JawaPos.com – Kanker hati masih menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan kematian di Indonesia. Trennya pun terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Sehingga, deteksi dini, diagnosis, dan tata laksana yang tepat pun perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien.
Diungkapkan Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K), Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi dari RS Pondok Indah – Pondok Indah, dengan deteksi dini dan diagnosis yang presisi, pasien bisa terbebas dari kanker dalam jangka panjang. Bahkan resiko terjadinya penyebaran sel kanker (metastasis) jadi lebih kecil.
Dipaparkan dalam RS Pondok Indah Clinical Excellence Forum, penanganan kanker hati kini bisa dilakukan tanpa pembedahan menggunakan teknologi Microwave Ablation. Prof. Reno menerangkan, Microwave Ablation dilakukan dengan minim sayatan atau tanpa adanya pembedahan.
Nantinya, proses ini menggunakan jarum tipis yang dimasukkan langsung ke sel tumor ganas. Jarus tersebut akan mengantarkan gelombang mikro yang akan membakar sel ganas.
“Prosesnya pun cukup cepat sebenarnya hanya 5-7 menit, tapi tentunya perlu dilakukan dengan presisi. Nah, presisi ini yang biasanya memakan waktu cukup lama, bisa sejam,” papar Prof. Reno saat berbincang disela-sela RS Pondok Indah Clinical Excellence Forum yang mengusung tema ‘Precision, Progress, and Innovation in Gastroenterohepatology’.
Kendati demikian, ungkap Prof. Reno, tindakan ini tentu memakan waktu yang lebih singkat dari operasi biasa dan tidak meninggalkan trauma sayatan pada pasien.
Lalu, apakah Microwave Ablation bisa dilakukan untuk stadium lanjut?
Dikatakan Prof. Rino, ukuran sel kanker yang terlalu besar sejauh ini belum bisa ditangani dengan Microwave Ablation. Biasanya dilakukan pada stadium awal atau ukuran sel kanker tidak lebih dari 5 cm.
Deteksi Kanker Hati
Prof. Rino menyampaikan, hingga saat ini belum ada gejala yang pasti ketika seseorang kena kanker hati. Bahkan pada awal dari penyakit kanker hati tidak menimbulkan gejala.
Sehingga, yang perlu dilakukan adalah menakar diri. Maksudnya, ungkap Prof. Rino, seseorang yang memiliki potensi atau berisiko terkena kanker hati harus mengajukan diri untuk deteksi dini. Misalnya dalam keluarga ada yang pernah terken kanker hati, punya riwayat fatty liver, itu mesti lakukan deteksi dini.
Biasanya deteksi dini kanker hati dapat dilakukan menggunakan biomarker seperti PIVKA-II, visualisasi saluran empedu menjadi lebih detail dengan SpyGlass.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, kanker hati sebagai salah satu dari lima penyebab kematian akibat kanker terbanyak di Indonesia. Ironisnya, sebagian besar pasien kanker hati di Indonesia baru terdiagnosis dalam stadium lanjut, saat pilihan terapi sudah lebih terbatas.
Merespons kebutuhan tersebut, RS Pondok Indah Group menyelenggarakan forum ilmiah perdananya, RS Pondok Indah Clinical Excellence Forum. Mengusung tema ‘Precision, Progress, and Innovation in Gastroenterohepatology’, forum ini dirancang sebagai sarana pembaruan ilmiah, kolaborasi lintas disiplin, serta manifestasi komitmen RS Pondok Indah Group dalam menghadirkan layanan kesehatan modern berbasis bukti. Dalam forum ini, pakar-pakar nasional di bidang gastroenterologi dan hepatologi berbagi pengalaman, memaparkan teknologi terbaru, dan membahas pendekatan klinis yang semakin presisi.
“Penyakit saluran cerna dan hati berkembang cepat dalam aspek diagnosis maupun terapi, sehingga adaptasi dan pembaruan kompetensi menjadi kebutuhan yang mendesak bagi praktisi medis. Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, kami ingin memfasilitasi para tenaga medis Indonesia untuk dapat memperbarui wawasan dan keterampilannya seiring dengan kemajuan ilmu terkini,” jelas dr. Yanwar Hadiyanto, MARS, Chief Executive Officer RS Pondok Indah Group.