Menariknya, keinginan tersebut tidak selalu semata-mata berkaitan dengan faktor biologis. Dalam psikologi, keputusan seseorang untuk memiliki banyak anak dapat dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman masa kecil, nilai keluarga, kebutuhan emosional, lingkungan sosial, hingga cara seseorang memandang identitas dirinya.
Tentu saja, tidak ada satu alasan yang berlaku untuk semua pria. Dua pria yang sama-sama menginginkan banyak anak bisa memiliki motivasi yang sangat berbeda. Ada yang memang menyukai kehidupan keluarga besar, ada yang ingin meneruskan nilai keluarganya, dan ada pula yang secara tidak sadar sedang mencari pengalaman emosional yang tidak mereka dapatkan ketika kecil.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (24/8), terdapat tujuh alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian pria menginginkan begitu banyak anak.
1. Mereka Memiliki Gambaran Ideal tentang Keluarga Besar
Salah satu alasan paling sederhana adalah karena sebagian pria memang memiliki gambaran mental bahwa keluarga ideal adalah keluarga yang besar.
Sejak kecil, seseorang dapat membentuk "cetak biru" mengenai seperti apa kehidupan keluarga yang dianggap normal atau bahagia. Gambaran tersebut bisa berasal dari pengalaman pribadi, keluarga besar, lingkungan sekitar, maupun budaya tempat ia dibesarkan.
Seorang pria yang tumbuh dalam keluarga dengan banyak saudara, misalnya, mungkin menganggap rumah yang ramai sebagai sesuatu yang menyenangkan. Suara anak-anak bermain, makan bersama, saling membantu, dan berkumpul dengan banyak anggota keluarga dapat menjadi bagian dari definisi kebahagiaan baginya.
Ketika dewasa, ia mungkin ingin menciptakan kembali suasana tersebut dalam keluarganya sendiri.
Sebaliknya, pria yang tumbuh sebagai anak tunggal juga bisa menginginkan banyak anak karena memiliki pengalaman yang berbeda. Ia mungkin membayangkan bahwa memiliki banyak saudara akan menciptakan hubungan yang hangat dan dekat, sehingga ingin memberikan pengalaman tersebut kepada anak-anaknya.
Dengan kata lain, keinginan memiliki banyak anak terkadang bukan sekadar keputusan rasional mengenai jumlah anggota keluarga. Itu bisa menjadi bagian dari gambaran seseorang tentang "keluarga yang bahagia".
2. Mereka Menikmati Peran sebagai Ayah
Ada pria yang menemukan bagian penting dari identitas dirinya setelah menjadi ayah.
Menjadi ayah dapat memberikan pengalaman psikologis yang kuat: merasa dibutuhkan, bertanggung jawab, memiliki tujuan, serta memiliki kesempatan untuk membimbing seseorang sampai dewasa.
Bagi sebagian pria, pengalaman tersebut terasa sangat bermakna. Mereka menikmati aktivitas sederhana seperti bermain dengan anak, mengajarkan sesuatu, mendengarkan cerita anak, atau melihat perkembangan kepribadian anak dari waktu ke waktu.
Karena pengalaman menjadi ayah dianggap menyenangkan dan bermakna, keinginan untuk memiliki anak lagi dapat muncul secara alami.
Dalam konteks ini, keinginan memiliki banyak anak bukan selalu berarti seseorang sekadar "ingin memperbanyak keturunan". Bisa jadi ia benar-benar menikmati hubungan interpersonal yang muncul dari peran sebagai ayah.
Ada perbedaan penting antara "ingin memiliki banyak anak" dan "ingin menikmati pengalaman menjadi orang tua berkali-kali". Keduanya dapat terlihat sama dari luar, tetapi motivasi psikologisnya berbeda.
3. Memiliki Dorongan untuk Membangun Legacy
Sebagian pria memiliki kebutuhan yang kuat untuk meninggalkan sesuatu setelah mereka tidak lagi ada. Dalam psikologi, hal ini dapat dikaitkan dengan gagasan tentang generativitas: keinginan untuk membimbing generasi berikutnya dan memberikan sesuatu yang dapat diteruskan.
Anak dapat menjadi salah satu bentuk legacy yang paling personal.
Seorang pria mungkin berpikir:
"Nilai-nilai saya akan terus hidup melalui anak-anak saya."
Atau:
"Saya ingin anak-anak saya melanjutkan apa yang sudah saya bangun."
Keinginan semacam ini tidak selalu berarti ambisi untuk memiliki keturunan sebanyak mungkin. Namun pada sebagian orang, gagasan tentang keluarga besar dapat terasa seperti simbol keberlanjutan hidup.
Anak-anak dipandang bukan hanya sebagai individu yang harus dibesarkan, tetapi juga sebagai generasi penerus yang membawa nilai, cerita, tradisi, atau prinsip keluarga ke masa depan.
Hal ini dapat semakin kuat pada pria yang sangat menghargai nama keluarga, tradisi, pencapaian, atau kesinambungan antargenerasi.
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Ketika konsep "legacy" menjadi terlalu dominan, anak berisiko dipandang sebagai perpanjangan identitas orang tua. Padahal, anak tetap merupakan individu dengan keinginan, kepribadian, dan pilihan hidupnya sendiri.
4. Pengalaman Masa Kecil Mempengaruhi Keinginan Mereka
Pengalaman masa kecil dapat memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana seseorang membayangkan kehidupan keluarganya ketika dewasa.
Seorang pria yang memiliki masa kecil yang bahagia mungkin ingin menciptakan kembali suasana tersebut. Ia mengingat masa bermain bersama saudara, makan malam bersama keluarga, atau liburan dengan orang tua sebagai pengalaman berharga.
Ketika dewasa, ia mungkin berpikir bahwa keluarga besar adalah salah satu sumber kebahagiaan yang ingin ia bangun kembali.
Tetapi mekanismenya juga dapat berjalan sebaliknya.
Pria yang mengalami masa kecil yang kesepian atau kurang mendapatkan kedekatan keluarga mungkin memiliki keinginan kuat untuk menciptakan keluarga yang berbeda. Ia ingin rumah yang penuh interaksi, perhatian, dan hubungan emosional.
Dalam kasus tertentu, keinginan memiliki banyak anak dapat menjadi bagian dari upaya psikologis untuk "memperbaiki" pengalaman masa lalu.
Namun, hal ini tidak selalu terjadi secara sadar. Seseorang mungkin hanya merasa bahwa keluarga besar adalah sesuatu yang sangat ia inginkan tanpa benar-benar menyadari dari mana keinginan tersebut berasal.
Karena itu, memahami sejarah keluarga sendiri dapat membantu seseorang memahami alasan di balik keinginannya memiliki banyak anak.
5. Nilai Budaya dan Keluarga Memengaruhi Cara Mereka Melihat Jumlah Anak
Keinginan memiliki banyak anak juga tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial.
Manusia membentuk banyak keyakinan melalui proses belajar sosial. Sejak kecil, seseorang melihat bagaimana keluarga di sekitarnya menjalani kehidupan, bagaimana orang tua berbicara tentang anak, dan apa yang dianggap sebagai keluarga ideal.
Jika seorang pria tumbuh dalam lingkungan yang menganggap keluarga besar sebagai sesuatu yang positif, ia mungkin lebih mudah menerima gagasan tersebut.
Dalam beberapa lingkungan, memiliki banyak anak bahkan dapat dikaitkan dengan keberhasilan, kebahagiaan, kehormatan keluarga, atau hubungan sosial yang kuat.
Tekanan sosial juga dapat berperan.
Seorang pria mungkin mendengar komentar seperti, "Anak baru satu, tambah lagi," atau "Keluarga besar lebih ramai." Jika komentar seperti ini terus-menerus muncul, gagasan tersebut dapat menjadi bagian dari norma yang ia internalisasi.
Namun, penting membedakan antara keinginan pribadi dan ekspektasi sosial.
Seseorang mungkin mengatakan ingin memiliki banyak anak karena memang menginginkannya. Tetapi orang lain mungkin menginginkan jumlah anak tertentu karena merasa itulah yang "seharusnya" dilakukan.
Keduanya dapat terlihat serupa, tetapi memiliki sumber motivasi yang berbeda.
6. Mereka Mencari Makna dan Tujuan dalam Kehidupan
Menjadi orang tua dapat memberikan rasa tujuan yang kuat.
Bagi sebagian pria, kehidupan terasa lebih bermakna ketika mereka memiliki seseorang yang harus dirawat, dilindungi, dan dibimbing.
Anak membuat seseorang memiliki tanggung jawab jangka panjang. Ada tujuan konkret yang harus dicapai: memastikan anak tumbuh dengan baik, mendapatkan pendidikan, memiliki karakter yang kuat, dan mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
Bagi pria yang sangat berorientasi pada tanggung jawab, peran tersebut dapat memberikan kepuasan psikologis yang besar.
Mereka mungkin merasa:
"Saya ingin membangun sesuatu yang lebih besar daripada diri saya sendiri."
Keluarga kemudian menjadi salah satu sumber makna kehidupan.
Dalam kondisi tertentu, semakin besar keluarga yang ingin dibangun, semakin besar pula rasa tujuan yang dirasakan seseorang. Namun, ini tidak berarti bahwa orang yang memiliki sedikit anak memiliki kehidupan yang kurang bermakna.
Makna hidup tidak ditentukan oleh jumlah anak. Yang berbeda adalah sumber makna yang dipilih setiap individu.
Bagi seseorang, makna mungkin datang dari keluarga. Bagi orang lain, dari pekerjaan, kreativitas, hubungan sosial, kontribusi kepada masyarakat, atau berbagai kombinasi dari semuanya.
7. Mereka Memiliki Dorongan untuk Memberi dan Merawat
Ada pula pria yang menikmati posisi sebagai orang yang memberikan perlindungan, perhatian, dan dukungan kepada orang lain.
Keinginan untuk merawat merupakan bagian penting dari hubungan orang tua dan anak. Ketika seseorang menikmati peran tersebut, memiliki anak tambahan bisa terasa seperti kesempatan untuk memperluas pengalaman memberikan kasih sayang dan bimbingan.
Ini berbeda dengan sekadar mencari status sebagai "ayah dengan banyak anak".
Fokusnya berada pada hubungan.
Seorang pria mungkin merasa sangat puas ketika dapat membantu anaknya belajar naik sepeda, mengajarkan keterampilan tertentu, mendengarkan masalah mereka, atau melihat mereka berkembang menjadi individu yang mandiri.
Pada pria dengan orientasi pengasuhan yang kuat, pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu bagian paling memuaskan dalam kehidupan.
Namun, keinginan merawat juga perlu diimbangi dengan kesadaran realistis mengenai tanggung jawab. Memiliki banyak anak berarti bukan hanya memiliki lebih banyak momen bahagia, tetapi juga membutuhkan lebih banyak waktu, energi, perhatian, sumber daya finansial, dan keterlibatan emosional.
Bukan Berarti Semua Pria yang Ingin Banyak Anak Memiliki Alasan yang Sama
Tujuh alasan di atas sebaiknya tidak dianggap sebagai diagnosis psikologis.
Keinginan memiliki banyak anak merupakan hasil interaksi berbagai faktor. Kepribadian, pengalaman masa kecil, hubungan dengan pasangan, kondisi ekonomi, nilai keluarga, budaya, dan tujuan hidup dapat semuanya berperan.
Bahkan, seseorang bisa memiliki beberapa alasan sekaligus.
Seorang pria mungkin menyukai keluarga besar karena tumbuh dalam keluarga besar, menikmati peran sebagai ayah, ingin meneruskan nilai keluarga, sekaligus merasa bahwa menjadi orang tua memberikan makna dalam hidupnya.
Sebaliknya, pria lain mungkin menginginkan banyak anak terutama karena tekanan dari lingkungan atau karena memiliki gambaran tertentu mengenai keberhasilan hidup.
Karena itu, jumlah anak tidak dapat digunakan sebagai indikator sederhana mengenai kepribadian seseorang.
Kapan Keinginan Memiliki Banyak Anak Perlu Dipertanyakan?
Keinginan memiliki banyak anak pada dasarnya bukan sesuatu yang bermasalah. Yang lebih penting adalah alasan dan cara keinginan tersebut diwujudkan.
Pertanyaan yang lebih sehat bukan hanya:
"Berapa banyak anak yang saya inginkan?"
Tetapi juga:
"Mengapa saya menginginkan sebanyak itu?"
"Apakah pasangan saya menginginkan hal yang sama?"
"Apakah kami memiliki kemampuan untuk memberikan perhatian yang cukup?"
"Apakah keputusan ini berasal dari keinginan pribadi atau tekanan sosial?"
"Apakah saya menginginkan anak sebagai individu, atau sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan emosional saya sendiri?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang melihat keputusan memiliki anak secara lebih matang.
Keinginan membangun keluarga besar dapat menjadi pilihan yang sangat positif apabila dibangun atas dasar kesepakatan, kesiapan, dan kemampuan memberikan pengasuhan yang baik.
Kesimpulan
Mengapa sebagian pria menginginkan begitu banyak anak? Jawabannya tidak sesederhana "karena naluri biologis".
Dari perspektif psikologi, keinginan tersebut dapat berkaitan dengan gambaran ideal tentang keluarga, kenikmatan menjalankan peran sebagai ayah, kebutuhan akan generativitas dan legacy, pengalaman masa kecil, pengaruh budaya, pencarian makna hidup, serta dorongan untuk merawat dan memberi kasih sayang.
Yang menarik, keinginan memiliki banyak anak sering kali berbicara bukan hanya tentang anak, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan kehidupan yang ingin ia bangun.
Bagi sebagian pria, keluarga besar merupakan gambaran kebahagiaan. Bagi yang lain, menjadi ayah memberikan rasa tujuan dan identitas. Ada pula yang melihat anak sebagai bagian dari kesinambungan nilai dan kehidupan keluarga.
Pada akhirnya, tidak ada jumlah anak yang secara psikologis otomatis lebih baik daripada jumlah lainnya. Yang jauh lebih penting adalah apakah keputusan tersebut lahir dari keinginan yang matang, disepakati bersama pasangan, serta diikuti kemampuan untuk memberikan perhatian, kasih sayang, dan pengasuhan yang dibutuhkan setiap anak.