← Beranda
Diabetes dan Hipertensi Sebabkan Penyakit Ginjal Kronis, Tahap Awal Tidak Timbulkan Keluhan Khas
Nurul Adriyana SalbiahRabu, 2 September 2026 | 06.57 WIB
Ilustrasi gagal ginjal. (Antara)

JawaPos.com – Diabetes dan hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi dua penyebab penyakit ginjal kronis, yang pada tahap awal tidak menunjukkan keluhan yang khas. 

Dipaparkan dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, gula darah yang tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal. Sedangkan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah di ginjal.

Tapi, kerusakan ginjal ini tidak datang secara tiba-tiba. Tapi berlangsung perlahan. Diungkapkan dr. Mutalib, banyak pasien datang merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas.

Baca Juga: Mees Hilgers Segera Tinggalkan FC Twente dan Siap Bergabung Bersama SC Heerenveen

Sehingga, meminum minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Tapi bisa beresiko jika mengosumsi dalam jumlah berlebih. 

“Ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujar dr. Mutalib, baru-baru ini.

Disamping itu, pola makan tinggi garam, kurang bergerak, merokok, berat badan tidak terkontrol, serta penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan juga perlu diperhatikan. Penyakit ginjal juga dapat disebabkan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.

Faktor Risiko Harus Lebih Waspada

Pengecekan fungsi ginjal penting dilakukan untuk mengetahui kondisi sejak dini. Terutama karena penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. 

“Karena itu, orang dengan faktor risiko sebaiknya tidak menunggu keluhan muncul untuk memeriksakan ginjal,” ujar dr. Mutalib.

Tapi, dikatakan dr. Mutalib, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan. Perubahan frekuensi atau jumlah urine, Urine berbusa secara menetap, pembengkakan pada kaki, mudah lelah, mual, penurunan nafsu makan, dan tekanan darah yang sulit dikontrol.

“Jika mengalami beberapa tanda tersebut, terutama secara menetap atau disertai faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi, sebaiknya lakukan pemeriksaan fungsi ginjal,” sambungnya.

Umumnya, fungsi ginjal dapat dievaluasi melalui pemeriksaan darah untuk melihat kadar kreatinin dan memperkirakan eGFR, serta pemeriksaan urine untuk mendeteksi albumin atau protein. Tekanan darah dan gula darah juga perlu diperiksa karena hipertensi dan diabetes merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronis.

“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga. Sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” jelas dr. Mutalib.

Tidak Otomatis Cuci Darah

Penyakit ginjal bukan hanya masalah usia lanjut. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan penyakit ginjal kronis sudah ditemukan pada usia 15–24 tahun sebesar 0,02 persen, 25–34 tahun 0,07 persen, dan 35–44 tahun 0,11 persen. Data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan juga mencatat 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis sepanjang 2024.

Penyakit ginjal tidak otomatis berarti harus cuci darah. Namun, bila fungsi ginjal sudah sangat menurun dan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara memadai, terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis dapat diperlukan.

Sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan yang berkesinambungan, Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan Urology & Nephrology Clinic, layanan terpadu untuk menangani berbagai gangguan ginjal, saluran kemih, dan prostat. Klinik ini mendukung proses pelayanan mulai dari konsultasi, deteksi dini, pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis, terapi medis, tindakan minimal invasif, hingga hemodialisis sesuai kondisi pasien.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah