← Beranda
Longevity 5.0 Hadir di Indonesia, Teknologi AI Dorong Layanan Kesehatan Beralih dari Kuratif ke Preventif
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 25 Juni 2026 | 15.06 WIB
Indonesia kini mulai memasuki era baru layanan kesehatan preventif melalui kehadiran Longevity 5.0, sebuah pendekatan kesehatan jangka panjang yang menggabungkan AI. (Istimewa)

JawaPos.com – Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hidup sehat terus meningkat. Namun, tantangan terbesar bukan lagi soal pengetahuan, melainkan konsistensi menerapkan gaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, layanan kesehatan pun mulai mengalami transformasi besar. Pendekatan yang selama ini berfokus pada pengobatan (kuratif) kini bergeser menuju pencegahan (preventif) dengan dukungan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Aktor Samuel Rizal menilai pendekatan preventif menjadi kunci untuk menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.

"Preventif itu penting karena gaya hidup memang harus dijaga. Sekarang teknologi makin canggih, banyak orang sudah tahu soal fitness dan healthy lifestyle, tapi tidak semua benar-benar menjalankannya. Tahu, tetapi belum tentu melakukan," ujar Samuel di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Pandangan tersebut sejalan dengan tren global di sektor kesehatan yang semakin menitikberatkan pada pencegahan penyakit, peningkatan kualitas hidup, serta pengelolaan kesehatan jangka panjang melalui pemanfaatan teknologi.

Indonesia kini mulai memasuki era baru layanan kesehatan preventif melalui kehadiran Longevity 5.0, sebuah pendekatan kesehatan jangka panjang yang menggabungkan AI, cloud computing, serta precision medicine untuk membantu masyarakat hidup lebih sehat, lebih lama, dan tetap produktif.

Konsep tersebut diperkenalkan oleh Zeroage.life, divisi longevity dari Borderless Healthcare Group (BHG), melalui dua platform berbasis gender, yakni SheSpan.life untuk perempuan dan Longevity.men bagi pria.

Mengutamakan Pencegahan Sejak Dini

Berbeda dengan layanan kesehatan konvensional yang umumnya baru dilakukan setelah seseorang jatuh sakit, Longevity 5.0 menempatkan pencegahan dan optimalisasi kesehatan sebagai prioritas utama.

Pendiri sekaligus Chairman BHG, Dr. Wei Siang Yu, mengatakan konsep longevity bukan sekadar memperpanjang usia, melainkan menjaga kualitas hidup secara menyeluruh.

"Longevity bukan hanya tentang hidup lebih lama, tetapi bagaimana seseorang tetap sehat secara fisik, mental, hormonal, dan sosial di setiap fase kehidupannya," ujarnya.

Selama ini, layanan longevity umumnya masih berpusat di klinik melalui pemeriksaan kesehatan, terapi hormon, pemberian suplemen, maupun infus vitamin. Namun, Longevity 5.0 menghadirkan pendekatan yang lebih personal, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Melalui konsep Continuum of Longevity Experiences (CLE), layanan kesehatan tidak lagi terbatas di rumah sakit atau klinik, tetapi terhubung mulai dari fasilitas kesehatan, resor kesehatan, hingga rumah pasien.

Model tersebut memungkinkan pasien di Indonesia memperoleh rekomendasi terapi yang lebih komprehensif karena dokter lokal dapat berkolaborasi dengan jaringan pakar longevity internasional melalui sistem cloud terintegrasi.

AI Analisis Biomarker hingga Profil Hormon

Chief Development Officer Zeroage.life, Dr. Yvonne Wong, menjelaskan bahwa kecerdasan buatan menjadi fondasi utama Longevity 5.0.

Teknologi AI mampu menganalisis berbagai data kesehatan yang kompleks, mulai dari biomarker, mikrobioma, epigenetik, hingga profil hormonal untuk menghasilkan rekomendasi kesehatan yang lebih akurat dan bersifat personal.

"Kami berada di persimpangan antara preventive care dan curative care. Dengan Longevity 5.0, intervensi kesehatan dapat dilakukan lebih awal, bahkan sebelum gejala penyakit muncul," katanya.

Pendekatan tersebut dinilai relevan karena kebutuhan biologis pria dan perempuan berbeda di setiap fase kehidupan.

Untuk perempuan, platform SheSpan.life menghadirkan layanan berdasarkan empat fase utama, yakni menstruasi, kehamilan, menopause, dan pascamenopause yang masing-masing memiliki perubahan hormonal dan kebutuhan kesehatan berbeda.

Sementara itu, Longevity.men difokuskan pada peningkatan vitalitas pria, kesehatan hormonal, kebugaran, hingga kesehatan seksual.

Menurut Dr. Yvonne, optimalisasi kesehatan pria seharusnya dilakukan secara proaktif, bukan ketika fungsi tubuh mulai mengalami penurunan.

"Vitalitas pria perlu dioptimalkan secara proaktif sepanjang hidup, bukan menunggu saat kondisi sudah menurun," ujarnya.

Berpeluang Dorong Indonesia Jadi Destinasi Wellness

Selain menghadirkan layanan bagi masyarakat, BHG juga membuka peluang transformasi bagi rumah sakit, klinik, dan tenaga kesehatan di Indonesia untuk mengembangkan layanan berbasis longevity.

Konsep tersebut bahkan mulai merambah sektor wellness dan pariwisata. Sejumlah resor di Indonesia direncanakan bertransformasi menjadi resor longevity yang menawarkan program kesehatan berbasis gender dengan protokol personal dari pakar lokal maupun internasional.

Langkah ini dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi wellness di Asia Tenggara.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan pasar layanan kesehatan yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang menjadi pusat pertumbuhan layanan longevity di kawasan.

Hadirnya Longevity 5.0 menunjukkan bahwa masa depan layanan kesehatan tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi pada pengelolaan kesehatan secara menyeluruh. Di era baru ini, kesehatan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang perlu dijaga setiap hari agar masyarakat dapat hidup lebih sehat, produktif, dan berkualitas.

EDITOR: Edy Pramana