JawaPos.com - Perempuan dan laki-laki dibedakan dengan alat reproduksi mereka. Perempuan memiliki rahim untuk mengandung calon bayi, dan laki-laki memiliki penis untuk membuahi rahim.
Namun, ada beberapa orang yang mengalami gangguan pada organ reproduksi mereka. Beberapa gangguan ini dapat membuat penderitanya merasakan rasa nyeri hebat.
Kebanyakan perempuan yang memiliki uterus atau rahim,mengalami rasa nyeri pada saat menstruasi. Dalam skala tertentu, hal itu masih dapat dikatakan normal. Tapi, apabila perempuan mengalami rasa nyeri hebat, mungkin ada yang salah dengan rahimnya.
Baca Juga: Bayi Sering Gumoh dan Bikin Orang Tua Panik Ternyata Regurgitasi Bukan GERD, Ini Perbedaannya!
Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD)
Dilansir dari Alodokter, premenstrual dysphoric disorder (PMDD) adalah gangguan fisik dan emosi berat yang muncul menjelang menstruasi. Kondisi ini adalah bentuk dari premenstrual syndrome (PMS) yang jauh lebih parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kondisi ini dialami sekitar 3-5% perempuan sekitar 1-2 minggu sebelum haid tiba. Lalu akan mereda dalam beberapa hari setelah haid.
Karena kondisinya yang mirip PMS, penderita seringkali tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya didapatkan dan bahkan tidak dihiraukan oleh dokter.
Penyebab
Dilansir dari John Hopkins Medicine, penyebab pasti kondisi PMDD masih belum ditemukan. Dispekulasikan kondisi ini adalah akibat dari reaksi perubahan hormon karena kurangnya serotonin.
Serotonin adalah zat yang secara alami ditemukan di otak dan usus. Mereka dapat mempersempit pembuluh darah, mempengaruhi suasana hari, dan gejala-gejala fisik lain.
Dilansir dari International Association for Premenstrual Disorder, PMDD dapat mulai terasa pada fase ovulasi, periode dimana ovarium mengeluarkan sel telur. Fase ini terjadi pada dari ke 14 dalam siklus 28 hari.
Resiko seseorang dapat mengalami PMDD dapat meningkat apabila seseorang memiliki gangguan kecemasan, depresi, sejarah keluarga dengan kondisi yang sama, dan sejarah trauma atau kekerasan.
Gejala
Dilansir dari Cleveland Clinic, gejala-gejala yang dialami oleh setiap penderita PMDD dapat berbeda-beda. Mereka juga mengalami gejala PMS, tapi dengan gejala emosional lain, seperti:
-
Sifat agresif dan mudah marah
-
Kecemasan
-
Gangguan panik
-
Kesulitan untuk konsentrasi
-
Kelelahan
-
Mengidam makanan
-
Pusing atau sakit kepala
-
Insomnia
Diagnosa
Dokter dapat membantu penderita dengan memahami sejarah kesehatan dan mengevaluasi gejala-gejala yang dialami penderita.
Penderita mungkin dapat disuruh untuk mengukur atau mencatat gejala-gejala yang ia alami selama satu hingga dua haid terakhir.
Untuk mendiagnosa seseorang dengan PMDD, dokter akan mencari setidaknya lima atau lebih gejala yang sama dalam gejala PMDD umumnya.
Pengobatan
Dilansir dari Mayo Clinic, ada beberapa pengobatan yang dapat mengurangi gejala atau intensitas nyerinya.
-
Antidepresan
Ada beberapa obat antidepresan yang dapat membantu mengurangi gejala emosional, kelelahan, mengidam dan insomnia. Dokter dapat memberikan obat sesuai kebutuhan penderita.
-
Pil KB
Minum pil KB ditemukan dapat mengurangi gejala PMS dan PMDD pada sebagian penderita.
-
Suplemen nutrisi
Mengkonsumsi 1200 miligram kalsium per hari ditemukan dapat mengurangi gejala PMS dan PMDD. vitamin B6, magnesium dan L-trytophan juga dapat dianjurkan oleh dokter.
-
Herbal
Ada beberapa obat atau racikan herbal, seperti pohon chaste, yang dapat mengurangi gejala emosional dari PMDD, bahkan peradangan dan bengkak akibatnya.
-
Diet
Olahraga rutin ditemukan dapat mengurangi rasa nyeri akibat PMDD. Mengurangi konsumsi kafein, alkohol dan merokok juga dapat mengurangi gejala PMDD pula.