← Beranda
Stunting Pengaruhi Tingkat Kecerdasan Anak di Masa Depan
AdministratorKamis, 24 November 2016 | 06.36 WIB
Ilustrasi

JawaPos.com – Banyak balita Indonesia mengalami stunting atau bertubuh pendek. Pertumbuhan mereka lambat setiap saat berbeda jauh dibanding bayi dan balita di usia yang sama. Kondisi ini menjadi pertaruhan bagi kualitas kecerdasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.



Mereka diduga tidak menerima nutrisi yang cukup mulai dari kandungan hingga usia dua tahun. Stunting mengakibatkan otak seorang anak kurang berkembang. Mereka bisa kehilangan peluang lebih baik dalam hal pendidikan. Anak - anak Indonesia yang lahir dengan ketimpangan tersebut akan sulit mengalami ketimpangan di masa depannya.



Pakar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Nur Mahmudi Ismail menjelaskan gizi buruk atau balita stunting dapat mempengaruhi nasib generasi penerus bangsa. Kemiskinan masih menjadi pemicu masalah ini.



“Masa depan bangsa kita seperti apa, akan diduki oleh orang-orang dengan balita kekurangan gizi tadi. Secara public policy kita anggap ini serius, stunting harus dikurangi,” jelas Mantan Wali Kota Depok ini.



Dulu, lanjutnya, jumlah balita stunting masih sebanyak 37 persen dari jumlah balita di Indonesia. Sekarang sudah menurun ke angka 29 persen.



“Namun meski turun, tetap masih tinggi. Gizi buruk juga sudah ikhtiar tapi masih tinggi. Stunting juga. Ayo kerja keras lagi,” kata peneliti utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).



Turunnya balita stunting jumlahnya masih terlalu tinggi. Artinya 29 bayi dari 100 bayi mengalami stunting. Ini berarti nasib 29 persen anak mengalami kurangnya kecerdasan (IQ), kesehatan lemah, dan kurang lincah.



“Kasus stunting dan gizi buruk terjadi di negara-negara dunia ketiga, itu masih menonjol. Afrika, Indonesia, India, Amerika Selatan dan tengah,” paparnya. (cr1/JPG)

EDITOR: Administrator