JawaPos.com - Benarkah jomblo kronis selalu merasa putus asa? Kenali 7 perasaan yang mungkin muncul, mulai dari kesepian, merasa bukan prioritas, hingga lelah menghadapi dunia percintaan.
Namun pada kenyataanya, menjadi lajang dalam waktu yang cukup lama tidak selalu berarti seseorang tidak bahagia.
Ada orang yang menikmati kebebasan, fokus pada karier, keluarga, pertemanan, atau pengembangan diri.
Akan tetapi, bagi sebagian jomblo dengan notaben 'kronis', perjalanan panjang tanpa pasangan romantis juga dapat memunculkan perasaan yang tidak selalu mudah dibicarakan.
Salah satu pengalaman yang sering muncul adalah perasaan seperti tidak memiliki “seseorang” yang benar-benar menjadi tempat utama untuk berbagi kehidupan.
Dikutip dari laman YourTango, menyoroti bahwa seseorang bisa tetap memiliki keluarga, teman, dan komunitas, tetapi tetap merasakan kesepian karena tidak mempunyai pasangan sebagai orang terdekat secara romantis.
Namun pada umumnya, inilah beberapa perasaan yang mungkin paling sering dirasakan oleh orang-orang yang telah lama sendiri tanpa pasangan.
1. Merasa Tidak Menjadi Prioritas Utama Seseorang
Salah satu perasaan yang cukup berat adalah ketika seseorang merasa tidak menjadi prioritas utama bagi siapa pun.
Bukan berarti orang tersebut tidak dicintai. Keluarga dan teman mungkin tetap memberikan perhatian, tetapi kehidupan mereka juga memiliki pasangan, anak, pekerjaan, dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam kondisi seperti ini, seorang lajang dapat merasa bahwa tidak ada orang yang secara otomatis menjadi tempat pertama untuk berbagi kabar, meminta bantuan, atau sekadar mengatakan bahwa hari ini terasa berat.
YourTango menggambarkan pengalaman ini sebagai perasaan tidak memiliki “person”, yakni seseorang yang secara khusus menjadi tempat utama untuk berbagi kehidupan sehari-hari.
Perasaan tersebut dapat menjadi lebih kuat ketika melihat orang-orang di sekitar mulai memiliki pasangan.
Bukan karena seseorang iri terhadap kebahagiaan orang lain, melainkan karena situasi tersebut mengingatkan dirinya pada sesuatu yang belum dimiliki.
2. Merasa Kesepian meski Tidak Benar-Benar Sendirian
Kesepian dan kesendirian merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang bisa berada di tengah keluarga atau teman, tetapi tetap merasa ada ruang emosional yang belum terisi.
Inilah salah satu pengalaman yang terkadang sulit dijelaskan kepada orang lain.
Seorang lajang mungkin tetap makan bersama keluarga, bepergian dengan teman, atau memiliki kehidupan sosial yang cukup aktif.
Namun, ketika pulang ke rumah, tidak ada pasangan yang secara khusus menanyakan bagaimana harinya atau menjadi tempat berbagi cerita secara rutin.
YourTango juga menekankan bahwa seseorang dapat merasa kesepian meskipun tidak sedang sendirian secara fisik. Bahkan, memiliki pasangan pun tidak otomatis menghilangkan rasa kesepian.
Karena itu, rasa kesepian tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang gagal menjalani kehidupan lajang.
3. Lelah Harus Selalu Mengurus Semuanya Sendiri
Menjadi mandiri memang memiliki banyak sisi positif. Namun, ada kalanya kemandirian yang terus-menerus dijalani juga terasa melelahkan.
Ketika sakit, misalnya, seseorang harus mengurus kebutuhan dirinya sendiri. Ketika menghadapi masalah pekerjaan, ia harus mencari cara untuk menyelesaikannya.
Bahkan untuk berbagai keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada pasangan yang secara otomatis menjadi tempat berdiskusi.
YourTango mencatat bahwa orang yang lama melajang dapat merasa harus menanggung berbagai hal sendiri karena tidak memiliki pasangan sebagai tempat berbagi beban.
Namun, penting untuk membedakan antara menginginkan dukungan emosional dan tidak mampu mandiri.
Seseorang dapat sangat mandiri sekaligus tetap berharap memiliki orang yang bersedia membantunya ketika kehidupan sedang terasa berat.
4. Merasa Tertinggal dari Teman Sebaya
Perasaan lain yang dapat muncul adalah kesan bahwa kehidupan orang lain bergerak lebih cepat.
Teman-teman mungkin mulai menikah, memiliki anak, membeli rumah bersama pasangan, atau membangun keluarga. Sementara itu, seseorang yang masih lajang mungkin bertanya-tanya kapan gilirannya tiba.
Media sosial dapat memperkuat perasaan tersebut. Setiap hari seseorang melihat foto pertunangan, pernikahan, liburan bersama pasangan, hingga perayaan ulang tahun romantis.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Setiap individu memiliki timeline kehidupan yang berbeda.
Karena itu, membandingkan perjalanan pribadi dengan pencapaian romantis orang lain dapat membuat seseorang semakin merasa tertinggal, padahal belum tentu ada yang benar-benar terlambat.
5. Takut Tidak Akan Menemukan Pasangan
Semakin lama seseorang melajang, pertanyaan seperti “Bagaimana kalau aku selamanya sendiri?” dapat mulai muncul.
Kekhawatiran tersebut bisa terasa semakin kuat setelah mengalami beberapa kegagalan dalam hubungan atau proses pendekatan.
Jika pengalaman negatif terjadi berulang kali, seseorang mungkin mulai menganggap bahwa masa depan percintaannya akan selalu sama.
YourTango juga membahas bagaimana keyakinan tertentu, seperti merasa tidak cukup baik, takut terluka, atau menganggap hubungan terlalu berisiko, dapat membuat seseorang semakin sulit membuka diri terhadap kemungkinan hubungan baru.
Namun, ketakutan bukanlah ramalan masa depan. Belum menemukan pasangan hari ini tidak berarti seseorang tidak akan menemukan hubungan yang sesuai di kemudian hari.
6. Merasa Lelah dengan Dunia Percintaan
Ada titik ketika seseorang merasa “sudah malas mencari”.
Aplikasi kencan, percakapan yang tidak berlanjut, hubungan yang tidak jelas, penolakan, atau pengalaman dengan orang yang tidak sesuai harapan dapat membuat proses mencari pasangan terasa melelahkan.
Dalam kondisi tersebut, seseorang mungkin memilih berhenti berkencan untuk sementara. Keputusan ini sebenarnya tidak selalu buruk.
Beristirahat dari dunia percintaan dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kebutuhan, batas pribadi, dan jenis hubungan yang benar-benar diinginkan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa lelah berubah menjadi keyakinan bahwa semua hubungan pasti gagal.
Sikap terlalu sinis terhadap cinta dapat membuat seseorang menutup diri terhadap pengalaman baru.
YourTango juga menyoroti bahwa sikap sinis dan pola pikir tertentu dapat menjadi penghalang dalam kehidupan percintaan.
7. Merasa Harus Berpura-pura Tidak Membutuhkan Pasangan
Tidak semua orang yang merasa kesepian berani mengakuinya.
Ada yang justru mengatakan, “Aku sebenarnya tidak butuh pasangan,” meskipun jauh di dalam dirinya tetap menginginkan hubungan romantis.
Sikap tersebut terkadang muncul karena seseorang takut dianggap desperate atau khawatir mendapatkan penilaian dari orang lain.
Padahal, menginginkan pasangan bukanlah sesuatu yang memalukan.
YourTango mencatat bahwa sebagian orang yang merasa tidak aman ketika lajang justru membuat seolah-olah mereka tidak menginginkan hubungan, meskipun sebenarnya berharap menemukan pasangan.
Mengakui keinginan untuk dicintai tidak berarti kehilangan kemandirian. Seseorang tetap dapat menikmati kehidupan sendiri sekaligus berharap suatu hari memiliki pasangan.
Jadi, Benarkah Jomblo Kronis Selalu Merasa Putus Asa?
Belum tentu. Menjadi lajang dalam waktu lama tidak otomatis membuat seseorang putus asa, tidak bahagia, atau memiliki masalah dalam kehidupan percintaan.
Ada orang yang justru menikmati masa lajang dan merasa kehidupan mereka sudah lengkap dengan keluarga, teman, pekerjaan, hobi, dan tujuan pribadi.
Di sisi lain, ada pula orang yang sebenarnya bahagia menjalani kehidupan sendiri tetapi sesekali tetap merasa kesepian atau berharap memiliki pasangan.
Keduanya dapat terjadi secara bersamaan.
Seseorang bisa mencintai kebebasan sekaligus ingin memiliki pasangan. Bisa menikmati makan sendirian tetapi berharap suatu hari ada seseorang yang menemaninya. Bisa sangat mandiri tetapi tetap membutuhkan dukungan emosional.
Karena itu, istilah “jomblo kronis” sebaiknya tidak digunakan untuk memberikan label negatif kepada seseorang.
Pada akhirnya, status hubungan bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang membangun kehidupan yang bermakna, menjaga hubungan dengan orang-orang yang dicintai, mengenali kebutuhannya sendiri, dan tetap terbuka terhadap kemungkinan baru.
Lajang bukan berarti kesepian, sebagaimana memiliki pasangan juga tidak selalu berarti bahagia. Setiap orang memiliki perjalanan emosional yang berbeda, dan tidak ada batas waktu universal mengenai kapan seseorang “seharusnya” menemukan cinta.
***