JawaPos.com - Menentukan apakah seseorang merupakan pasangan yang tepat bukan perkara sederhana. Perasaan cinta, ketertarikan, rasa nyaman, maupun kenangan indah memang memiliki peran penting dalam hubungan, tetapi psikologi menunjukkan bahwa hubungan yang sehat juga dibangun dari berbagai hal lain, seperti rasa aman, komunikasi, kepercayaan, kesamaan nilai, kemampuan menyelesaikan konflik, serta kesiapan untuk tumbuh bersama.
Tidak ada pasangan yang benar-benar sempurna. Bahkan hubungan yang sehat pun pasti menghadapi perbedaan, kesalahpahaman, dan masa-masa sulit. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Apakah dia pasangan yang sempurna?”, melainkan “Apakah hubungan ini membuat kami mampu menjadi pasangan yang sehat dan saling menghargai?”
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (22/8), jika Anda sedang mempertanyakan masa depan sebuah hubungan, 10 pertanyaan berikut dapat membantu Anda melihat hubungan secara lebih objektif.
1. Apakah Anda Bisa Menjadi Diri Sendiri Saat Bersamanya?
Salah satu tanda penting dalam hubungan yang sehat adalah adanya rasa aman untuk menjadi diri sendiri.
Coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya merasa bebas mengungkapkan pendapat, menunjukkan kelemahan, bercanda, memiliki kesukaan sendiri, dan mengatakan apa yang sebenarnya saya rasakan tanpa terus-menerus takut dihakimi?
Dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak seharusnya merasa harus memainkan karakter tertentu agar tetap dicintai.
Jika Anda selalu merasa harus berhati-hati dalam berbicara, menyembunyikan emosi, mengubah kepribadian, atau berpura-pura menyukai sesuatu hanya agar pasangan tidak kecewa, kondisi tersebut layak diperhatikan.
Rasa nyaman bukan berarti tidak pernah merasa gugup atau malu di depan pasangan. Rasa nyaman lebih berkaitan dengan keyakinan bahwa Anda tetap diterima sebagai manusia yang memiliki kekurangan.
Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kedua orang untuk menjadi individu sekaligus menjadi pasangan.
Sebaliknya, jika Anda merasa bahwa cinta hanya akan bertahan apabila Anda memenuhi standar tertentu dari pasangan, hubungan tersebut mungkin tidak memberikan rasa aman emosional yang cukup.
2. Apakah Anda Merasa Dihargai, Bukan Sekadar Dicintai?
Cinta dan penghargaan merupakan dua hal yang saling berkaitan, tetapi tidak selalu sama.
Seseorang bisa mengatakan mencintai Anda, tetapi pada saat yang sama tidak menghargai batasan, pendapat, waktu, pekerjaan, pertemanan, atau pilihan pribadi Anda.
Karena itu, tanyakan:
“Apakah pasangan saya memperlakukan saya sebagai seseorang yang memiliki nilai dan suara sendiri?”
Penghargaan dapat terlihat dari hal-hal sederhana. Misalnya, pasangan mendengarkan ketika Anda berbicara, tidak meremehkan pendapat Anda, mempertimbangkan kebutuhan Anda ketika mengambil keputusan, dan tidak menggunakan kelemahan Anda sebagai bahan untuk menyakiti.
Dalam hubungan jangka panjang, rasa saling menghormati sering kali menjadi fondasi yang lebih stabil dibandingkan sekadar intensitas perasaan.
Perasaan cinta bisa berubah-ubah. Ada masa ketika hubungan terasa sangat romantis dan ada masa ketika keduanya sibuk, lelah, atau menghadapi masalah. Namun, rasa hormat idealnya tetap dipertahankan.
Jika konflik membuat salah satu pihak merasa boleh menghina, mempermalukan, mengancam, atau merendahkan pihak lain, masalahnya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat.
3. Apakah Anda Memiliki Nilai-Nilai Hidup yang Cukup Selaras?
Pasangan tidak harus memiliki kepribadian yang sama. Bahkan perbedaan karakter dapat membuat hubungan menjadi lebih menarik.
Namun, ada perbedaan antara berbeda kepribadian dan berbeda nilai dasar kehidupan.
Coba tanyakan:
“Apakah kami memiliki pandangan yang cukup selaras tentang hal-hal besar dalam kehidupan?”
Contohnya meliputi pandangan mengenai pernikahan, anak, keuangan, karier, keluarga, gaya hidup, kesetiaan, tempat tinggal, dan prioritas masa depan.
Anda tidak harus memiliki jawaban yang identik dalam segala hal. Yang lebih penting adalah apakah perbedaan tersebut dapat dibicarakan dan dinegosiasikan.
Misalnya, seseorang mungkin sangat berorientasi pada karier sementara pasangannya lebih mengutamakan kehidupan keluarga. Perbedaan tersebut belum tentu menjadi masalah apabila keduanya dapat menemukan jalan tengah.
Sebaliknya, jika satu orang benar-benar ingin memiliki anak sementara yang lain sama sekali tidak menginginkannya, konflik tersebut bisa menjadi persoalan fundamental.
Hubungan yang sehat bukan berarti tidak memiliki perbedaan. Hubungan yang sehat berarti kedua orang mampu menghadapi perbedaan penting tanpa memaksa salah satu pihak kehilangan dirinya sendiri.
4. Bagaimana Kalian Menyelesaikan Konflik?
Jangan hanya melihat bagaimana pasangan memperlakukan Anda ketika semuanya berjalan baik.
Perhatikan bagaimana ia bersikap ketika kecewa, marah, cemburu, tertekan, atau berbeda pendapat dengan Anda.
Pertanyaan pentingnya adalah:
“Ketika kami bertengkar, apakah kami berusaha menyelesaikan masalah atau justru berusaha saling mengalahkan?”
Konflik merupakan bagian normal dari hubungan. Yang membedakan hubungan sehat dan tidak sehat bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan cara pasangan menghadapi konflik.
Pasangan yang sehat mungkin tetap marah atau kecewa, tetapi ia masih mampu menjaga batasan perilaku. Ia dapat mengatakan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, kemudian kembali membicarakan masalah.
Sebaliknya, pola seperti menghina, mengancam putus setiap kali bertengkar, mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman, memanipulasi, atau sengaja membuka luka lama untuk memenangkan argumen dapat menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.
Pertanyaan lain yang dapat Anda gunakan adalah:
“Setelah konflik selesai, apakah kami memahami satu sama lain dengan lebih baik?”
Jika jawabannya sering kali ya, hubungan memiliki ruang untuk berkembang.
5. Apakah Anda Bisa Mempercayainya?
Kepercayaan bukan hanya tentang apakah pasangan pernah berselingkuh atau tidak.
Kepercayaan juga berkaitan dengan konsistensi antara perkataan dan tindakan.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah saya dapat mempercayai perkataannya berdasarkan perilakunya selama ini?”
Orang yang dapat dipercaya biasanya menunjukkan konsistensi. Ia berusaha memenuhi janji, terbuka ketika ada masalah, dan tidak membuat Anda terus-menerus mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Hubungan tanpa kepercayaan dapat menjadi sangat melelahkan secara psikologis.
Anda mungkin mulai merasa perlu memeriksa ponsel pasangan, mempertanyakan setiap aktivitasnya, mencurigai perubahan kecil dalam perilakunya, atau terus mencari kepastian bahwa hubungan masih aman.
Tentu saja, rasa tidak percaya bisa muncul karena pengalaman masa lalu seseorang. Oleh sebab itu, tidak semua kecemasan otomatis berarti pasangan melakukan sesuatu yang salah.
Namun, jika rasa tidak aman muncul terus-menerus karena perilaku pasangan yang tidak konsisten, hal tersebut perlu diperhatikan.
Kepercayaan bukan berarti percaya secara buta. Kepercayaan tumbuh dari pengalaman berulang bahwa seseorang dapat diandalkan.
6. Apakah Hubungan Ini Membuat Anda Berkembang?
Pasangan yang tepat bukan berarti seseorang yang selalu membuat Anda merasa nyaman setiap saat.
Kadang-kadang pasangan yang baik justru membantu Anda melihat sisi diri yang perlu diperbaiki.
Pertanyaannya:
“Apakah hubungan ini membuat saya berkembang sebagai manusia, atau justru membuat saya kehilangan diri sendiri?”
Hubungan yang sehat dapat memberikan dukungan ketika Anda mengejar tujuan, belajar sesuatu yang baru, memperbaiki kebiasaan, atau menghadapi kegagalan.
Pasangan tidak harus menjadi motivator setiap saat. Namun, idealnya hubungan tidak membuat salah satu pihak merasa bahwa pertumbuhan pribadi merupakan ancaman.
Misalnya, pasangan mendukung Anda ketika mendapatkan kesempatan pendidikan atau pekerjaan baru, meskipun perubahan tersebut mungkin membutuhkan penyesuaian bagi hubungan.
Sebaliknya, jika pasangan selalu meremehkan ambisi Anda, merasa terancam ketika Anda berkembang, atau berusaha membatasi Anda agar tetap bergantung kepadanya, kondisi tersebut perlu dievaluasi.
Hubungan yang sehat memungkinkan dua individu bertumbuh tanpa merasa harus saling mengecilkan.
7. Apakah Anda Merasa Aman Secara Emosional?
Rasa aman secara emosional merupakan salah satu aspek penting dalam hubungan.
Tanyakan:
“Ketika saya sedang sedih, kecewa, atau mengalami masalah, apakah saya merasa aman untuk menceritakannya kepada pasangan?”
Anda tidak harus selalu mendapatkan solusi. Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan didengarkan.
Pasangan yang memberikan keamanan emosional tidak berarti selalu mengetahui apa yang harus dikatakan. Ia mungkin tetap melakukan kesalahan. Namun, secara umum Anda merasa bahwa emosi Anda tidak akan digunakan untuk menyerang Anda di kemudian hari.
Sebaliknya, apabila setiap kali Anda mengungkapkan perasaan pasangan justru mengatakan bahwa Anda terlalu sensitif, terlalu dramatis, atau tidak masuk akal, komunikasi emosional dapat menjadi semakin sulit.
Dalam jangka panjang, seseorang mungkin berhenti bercerita bukan karena masalahnya sudah selesai, tetapi karena ia merasa tidak aman untuk berbicara.
Itulah sebabnya penting untuk bertanya:
“Apakah saya merasa didengar dalam hubungan ini?”
Didengarkan bukan berarti selalu disetujui. Pasangan boleh memiliki pendapat berbeda, tetapi perbedaan tersebut tetap dapat disampaikan dengan menghormati perasaan dan martabat satu sama lain.
8. Apakah Kalian Bisa Menjadi Tim Saat Menghadapi Masalah?
Kehidupan bersama akan menghadirkan berbagai persoalan: masalah finansial, pekerjaan, keluarga, kesehatan, perubahan rencana, maupun tekanan sehari-hari.
Karena itu, tanyakan:
“Ketika masalah datang, apakah kami saling menyalahkan atau bekerja sama mencari solusi?”
Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak selalu melihat masalah sebagai kesalahan individu.
Misalnya, ketika kondisi keuangan memburuk, keduanya dapat duduk bersama membicarakan pengeluaran dan mencari solusi. Ketika salah satu sedang mengalami masa sulit, yang lain berusaha memberikan dukungan tanpa merasa bahwa masalah tersebut sepenuhnya menjadi beban pasangannya.
Konsep we-ness atau rasa sebagai “kami” sering kali penting dalam hubungan jangka panjang. Artinya, pasangan mulai melihat beberapa persoalan sebagai sesuatu yang perlu dihadapi bersama, bukan sebagai pertandingan antara “saya melawan kamu”.
Namun, menjadi tim tidak berarti kehilangan identitas pribadi.
Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi kedua individu untuk memiliki kehidupan, teman, minat, dan tujuan masing-masing.
9. Apakah Anda Menyukai Dirinya, Bukan Hanya Perasaan yang Ia Berikan?
Ini merupakan pertanyaan yang cukup dalam.
Kadang-kadang seseorang merasa sangat mencintai pasangannya karena ia menyukai bagaimana dirinya merasa ketika berada di dalam hubungan tersebut.
Namun, coba pisahkan antara “Saya mencintai dia” dan “Saya mencintai perasaan yang saya dapatkan ketika bersamanya.”
Tanyakan:
“Jika saya mengabaikan rasa takut kehilangan, apakah saya benar-benar menyukai karakter dan nilai yang dimiliki orang ini?”
Apakah Anda menghargai cara ia memperlakukan orang lain?
Apakah Anda mengagumi tanggung jawabnya?
Apakah Anda menghormati cara ia menghadapi masalah?
Apakah Anda menyukai bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan terhadap dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu melihat pasangan secara lebih realistis.
Ketertarikan fisik dan rasa cinta memang penting, tetapi hubungan jangka panjang biasanya melibatkan jauh lebih banyak hal daripada chemistry.
Anda akan menghabiskan banyak waktu bersama pasangan dalam kondisi biasa: ketika lelah, sibuk, bosan, menghadapi pekerjaan, mengurus rumah, atau menyelesaikan masalah.
Karena itu, karakter sehari-hari sering kali lebih penting daripada bagaimana seseorang terlihat ketika sedang berusaha membuat Anda terkesan.
10. Jika Tidak Ada Rasa Takut Kehilangan, Apakah Anda Tetap Akan Memilihnya?
Pertanyaan terakhir mungkin merupakan salah satu yang paling sulit.
Bayangkan sejenak bahwa Anda tidak takut sendirian.
Anda tidak takut usia bertambah.
Anda tidak takut harus memulai kembali.
Anda tidak takut mengecewakan keluarga.
Anda juga tidak takut kehilangan waktu dan kenangan yang sudah dibangun.
Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
“Dengan semua ketakutan tersebut disingkirkan, apakah saya masih ingin memilih orang ini?”
Pertanyaan ini bukan ajakan untuk mengakhiri hubungan secara impulsif. Tujuannya adalah membedakan antara cinta dan ketakutan kehilangan.
Seseorang bisa bertahan dalam hubungan bukan karena hubungan tersebut benar-benar sehat, melainkan karena ia takut menghadapi kehidupan setelah hubungan berakhir.
Ketakutan tersebut manusiawi. Namun, keputusan mengenai masa depan hubungan sebaiknya tidak hanya dibangun dari rasa takut.
Jika setelah mempertimbangkan semuanya Anda masih melihat pasangan sebagai seseorang yang ingin Anda pilih, hormati, dukung, dan ajak bertumbuh, hal tersebut dapat menjadi pertanda positif.
Lalu, Berapa Banyak Jawaban “Ya” yang Harus Dimiliki?
Tidak ada angka ajaib yang bisa menentukan apakah seseorang adalah pasangan yang tepat.
Misalnya, mendapatkan 8 dari 10 jawaban “ya” tidak otomatis berarti hubungan Anda pasti berhasil. Sebaliknya, mendapatkan beberapa jawaban “tidak” juga tidak selalu berarti Anda harus berpisah.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih tepat digunakan sebagai alat refleksi, bukan sebagai tes psikologi untuk menentukan nasib hubungan.
Perhatikan pola yang muncul.
Jika Anda menjawab “ya” pada sebagian besar pertanyaan tentang rasa aman, penghargaan, komunikasi, kepercayaan, dan kesamaan nilai, kemungkinan besar hubungan memiliki sejumlah fondasi yang sehat.
Jika beberapa jawaban membuat Anda ragu, jangan langsung mengabaikannya. Cobalah menggali penyebabnya.
Misalnya:
“Mengapa saya tidak merasa aman untuk menjadi diri sendiri?”
“Mengapa saya sulit mempercayainya?”
“Apakah masalah ini berasal dari pengalaman saya sendiri atau dari perilaku pasangan saat ini?”
“Apakah pasangan bersedia memperbaiki masalah tersebut?”
Pertanyaan terakhir sangat penting karena hubungan bukanlah sesuatu yang statis.
Pasangan yang Tepat Bukan Berarti Pasangan yang Sempurna
Dalam psikologi hubungan, tidak ada pasangan yang sempurna.
Orang yang tepat tetap bisa membuat kesalahan. Ia bisa salah memahami Anda, lupa melakukan sesuatu, memiliki kebiasaan yang menjengkelkan, atau terkadang mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.
Yang membedakan hubungan sehat bukan ketiadaan kesalahan, melainkan kemampuan untuk mengakui kesalahan, memperbaikinya, belajar, dan berusaha tidak mengulanginya.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apakah dia orang yang tepat?”
Coba tambahkan pertanyaan:
“Apakah kami menjadi pasangan yang tepat satu sama lain?”
Hubungan membutuhkan kontribusi dua orang.
Seseorang mungkin memiliki pasangan yang baik tetapi belum memiliki kemampuan berkomunikasi yang sehat. Sebaliknya, dua orang yang sama-sama memiliki niat baik dapat menciptakan hubungan yang semakin kuat ketika mereka mau belajar memahami satu sama lain.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa besar rasa cinta yang dimiliki dua orang.
Ia juga tentang rasa aman, penghargaan, kepercayaan, komunikasi, kesediaan untuk bertumbuh, kemampuan menghadapi konflik, dan kebebasan untuk tetap menjadi diri sendiri.
Jika Anda sedang mengevaluasi hubungan, jangan hanya melihat bagaimana perasaan Anda ketika sedang jatuh cinta.
Lihat pula bagaimana Anda merasa setelah konflik, ketika menghadapi masalah, ketika mengungkapkan kelemahan, ketika memiliki perbedaan pendapat, dan ketika membayangkan masa depan bersama.
Di situlah sering kali kualitas sebuah hubungan terlihat dengan lebih jelas.
Dan mungkin, pertanyaan terpenting dari semuanya adalah:
“Apakah hubungan ini membuat kami merasa semakin menjadi diri sendiri, sekaligus semakin mampu menjadi pasangan yang baik bagi satu sama lain?”
Jika jawabannya semakin mendekati “ya”, mungkin Anda tidak sedang mencari hubungan yang sempurna. Anda sedang membangun hubungan yang sehat dan realistis bersama seseorang yang memang ingin berjalan bersama Anda.