← Beranda
Viral Influencer Facebook Bilang HIV Tidak Ada, Dokter Tegaskan Hoaks dan Menyesatkan
Tazkia Royyan HikmatiarJumat, 17 April 2026 | 23.47 WIB
Unggahan influencer Facebook yang mengeklaim virus HIV tidak ada (X Adam Prabata)

JawaPos.com - Sebuah unggahan dari seorang influencer di Facebook viral setelah menyebut bahwa virus HIV tidak ada.

Pernyataan tersebut langsung menuai reaksi keras dari tenaga medis karena dinilai menyesatkan dan berpotensi membahayakan masyarakat, terutama orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Dalam tangkapan layar yang beredar, terlihat influencer itu mengeklaim peserta yang mengikuti webinarnya mulai “paham” bahwa HIV tidak ada.

Lebih mengkhawatirkan lagi, di kolom komentar muncul pengakuan seseorang yang menghentikan konsumsi obat antiretroviral (ARV) setelah terpengaruh informasi tersebut.

Baca Juga: Tren Gaya Hidup Sehat Meningkat, Dokter Spesialis Ingatkan Nyeri Otot yang Wajar dan Tidak Wajar

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, menegaskan bahwa klaim tersebut adalah hoaks yang sangat berbahaya.

Ia menyebut penyebaran informasi keliru seperti ini dapat membuat pasien menghentikan pengobatan yang seharusnya dijalani secara rutin.

“Yang paling dikhawatirkan dari narasi seperti ini adalah orang lain yang terpengaruh dan menjadi destruktif untuk dirinya sendiri,” tulis dr. Adam Prabata melalui akun X, dikutip Jumat (17/4).

Ia juga menyoroti adanya komentar warganet yang mengaku berhenti minum ARV.

Menurut dia, tindakan tersebut bisa berdampak serius terhadap kondisi kesehatan pasien karena terapi ARV berfungsi menekan jumlah virus dalam tubuh agar tetap terkendali.

Baca Juga: Profesi Dokter Tirta dan Gia Pratama Jadi Banyak, Netizen Ngakak

“Stop ARV itu berbahaya. Bisa memperburuk kondisi, meningkatkan risiko penularan, bahkan mengancam nyawa,” tegasnya.

Adam mengingatkan bahwa HIV adalah virus yang telah terbukti secara ilmiah dan menjadi perhatian global selama puluhan tahun. 

Meski belum dapat disembuhkan sepenuhnya, pengobatan ARV terbukti efektif membuat pasien bisa hidup sehat dan produktif.

Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya literasi kesehatan di tengah derasnya arus informasi di media sosial.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada klaim yang tidak berbasis bukti ilmiah serta selalu merujuk pada sumber resmi dan tenaga medis profesional.

Baca Juga: Tak Wajib Dijemur, Ini Cara Aman Penuhi Vitamin D untuk Bayi Menurut Dokter Anak

Selain itu, dorongan juga muncul agar ada tindakan tegas terhadap penyebaran informasi kesehatan yang menyesatkan, mengingat dampaknya bisa langsung membahayakan keselamatan banyak orang.

JawaPos.com sudah menghubungi Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman dalam menanggapi banyaknya klaim sesat tentang HIV. Namun, yang bersangkutan belum merespons.

 

EDITOR: Bayu Putra