JawaPos.com – Sindrom Munchausen atau sindrom pura-pura sakit merupakan kondisi ketika seseorang berusaha mendapatkan perhatian dan simpati dengan memalsukan suatu penyakit.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Sindrom Munchausen merupakan kondisi gangguan psikologis dimana penderita akan berpura-pura sakit dengan sengaja menciptakan penyakit.
Orang dengan sindrom ini akan melakukan segala cara untuk memalsukan tes kesehatan untuk mendapatkan gejala penyakit tertentu.
Penderita sindrom ini bisa diam-diam melukai dirinya sendiri hingga bisa membahayakan dirinya sendiri untuk menimbulkan tanda-tanda penyakit.
Jika seseorang memiliki kelainan ini bisa karena kebutuhan batin yang tidak terpenuhi atau sekadar mencari perhatian orang lain.
Mendiagnosis dan mengobati Sindrom Munchausen atau pura-pura sakit ini sulit dilakukan karena ketidakjujuran orang tersebut.
Penyebab Sindrom Munchausen atau pura-pura sakit
Tidak ada yang yakin apa yang menyebabkan Sindrom Munchausen secara langsung.
Berikut gejala Sindrom Munchausen menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia:
1. Trauma masa kecil: trauma yang dialami anak dan diabaikan oleh orang tuanya menyebabkan kurang perhatian anak dari orang tua.
2. Gangguan kepribadian: gangguan kepribadian ambang menyebabkan penderita sulit mengontrol perasaan.
Baca Juga: Waspada Gejala Stroke Ringan pada Lansia
Selain itu, gangguan kepribadian narsistik membuat penderitanya sangat spesial dan takut tidak berharga.
Gejala Sindrom Munchausen
Seseorang dengan Sindrom Munchausen mendapatkan kepuasan yang luar biasa dari perhatian dengan berpura-pura sakit.
Tanda dan gejala mungkin menandakan gejala Sindrom Munchausen atau sindrom pura-pura sakit, seperti:
1. Kumpulan gejala aneh yang tidak berhubungan.
2. Kurangnya hasil yang pasti meskipun penyelidikan medis yang intensif.
3. Gejala baru yang muncul setelah tes kesehatan terbukti negative.
4. Pengetahuan medis yang luas tentang berbagai penyakit.
5. Sering mengunjungi banyak dokter yang berbeda.
6. Penyakit tidak kunjung membaik meskipun telah mendapatkan perawatan medis.
Cara mendiagnosis pada penderita Sindrom Munchausen
Menurut Cleveland Clinic, mendiagnosis kondisi ini sangat sulit karena ketidakjujuran si penderita. Tim medis perlu menyingkirkan segala kemungkinan penyakit fisik dan mental.
Tim medis menganggap gejala yang dialami penderita tidak dapat dijelaskan secara medis, dan penderita sindrom ini akan dirujuk ke psikiater untuk mengobati penyakit mental.
Psikiater atau psikolog menggunakan riwayat medis menyeluruh, riwayat fisik, dan gambaran laboratorium dan alat penilaian psikologis untuk mengevaluasi.
Pengobatan Sindrom Munchausen
Perawatan ini bertujuan untuk menangani, bukan menyembuhkan penderita Sindrom Munchausen. Pemulihannya cenderung lambat.
Pilihan obat menurut Better Health untuk penderita Sindrom Munchausen adalah:
1. Pengobatan untuk mengobati kesehatan mental terkait depresi atau kecemasan. Namun, penderita sindrom ini bisa saja menyalahgunakan obat resep untuk memicu gejala penyakit lainnya.
2. Cognitive Behavior Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif bisa membantu mengubah keyakinan dan tindakan seseorang.
3. Menghindari tes dan operasi yang tidak penting untuk mengurangi risiko komplikasi.