← Beranda
Sego Berkat Mbah Pawiro Ranti, Kuliner Legendaris Gunungkidul yang Menyimpan Cita Rasa dan Kehangatan Kampung Halaman
Zulfa Putri HardiyatiKamis, 6 November 2025 | 14.40 WIB
Sego Berkat Mbah Pawiro Ranti, Kuliner Legendaris Gunungkidul yang Menyimpan Cita Rasa dan Kehangatan Kampung Halaman (YouTube Kendria Cahaya Gantari)

JawaPos.com - Di balik aroma pawon tradisional dan asap kayu bakar yang membumbung di pagi hari, ada kisah kuliner yang hidup dan dijaga turun-temurun di tanah Gunungkidul.

Sebuah warung sederhana milik Mbah Pawiro Ranti di Jalan Pramuka No.41, Pandansari, Wonosari, Yogyakarta, menjadi saksi perjalanan rasa yang tak lekang oleh waktu, yakni Sego Berkat, sajian khas Jawa yang sarat makna dan kenangan.

Menurut tayangan kanal YouTube Kendria Cahaya Gantari, warung ini menjadi magnet bagi banyak orang yang rindu masakan rumahan dan suasana kampung halaman.

 Dari pelanggan setia warga sekitar hingga pembeli dari luar kota, semua datang dengan tujuan yang sama: mencicipi kehangatan “berkat” buatan Mbah Pawiro Ranti.

Tradisi Rasa dari Pawon Lawas

Memasuki dapur Mbah Pawiro Ranti, aroma bumbu tradisional langsung menyeruak. Semua masih diolah secara manual, tanpa bantuan blender atau mesin.

“Blender itu rasanya kurang mantap,” ujar sang ibu sambil menumbuk bumbu oseng dengan cobek batu.

Setiap bahan diperlakukan dengan telaten. Nasi yang sudah  matang dibiarkan dingin terlebih dahulu agar tidak mudah basi, lalu dibungkus menggunakan daun jati dan daun pisang—simbol kesederhanaan sekaligus penghormatan terhadap tradisi.

Berasnya pun dipilih khusus. Dimasak dengan dandang lawas di atas pawon kayu, menghasilkan nasi pulen dengan aroma khas yang tidak bisa digantikan.

“Semua masih alami, supaya rasanya seperti dulu,” tutur sang pemilik.

Lauk Lengkap, Harga Bersahabat

Satu porsi Sego Berkat disajikan lengkap dengan lauk-pauk rumahan. Ada ayam bacem, telur, empal sapi, babat, iso, paru, tempe oseng, bihun, hingga serundeng manis gurih.

Setiap pembeli bisa memilih lauk sesuai selera, dengan harga mulai dari Rp8.000 hingga Rp20.000, tergantung kombinasi lauk yang diambil.

Yang membuatnya istimewa, semua lauk dimasak dengan bumbu bacem khas Jawa yang manis-gurih dan meresap sempurna.

Tak heran, makanan ini bukan sekadar hidangan, tapi juga pengalaman rasa yang membawa nostalgia masa kecil di desa.

Dari Dapur Tradisional ke Meja Dunia

Tak hanya menjual nasi berkat, warung Mbah Pawiro Ranti juga memproduksi abon sapi, marning, kacang bawang, dan kerupuk tradisional yang sudah dibuat sejak sebelum tahun 1940.

Resepnya diwariskan turun-temurun hingga kini menjadi generasi keempat.
Menariknya, beberapa pelanggan bahkan memesan hingga ke luar negeri. “Pernah ada yang kirim sampai ke Belanda,” ujar sang ibu dengan bangga.

Makanan-makanan tradisional seperti apem, lemet, dan getuk juga tersedia dan bisa tahan hingga dua hari.

Hangatnya Sarapan di Warung Mbah Pawiro Ranti

Suasana pagi di warung ini begitu akrab. Para pelanggan datang silih berganti, sebagian memilih makan di tempat, sebagian lagi membawa pulang untuk keluarga di rumah. Nasi dibungkus daun jati yang masih hangat, menebar aroma khas yang menggugah selera.

Bagi yang sarapan di tempat, makanan disajikan di wadah anyaman rotan beralaskan daun, menambah kesan tradisional yang memikat.

Rasanya pun sebanding dengan popularitasnya. Gurihnya empal, lembutnya ayam bacem, pedasnya cabai, dan wangi daun jati berpadu sempurna, menghadirkan sensasi makan yang sederhana tapi membahagiakan.

Cita Rasa yang Menyentuh Hati

Warung Sego Berkat Mbah Pawiro Ranti bukan sekadar tempat makan — ia adalah ruang nostalgia. Setiap suapan membawa pulang kenangan tentang rumah, keluarga, dan kehangatan desa yang mungkin sudah lama kita tinggalkan.

Bagi siapa pun yang singgah ke Gunungkidul, warung ini menjadi destinasi wajib untuk merasakan cita rasa tradisi yang masih dijaga sepenuh hati oleh Mbah Pawiro Ranti dan keluarganya.

Lokasi: Jl. Pramuka No.41, Pandansari, Kec. Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55851

EDITOR: Hanny Suwindari