JawaPos.com - Pernah merasa seolah kesuksesan yang Anda raih hanyalah kebetulan semata, dan suatu saat orang lain akan mengetahui bahwa Anda “tidak sepintar itu”?
Perasaan inilah yang dikenal sebagai impostor syndrome, sebuah kondisi psikologis yang bisa menimpa siapa saja, bahkan mereka yang berprestasi tinggi. Fenomena ini dapat menggerus rasa percaya diri dan menghambat perkembangan karier maupun kebahagiaan pribadi.
Apa Itu Impostor Syndrome?
Melansir dari Medical News Today, impostor syndrome adalah perasaan ragu pada kemampuan diri sendiri dan ketakutan dianggap penipu. Siapa pun bisa mengalaminya, tanpa memandang jabatan atau status sosial. Pertama kali diidentifikasi pada 1978, penelitian menunjukkan 9–82 persen orang pernah merasakan gejalanya. Bagi sebagian orang, ini hanya berlangsung singkat seperti saat memulai pekerjaan baru, namun bagi yang lain bisa menetap seumur hidup.
Gejalanya meliputi rasa seolah-olah menjadi penipu, takut ketahuan tidak kompeten, dan sulit mengakui kesuksesan. Sedikit keraguan diri sebenarnya wajar, namun bila berlebihan dapat merusak citra diri dan memicu stres.
Dalam dunia kerja, penderitanya sering khawatir tidak mampu memenuhi ekspektasi rekan atau atasan. Ketakutan gagal membuat mereka enggan mengejar prestasi lebih tinggi, yang akhirnya menurunkan kinerja.
Orang dengan impostor syndrome juga cenderung enggan mengambil tanggung jawab tambahan. Mereka khawatir tugas baru akan mengganggu kualitas pekerjaan utama, sehingga potensi mereka tak pernah benar-benar terlihat.
Kesuksesan justru dapat memicu lingkaran keraguan baru. Saat meraih pencapaian penting, mereka sulit merayakannya dan khawatir orang lain akan menyadari “keterbatasan” mereka.
Banyak pula yang menganggap keberhasilan datang karena faktor luar atau keberuntungan. Sebaliknya, jika terjadi kegagalan akibat faktor eksternal, mereka tetap menyalahkan diri sendiri. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidakpuasan kerja dan risiko burnout. Rasa takut gagal membuat mereka menolak promosi atau tantangan baru, sehingga potensi diri terus terhambat.
Tipe-Tipe Impostor
Menurut Dr. Valerie Young, terdapat lima tipe utama impostor. Tipe “ahli” merasa harus tahu segalanya sebelum menuntaskan tugas, sehingga kerap menunda pekerjaan.
Tipe “perfeksionis” selalu merasa hasilnya kurang sempurna meski telah berusaha maksimal. Tipe “natural genius” cepat menguasai banyak hal, namun merasa lemah bila menemui kesulitan.
Tipe “soloist” enggan meminta bantuan demi membuktikan kemampuan. Terakhir, “superhero” bekerja berlebihan hingga rentan kelelahan fisik dan mental.
Faktor Risiko
Siapa saja bisa mengalaminya, tetapi ada pemicu tertentu. Tantangan baru seperti promosi dapat menimbulkan rasa tidak layak. Lingkungan keluarga juga berpengaruh, misalnya tumbuh bersama saudara yang dianggap “lebih berbakat” atau terlalu mudah sukses sejak kecil.
Diskriminasi terhadap kelompok minoritas dan kondisi seperti depresi serta kecemasan juga meningkatkan risiko. Meski banyak studi menyoroti perempuan, penelitian menunjukkan usia dan gender tidak menentukan.
Cara Mengatasi Impostor Syndrome
Belum ada terapi khusus, namun bantuan profesional kesehatan mental sangat dianjurkan bila gejalanya mengganggu. Beberapa langkah berikut dapat membantu:
- Ceritakan perasaan Anda pada teman, keluarga, atau kolega tepercaya untuk mendapat perspektif yang lebih realistis.
- Kenali gejalanya agar dapat segera mengatasinya saat muncul.
- Terima bahwa kesempurnaan tidak mungkin dicapai; setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.
- Tantang pikiran negatif dengan mengingat keberhasilan, mencatat umpan balik positif, dan merayakan pencapaian.
Cognitive-behavioral therapy (CBT) juga dapat membantu mengubah pola pikir yang merugikan dan memperkuat strategi menghadapi stres.
(*)