prioritas seseorang juga bisa mengalami perubahan.

Namun, hubungan dapat menjadi sulit ketika salah satu pihak sama sekali tidak mau menerima perkembangan tersebut.

Misalnya, seorang teman terus memaksa orang lain tetap memiliki kebiasaan lama, menolak pandangan berbeda, atau tidak bisa menerima perubahan dalam kehidupan temannya.

Pertemanan tidak harus selalu memiliki pemikiran yang sama. Justru, perbedaan dapat memperluas wawasan selama kedua pihak mampu saling menghormati.

5. Teman yang Gemar Menghakimi

Ada perbedaan antara memberikan masukan dengan terus-menerus menghakimi.

Teman yang suka menghakimi biasanya membuat orang lain merasa tidak pernah cukup baik. Mereka dapat memberikan komentar mengenai pilihan hidup, penampilan, pekerjaan, hubungan, atau keputusan pribadi tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang bersangkutan.

Kritik yang disampaikan secara konstruktif tentu bisa bermanfaat. Namun, komentar yang terus merendahkan justru dapat mengganggu rasa percaya diri.

Hubungan pertemanan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa merasa harus selalu memenuhi standar orang lain.

6. Teman yang Menjadikan Semuanya Kompetisi

Persaingan tidak selalu buruk. Kompetisi yang sehat bahkan bisa membuat seseorang lebih termotivasi untuk berkembang.

Masalah muncul ketika seorang teman menjadikan hampir semua pencapaian sebagai perlombaan.

Ketika kamu mendapatkan pekerjaan baru, dia ingin menunjukkan bahwa pekerjaannya lebih baik. Ketika kamu mencapai sesuatu, dia berusaha membuktikan bahwa dirinya lebih unggul.

Jika terjadi terus-menerus, hubungan tersebut dapat membuat seseorang merasa pencapaiannya tidak pernah cukup.

Pertemanan idealnya menjadi ruang untuk saling mendukung, bukan arena untuk terus membandingkan siapa yang lebih sukses.

7. Teman yang Gemar Bergosip

Bergosip mungkin terlihat seperti percakapan ringan. Namun, kebiasaan membicarakan kehidupan orang lain secara berlebihan dapat menjadi masalah ketika melibatkan rumor, fitnah, atau rahasia pribadi.

Hal yang perlu diperhatikan adalah kepercayaan. Jika seseorang terbiasa membocorkan cerita pribadi orang lain kepada kita, ada kemungkinan rahasia kita juga akan diperlakukan dengan cara yang sama.

Karena itu, penting berhati-hati dalam memilih informasi yang dibagikan kepada teman yang memiliki kebiasaan bergosip.

Pertemanan yang sehat sebaiknya memberikan rasa aman, termasuk dalam hal menjaga privasi.

8. Teman yang Tidak Menghormati Batasan

Rasa hormat merupakan salah satu dasar hubungan yang sehat. Setiap orang mempunyai batasan masing-masing dan berhak menentukan hal-hal yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman.

Teman yang terus mengabaikan batasan tersebut perlu diwaspadai.

Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari meremehkan pencapaian, mempermalukan di depan orang lain, memaksakan kehendak, hingga tidak menghargai keputusan pribadi.

Jika perilaku tersebut sudah berulang kali disampaikan tetapi tidak berubah, menjaga jarak dapat menjadi salah satu pilihan untuk melindungi kesejahteraan diri.

Pada akhirnya, tidak semua hubungan yang terasa sulit harus langsung diakhiri. Ada kalanya komunikasi terbuka dan penetapan batasan sudah cukup untuk memperbaiki keadaan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho