← Beranda
6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Menjadi Kecanduan, Sementara yang Lain Tidak Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 6 September 2026 | 06.20 WIB
seseorang yang menjadi kecanduan dalam suatu hal./Magnific/DC Studio

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa dua orang bisa melakukan hal yang sama, tetapi hanya salah satunya yang akhirnya menjadi kecanduan?

Dua orang bisa sama-sama bermain gim, menggunakan media sosial, minum kopi, berbelanja, menonton video, berjudi, atau mengonsumsi zat tertentu. Pada awalnya, aktivitas tersebut mungkin hanya dilakukan untuk bersenang-senang, menghilangkan stres, atau mengisi waktu luang. Namun, pada sebagian orang, kebiasaan tersebut perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit dikendalikan.

Orang tersebut mungkin mulai menghabiskan lebih banyak waktu untuk aktivitas itu. Ia merasa gelisah ketika tidak melakukannya. Pekerjaan, hubungan sosial, kesehatan, atau keuangan mulai terganggu. Bahkan ketika sadar bahwa kebiasaan tersebut menimbulkan masalah, ia tetap kesulitan berhenti.

Sementara itu, orang lain yang melakukan aktivitas serupa tidak mengalami hal yang sama.

Mengapa?

Menurut psikologi, kecanduan bukanlah hasil dari satu penyebab tunggal. Kecenderungan seseorang untuk mengalami perilaku adiktif merupakan hasil interaksi berbagai faktor: kondisi biologis, pengalaman hidup, kepribadian, lingkungan, cara seseorang mengelola emosi, serta bagaimana otak belajar menghubungkan suatu perilaku dengan rasa senang atau rasa lega.

Dengan kata lain, bukan hanya apa yang dilakukan seseorang yang menentukan apakah ia akan kecanduan, tetapi juga mengapa ia melakukannya, bagaimana ia merasakan efeknya, dan kondisi kehidupannya ketika perilaku tersebut berkembang menjadi kebiasaan.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), terdapat enam alasan utama yang dapat menjelaskan perbedaan tersebut.

1. Setiap orang memiliki tingkat sensitivitas terhadap “hadiah” yang berbeda

Salah satu konsep penting dalam psikologi kecanduan adalah reward system, yaitu mekanisme yang membuat manusia terdorong mengulangi sesuatu yang dianggap menyenangkan atau bermanfaat.

Ketika seseorang memperoleh pengalaman yang menyenangkan—misalnya memenangkan permainan, mendapatkan perhatian dari orang lain, menerima notifikasi, menikmati makanan, atau memperoleh keuntungan—otak belajar bahwa pengalaman tersebut memiliki nilai.

Otak kemudian dapat membentuk hubungan:

“Melakukan X → mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.”

Hubungan inilah yang membuat kita terdorong mengulangi perilaku tersebut.

Namun, tidak semua orang merespons penghargaan dengan cara yang sama.

Ada orang yang mendapatkan sensasi sangat kuat dari aktivitas tertentu. Bagi orang lain, aktivitas yang sama terasa biasa saja.

Misalnya, seseorang mungkin bermain gim selama 30 menit dan merasa sudah cukup. Orang lain dapat merasakan dorongan yang jauh lebih kuat untuk terus bermain karena kemenangan, pencapaian, kompetisi, atau penghargaan dalam gim memberikan pengalaman yang sangat menarik baginya.

Hal serupa dapat terjadi pada media sosial.

Sebuah “like”, komentar, pesan, atau notifikasi mungkin terasa sangat bermakna bagi seseorang. Orang lain mungkin melihat notifikasi tersebut tanpa merasa perlu memeriksanya segera.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa stimulus yang sama tidak selalu memiliki nilai psikologis yang sama bagi setiap orang.

Dalam proses pembelajaran, perilaku yang secara konsisten menghasilkan penghargaan cenderung menjadi semakin otomatis. Pada kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat terus mengejar aktivitas tersebut meskipun kesenangan yang diperoleh sudah berkurang.

Inilah salah satu alasan mengapa mengatakan “kalau mau berhenti, ya tinggal berhenti” sering kali terlalu menyederhanakan masalah.

2. Sebagian orang menggunakan sesuatu untuk mengatasi stres dan emosi negatif

Alasan kedua yang sangat penting adalah fungsi emosional dari perilaku tersebut.

Bayangkan seseorang mengalami tekanan pekerjaan, konflik keluarga, kesepian, kecemasan, atau perasaan gagal.

Ia kemudian menemukan sesuatu yang membuat perasaannya membaik untuk sementara.

Mungkin bermain gim membuatnya lupa terhadap masalah.

Mungkin berbelanja membuatnya merasa lebih bahagia.

Mungkin media sosial membuatnya merasa diterima.

Mungkin alkohol membuatnya merasa lebih tenang.

Mungkin makanan tertentu memberikan kenyamanan.

Awalnya, perilaku tersebut dapat menjadi cara untuk mengatasi emosi negatif.

Masalah muncul ketika otak belajar bahwa:

“Ketika saya merasa buruk, lakukan hal ini agar saya merasa lebih baik.”

Dalam psikologi, perilaku semacam ini dapat dipahami melalui konsep negative reinforcement. Perilaku menjadi semakin kuat bukan karena menghasilkan kesenangan saja, tetapi karena membantu menghilangkan atau mengurangi sesuatu yang tidak menyenangkan.

Contohnya:

Stres → bermain gim → stres berkurang.

Setelah berulang kali terjadi, otak mulai mempelajari pola tersebut.

Kemudian:

Stres → muncul dorongan bermain gim.

Pada tahap tertentu, orang tersebut mungkin tidak lagi bermain karena benar-benar ingin bersenang-senang. Ia bermain karena ingin melarikan diri dari perasaan yang tidak nyaman.

Perbedaan ini sangat penting.

Dua orang dapat melakukan aktivitas yang sama, tetapi fungsi psikologisnya berbeda.

Orang pertama bermain gim karena hobi.

Orang kedua bermain gim terutama untuk menghindari kecemasan, kesepian, atau tekanan hidup.

Jika kehidupan orang kedua dipenuhi stres dan ia hanya memiliki sedikit strategi lain untuk mengatasi emosi, aktivitas tersebut dapat menjadi semakin penting baginya.

Karena itu, dalam memahami kecanduan, psikolog tidak hanya bertanya:

“Apa yang membuat Anda melakukan ini?”

Tetapi juga:

“Apa yang Anda rasakan sebelum melakukan ini?”

dan

“Apa yang Anda dapatkan setelah melakukannya?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut sering kali mengungkap fungsi sebenarnya dari perilaku adiktif.

3. Kepribadian dan kemampuan mengendalikan impuls setiap orang berbeda

Faktor ketiga adalah perbedaan individual dalam self-control, impulsivitas, dan kemampuan menunda kepuasan.

Manusia tidak selalu memilih berdasarkan apa yang terbaik untuk jangka panjang.

Kita sering memilih sesuatu yang memberikan imbalan sekarang meskipun konsekuensinya baru muncul nanti.

Contohnya sederhana.

Seseorang mungkin tahu bahwa tidur lebih awal lebih baik bagi tubuhnya. Tetapi ketika tengah malam ia mendapatkan video menarik, episode baru serial favorit, atau percakapan yang menyenangkan, ia mungkin memilih tetap terjaga.

Pada orang tertentu, kecenderungan mengejar kepuasan segera bisa lebih kuat.

Hal ini berkaitan dengan impulsivitas dan kemampuan delay of gratification, yaitu kemampuan menunda kesenangan sekarang demi manfaat yang lebih besar di masa depan.

Bayangkan dua orang mendapatkan uang tambahan.

Orang pertama berpikir:

“Saya akan menyimpannya untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan.”

Orang kedua berpikir:

“Saya ingin menikmati uang ini sekarang.”

Tidak ada yang otomatis berarti salah. Namun, dalam konteks tertentu, kecenderungan yang sangat kuat untuk mencari kepuasan segera dapat meningkatkan kerentanan terhadap perilaku tertentu.

Hal yang sama berlaku ketika seseorang mengalami dorongan untuk melakukan sesuatu.

Orang dengan kemampuan pengendalian diri yang lebih baik mungkin dapat mengatakan:

“Saya ingin melakukannya, tetapi saya bisa menundanya.”

Sementara orang yang lebih impulsif mungkin lebih mudah bertindak berdasarkan dorongan sesaat.

Yang penting, self-control bukanlah karakter yang sepenuhnya tetap.

Kemampuan mengendalikan diri dapat berubah tergantung kondisi seseorang.

Orang yang biasanya mampu mengendalikan diri mungkin menjadi lebih impulsif ketika kurang tidur, sangat stres, mengalami masalah emosional, atau berada dalam lingkungan yang terus-menerus memberikan godaan.

Jadi, kecanduan tidak bisa dijelaskan hanya dengan label seperti “orang ini lemah” atau “orang itu kuat”.

Kemampuan regulasi diri dipengaruhi oleh banyak faktor dan dapat berubah sepanjang kehidupan.

4. Pengalaman masa lalu membentuk cara seseorang mencari kenyamanan

Alasan keempat adalah pengalaman hidup.

Cara seseorang menghadapi masalah pada masa kini sering kali berkaitan dengan apa yang ia pelajari dari pengalaman sebelumnya.

Sejak kecil, manusia belajar bagaimana menghadapi emosi.

Sebagian orang belajar bahwa ketika menghadapi masalah, mereka dapat berbicara dengan orang lain.

Sebagian lainnya belajar mencari solusi secara langsung.

Ada pula yang terbiasa menekan emosi, menghindari masalah, atau mencari distraksi.

Jika seseorang sejak lama terbiasa menggunakan perilaku tertentu untuk mengurangi perasaan tidak nyaman, perilaku tersebut dapat menjadi strategi yang sangat otomatis.

Misalnya, seseorang merasa sedih lalu makan.

Besok ia merasa kesepian lalu makan lagi.

Ketika stres di tempat kerja, ia kembali menggunakan makanan sebagai sumber kenyamanan.

Lama-kelamaan terbentuk asosiasi:

emosi negatif → makanan → rasa nyaman sementara.

Hal serupa dapat terjadi pada berbagai perilaku lainnya.

Pengalaman hidup juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Seseorang yang sering merasa tidak berharga mungkin mencari validasi melalui media sosial.

Seseorang yang merasa tidak memiliki kendali dalam kehidupan nyata mungkin mendapatkan rasa kompetensi melalui permainan.

Seseorang yang merasa kesepian mungkin menggunakan internet secara berlebihan karena di sana ia menemukan komunitas dan hubungan sosial.

Dalam perspektif ini, perilaku adiktif kadang-kadang bukan sekadar “kebiasaan buruk”.

Ia dapat menjadi usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhan psikologis tertentu, meskipun cara yang digunakan pada akhirnya menimbulkan masalah baru.

5. Lingkungan sangat menentukan apakah sebuah kebiasaan akan berkembang

Kita sering membicarakan kecanduan seolah-olah hanya terjadi “di dalam kepala”.

Padahal, lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar.

Bayangkan seseorang yang hidup di lingkungan dengan akses sangat mudah terhadap suatu aktivitas tertentu, sementara aktivitas tersebut terus dipromosikan dan diberi berbagai pemicu.

Kemungkinan ia terpapar dan mengulangi perilaku tersebut tentu berbeda dibandingkan orang yang hidup dalam lingkungan yang jauh dari pemicu tersebut.

Lingkungan dapat mencakup:

keluarga,
teman,
tempat kerja,
sekolah,
komunitas,
budaya,
kondisi ekonomi,
akses terhadap suatu aktivitas,
serta teknologi yang digunakan sehari-hari.

Teman juga memiliki pengaruh besar.

Jika seseorang berada dalam kelompok yang menganggap perilaku tertentu sebagai sesuatu yang normal, frekuensi perilaku tersebut dapat meningkat.

Sebaliknya, lingkungan yang mendukung batasan sehat dapat membantu seseorang mempertahankan kontrol.

Teknologi modern juga membuat persoalan ini semakin kompleks.

Banyak aplikasi dan layanan digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Notifikasi, rekomendasi otomatis, penghargaan, streak, jumlah pengikut, dan mekanisme lainnya dapat menciptakan rangkaian pemicu yang membuat seseorang terus kembali.

Artinya, ketika membahas kecanduan, kita tidak seharusnya hanya bertanya:

“Mengapa orang ini tidak bisa mengontrol dirinya?”

Kita juga perlu bertanya:

“Seberapa sering lingkungan memberikan kesempatan dan dorongan untuk melakukan perilaku tersebut?”

Lingkungan yang penuh pemicu dapat membuat pengendalian diri menjadi jauh lebih sulit.

6. Faktor genetik dan biologis membuat kerentanan setiap orang berbeda

Alasan terakhir adalah bahwa manusia memang tidak memulai kehidupan dari titik biologis yang sama.

Penelitian mengenai kecanduan menunjukkan bahwa terdapat komponen genetik dan biologis dalam kerentanan terhadap berbagai bentuk gangguan penggunaan zat dan perilaku adiktif.

Namun, penting untuk memahami satu hal:

faktor genetik bukan berarti seseorang ditakdirkan menjadi kecanduan.

Gen bukan sebuah tombol yang mengatakan:

“Orang ini pasti kecanduan.”

Sebaliknya, faktor biologis dapat meningkatkan atau menurunkan kerentanan seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungan dan pengalaman hidup.

Bayangkan dua orang memiliki pengalaman hidup yang sangat berbeda.

Orang pertama mungkin memiliki kerentanan biologis tertentu, mengalami stres berat, memiliki sedikit dukungan sosial, dan menggunakan suatu perilaku sebagai cara utama untuk mengatasi emosi.

Orang kedua mungkin tidak memiliki kombinasi faktor tersebut dan memiliki banyak strategi coping yang sehat.

Walaupun keduanya melakukan aktivitas yang sama, hasil akhirnya dapat sangat berbeda.

Ini menunjukkan bahwa kecanduan lebih tepat dipahami sebagai hasil dari interaksi banyak faktor, bukan akibat satu penyebab.

Jadi, Mengapa Ada Orang yang Kecanduan dan Ada yang Tidak?

Jika keenam faktor di atas digabungkan, kita dapat melihat bahwa kecanduan sebenarnya merupakan persoalan yang kompleks.

Seseorang dapat memiliki:

sensitivitas tinggi terhadap penghargaan,
tingkat stres yang tinggi,
kesulitan mengatur emosi,
kecenderungan impulsif,
pengalaman hidup tertentu,
lingkungan yang penuh pemicu,
dan kerentanan biologis tertentu.

Sementara orang lain mungkin melakukan aktivitas yang sama tetapi memiliki faktor perlindungan yang berbeda.

Misalnya, ia memiliki hubungan sosial yang kuat, mampu mengelola stres dengan berbagai cara, memiliki rutinitas yang sehat, dan tidak terlalu bergantung pada satu aktivitas untuk mendapatkan rasa nyaman.

Karena itu, tidak ada satu profil sederhana tentang “orang yang pasti akan kecanduan”.

Bahkan seseorang yang sebelumnya tidak memiliki masalah dapat mengalami periode kehidupan ketika kerentanannya meningkat.

Stres berat, kehilangan pekerjaan, perubahan hubungan, isolasi sosial, atau perubahan lingkungan dapat mengubah cara seseorang menggunakan suatu aktivitas.

Kecanduan Bukan Sekadar Masalah Kurang Kemauan

Salah satu kesalahpahaman paling umum mengenai kecanduan adalah anggapan bahwa orang yang kecanduan sebenarnya hanya perlu “berhenti”.

Tentu saja, kemauan dan keputusan pribadi tetap memiliki peran. Namun, kecanduan dapat melibatkan proses pembelajaran, kebiasaan, pengaturan emosi, dorongan yang kuat, serta perubahan pola perilaku yang membuat berhenti menjadi jauh lebih sulit.

Itulah sebabnya seseorang bisa mengatakan:

“Saya tahu ini merugikan saya.”

tetapi tetap melakukannya.

Mengetahui konsekuensi tidak selalu cukup untuk menghilangkan dorongan.

Hal ini sebenarnya juga terjadi pada kebiasaan sehari-hari.

Kita tahu bahwa terlalu banyak menatap layar tidak baik.

Kita tahu bahwa kurang tidur memiliki konsekuensi.

Kita tahu bahwa menunda pekerjaan dapat membuat stres.

Namun, pengetahuan saja tidak selalu mengubah perilaku.

Pada kecanduan, pola tersebut dapat menjadi jauh lebih kuat.

Lalu, Apa yang Bisa Membantu?

Jika seseorang ingin mengurangi perilaku yang mulai terasa tidak terkendali, langkah pertama bukan selalu “memaksa diri untuk berhenti”.

Langkah yang lebih berguna adalah memahami polanya.

Cobalah memperhatikan:

Apa yang biasanya terjadi sebelum saya melakukan perilaku tersebut?

Apakah sedang stres?

Kesepian?

Bosan?

Marah?

Cemas?

Merasa gagal?

Kemudian tanyakan:

Apa yang saya rasakan setelah melakukannya?

Apakah merasa senang?

Tenang?

Diterima?

Tidak memikirkan masalah?

Mendapatkan sensasi pencapaian?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu menemukan fungsi perilaku.

Setelah itu, seseorang dapat mulai membangun alternatif.

Jika perilaku digunakan untuk mengatasi stres, mungkin perlu mengembangkan cara lain untuk mengelola stres.

Jika digunakan untuk mengatasi kesepian, mungkin kebutuhan utamanya adalah koneksi sosial.

Jika digunakan untuk menghindari masalah, mungkin masalah yang sebenarnya perlu ditangani.

Jika perilaku sudah menyebabkan gangguan serius dalam kehidupan dan sulit dikendalikan meskipun sudah berusaha, mendapatkan bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah yang tepat.

Kesimpulan

Mengapa sebagian orang menjadi kecanduan sementara yang lain tidak?

Jawabannya bukan sekadar karena satu orang “lemah” dan yang lainnya “kuat”.

Menurut perspektif psikologi, kerentanan terhadap kecanduan dipengaruhi oleh interaksi antara sistem penghargaan, regulasi emosi, impulsivitas, pengalaman hidup, lingkungan, serta faktor biologis dan genetik.

Enam alasan utama yang perlu dipahami adalah:

1. Setiap orang memiliki sensitivitas terhadap penghargaan yang berbeda.

2. Sebagian orang menggunakan aktivitas tertentu untuk mengurangi stres atau emosi negatif.

3. Kemampuan mengendalikan impuls dan menunda kepuasan berbeda pada setiap orang.

4. Pengalaman masa lalu membentuk cara seseorang mencari kenyamanan dan menghadapi masalah.

5. Lingkungan dapat memperkuat atau mengurangi perilaku adiktif.

6. Faktor genetik dan biologis membuat tingkat kerentanan seseorang berbeda.

Pada akhirnya, memahami kecanduan membutuhkan lebih dari sekadar bertanya, “Mengapa dia tidak berhenti?”

Pertanyaan yang lebih mendalam adalah:

“Apa yang membuat perilaku ini begitu penting bagi dirinya?”

Karena di balik banyak perilaku adiktif, terdapat proses psikologis yang membuat seseorang merasa bahwa perilaku tersebut memberikan sesuatu yang sangat ia butuhkan—entah itu kesenangan, ketenangan, pelarian, koneksi, penghargaan, atau rasa memiliki.

Memahami proses tersebut bukan berarti membenarkan perilakunya. Justru, pemahaman itulah yang dapat membantu kita melihat masalah secara lebih manusiawi dan menemukan cara yang lebih efektif untuk mengubahnya.

EDITOR: Hanny Suwindari