JawaPos.com – Mayoritas infeksi nyamuk demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi pada pagi dan sore hari mesti jadi pengingat untuk orang tua tidak hanya menyiapkan perlengkapan sekolah saat tahun ajaran baru dimulai, tetapi juga memastikan anak terlindungi dari demam berdarah dengue (DBD).
Dokter sekaligus kreator konten, dr. Ikhsanuddin Qothi mengatakan bahwa risiko gigitan nyamuk DBD dapat mengikuti anak selama beraktivitas di berbagai tempat, termasuk sekolah. Sehingga, upaya perlindungan tidak cukup dilakukan di rumah.
"Nyamuk Aedes aegypti aktif terutama pada pagi dan sore hari. Ini berarti risiko gigitan dapat mengikuti anak selama beraktivitas, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar," ujar dr. Ikhsan, Jumat (31/7).
Baca Juga: Ramalan Zodiak Virgo 31 Juli 2026: Mulai dari Cinta, Karier, Kesehatan, dan Keuangan
Ia menjelaskan, masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya mengintai saat musim hujan. Padahal, penyakit tersebut dapat terjadi sepanjang tahun karena tempat penampungan air yang tidak dibersihkan tetap bisa menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.
"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat," katanya.
Menurut dr. Ikhsan, risiko penularan juga sering kali tidak disadari. Studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45 persen anggota rumah tangga pasien DBD juga terinfeksi, sementara hampir tiga perempat kasus yang terdeteksi tidak menunjukkan gejala.
Karena itu, saat anak kembali ke sekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, pencegahan harus dilakukan secara konsisten baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Sekolah diharapkan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk, memantau jentik, serta menerapkan gerakan 3M Plus.
Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibanding kelompok usia lainnya. Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41 persen berasal dari kelompok usia 5–14 tahun.
dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa anak yang pernah terinfeksi DBD belum tentu kebal terhadap seluruh jenis virus dengue. Seseorang yang pernah terinfeksi satu serotipe masih dapat tertular serotipe lainnya dan berisiko mengalami dengue berat.
"Hingga saat ini belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue. Deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat berperan penting dalam menurunkan risiko dengue berat," tegasnya.
Ia meminta orang tua tidak lengah ketika demam anak mulai turun. Pada sebagian pasien, tanda bahaya justru dapat muncul setelah demam mereda, seperti muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan, tubuh sangat lemas, hingga penurunan kesadaran. Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera.
Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga dapat mengganggu proses belajar anak. Anak yang sakit harus absen dari sekolah dan berpotensi tertinggal pelajaran. Bahkan setelah dinyatakan sembuh, sebagian pasien masih merasakan kelelahan selama beberapa pekan.
Dampaknya juga dirasakan keluarga. Studi Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp 9 triliun, termasuk biaya pengobatan, transportasi, hingga kehilangan pendapatan karena orang tua harus mendampingi anak selama menjalani perawatan.
Untuk mencegah DBD, dr. Ikhsan menekankan pentingnya menerapkan 3M Plus secara konsisten, yakni menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk. Ia menambahkan, vaksinasi dengue juga dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan yang komprehensif sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menilai perlindungan anak dari DBD membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.
"Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030, Takeda berkomitmen terus mendukung upaya pemerintah dan masyarakat melalui edukasi serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia," pungkasnya.