JawaPos.com - Menjalin hubungan dengan orang lain sering kali membutuhkan banyak hal: waktu, perhatian, kompromi, kesabaran, bahkan energi emosional. Seseorang mungkin harus menyesuaikan jadwal, menghadapi perbedaan pendapat, menenangkan pasangan ketika sedang mengalami masalah, atau mengorbankan sebagian kebebasan pribadi.
Kalau dilihat sekilas, hubungan romantis memang bisa terasa merepotkan. Lantas, mengapa banyak orang tetap ingin memiliki pasangan dan mempertahankan hubungan, bahkan ketika hubungan tersebut terkadang membuat hidup terasa lebih rumit?
Menurut psikologi, keinginan untuk menjalin hubungan bukan sekadar karena seseorang takut kesepian atau ingin memiliki teman. Hubungan dekat dapat memenuhi sejumlah kebutuhan psikologis yang mendasar. Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk terhubung, merasa diterima, dicintai, dihargai, dan memiliki seseorang yang dapat menjadi tempat berbagi pengalaman hidup.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (15/8), terdapat enam alasan psikologis yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tetap ingin menjalin hubungan meskipun hubungan tersebut terkadang membuatnya repot.
1. Manusia memiliki kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain
Salah satu alasan paling mendasar adalah kebutuhan manusia untuk memiliki hubungan yang dekat dan bermakna dengan orang lain.
Manusia bukan makhluk yang sepenuhnya dapat hidup tanpa keterikatan sosial. Sejak kecil, seseorang membutuhkan hubungan dengan orang tua, keluarga, teman, atau orang lain di sekitarnya. Ketika dewasa, kebutuhan tersebut dapat berkembang menjadi keinginan untuk memiliki hubungan romantis yang dekat.
Hubungan memberikan perasaan bahwa seseorang tidak menjalani kehidupan seorang diri. Ada orang yang dapat diajak berbagi cerita, berdiskusi, bercanda, atau sekadar menemani menjalani rutinitas sehari-hari.
Karena itu, seseorang mungkin tetap memilih menjalin hubungan meskipun harus menghadapi berbagai kerepotan. Waktu yang digunakan untuk berkomunikasi, bertemu, memberikan perhatian, atau menyelesaikan konflik dianggap sepadan dengan manfaat emosional yang diperoleh dari hubungan tersebut.
Dalam konteks ini, "repot" tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Sebagian kerepotan merupakan konsekuensi dari memiliki kedekatan dengan orang lain.
Semakin dekat hubungan seseorang dengan orang lain, semakin besar pula kemungkinan munculnya perbedaan kebutuhan, kebiasaan, dan harapan. Namun, kedekatan itulah yang juga membuat hubungan terasa berarti.
2. Memiliki pasangan dapat membuat seseorang merasa dicintai dan diterima
Alasan berikutnya berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa diterima.
Setiap orang memiliki keinginan untuk merasa bahwa dirinya berharga bagi orang lain. Ketika seseorang memiliki pasangan yang memberikan perhatian, mendengarkan keluh kesahnya, menghargai keberadaannya, dan menerima dirinya dengan segala kekurangan, hal tersebut dapat memberikan rasa aman secara emosional.
Perasaan "ada seseorang yang memilih saya" dapat menjadi pengalaman yang sangat berarti.
Bukan berarti seseorang tidak dapat merasa berharga tanpa pasangan. Rasa berharga yang sehat idealnya tidak sepenuhnya bergantung pada hubungan romantis. Namun, hubungan dekat tetap dapat menjadi salah satu sumber pengalaman positif yang memperkuat perasaan diterima dan dihargai.
Itulah sebabnya seseorang mungkin tetap bersedia menghadapi kerepotan dalam hubungan.
Misalnya, seseorang harus meluangkan waktu untuk bertemu setelah hari yang melelahkan. Dari sisi praktis, hal tersebut memang membutuhkan energi. Tetapi ketika pertemuan itu membuatnya merasa diperhatikan, didengarkan, dan dicintai, pengalaman tersebut bisa terasa jauh lebih berharga daripada sekadar mempertimbangkan "berapa banyak tenaga yang saya keluarkan."
Dengan kata lain, manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan efisiensi.
Dalam hubungan emosional, makna dan perasaan sering kali memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kenyamanan.
3. Hubungan dapat memberikan dukungan ketika menghadapi masalah
Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, kegagalan, kehilangan, kebingungan dalam mengambil keputusan, atau sekadar mengalami hari yang buruk.
Memiliki pasangan dapat memberikan sumber dukungan emosional ketika menghadapi situasi tersebut.
Dukungan tidak selalu berbentuk solusi. Terkadang seseorang hanya membutuhkan orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Kalimat sederhana seperti "Aku mengerti kamu sedang capek" atau "Kita cari jalan keluarnya bersama" dapat membuat seseorang merasa tidak menghadapi masalah seorang diri.
Inilah salah satu alasan mengapa hubungan tetap dianggap berharga meskipun membutuhkan usaha.
Hubungan yang sehat bukan hanya tentang bersenang-senang bersama. Hubungan juga dapat menjadi tempat seseorang memperoleh dukungan ketika hidup sedang sulit.
Bahkan, kehadiran pasangan dapat memberikan perspektif lain. Ketika seseorang terlalu larut dalam masalahnya sendiri, pasangan mungkin dapat membantu melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda.
Namun, penting untuk membedakan antara dukungan yang sehat dan ketergantungan yang berlebihan. Pasangan seharusnya bukan satu-satunya sumber dukungan emosional seseorang.
Hubungan yang sehat memungkinkan kedua pihak saling mendukung tanpa kehilangan kemampuan untuk berdiri sendiri.
4. Hubungan memberikan rasa memiliki dan menjadi bagian dari kehidupan seseorang
Ada kebutuhan psikologis lain yang sering tidak disadari: kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu.
Ketika seseorang menjalin hubungan yang dekat, kehidupannya mulai memiliki ruang bersama dengan orang lain. Ada pengalaman yang dibagikan, kebiasaan yang dibangun, rencana yang dibuat, hingga berbagai kenangan yang hanya dipahami oleh keduanya.
Hal-hal sederhana seperti memiliki tempat untuk bercerita setelah pulang kerja, mengirim pesan tentang kejadian kecil sepanjang hari, atau memiliki seseorang yang mengetahui kebiasaan-kebiasaan pribadi dapat menciptakan rasa kedekatan.
Dari sinilah muncul perasaan "aku punya seseorang."
Perasaan memiliki hubungan yang bermakna dapat membuat seseorang merasa lebih terhubung dengan kehidupannya sendiri.
Menariknya, rasa memiliki tersebut juga dapat membuat seseorang bersedia melakukan berbagai kompromi. Misalnya, seseorang mungkin harus menyesuaikan rencana akhir pekan, belajar memahami kebiasaan pasangan, atau menghabiskan waktu untuk menyelesaikan konflik.
Jika hubungan tersebut dianggap penting, kerepotan tadi dapat dipandang sebagai bagian dari proses mempertahankan sesuatu yang memiliki nilai emosional.
Jadi, bukan berarti seseorang menyukai kerepotannya. Ia mungkin menyukai makna yang berada di balik kerepotan tersebut.
5. Menjalin hubungan dapat membantu seseorang berkembang secara pribadi
Hubungan yang sehat juga dapat menjadi ruang untuk belajar tentang diri sendiri.
Ketika hidup sendirian, seseorang mungkin dapat menjalankan banyak hal berdasarkan kebiasaannya sendiri. Tetapi ketika memiliki pasangan, ia harus berhadapan dengan orang yang memiliki karakter, kebutuhan, nilai, dan cara berpikir yang berbeda.
Situasi tersebut dapat memaksa seseorang belajar berkomunikasi dengan lebih baik.
Ia belajar mengungkapkan perasaan, mendengarkan, bernegosiasi, meminta maaf, menetapkan batasan, memahami perspektif orang lain, dan menyelesaikan konflik.
Semua proses tersebut terkadang melelahkan.
Namun, dari sanalah seseorang dapat berkembang.
Misalnya, orang yang sebelumnya sulit mengungkapkan perasaan mungkin belajar mengatakan apa yang sebenarnya ia butuhkan. Orang yang mudah marah mungkin belajar mengendalikan reaksinya. Sementara orang yang terlalu mengutamakan dirinya sendiri mungkin belajar mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Tentu saja, tidak semua hubungan otomatis membuat seseorang berkembang. Hubungan yang penuh manipulasi, kekerasan, atau kontrol berlebihan justru dapat memberikan dampak buruk.
Perkembangan pribadi lebih mungkin terjadi ketika hubungan memberikan ruang bagi kedua orang untuk tumbuh, belajar, dan tetap menjadi diri sendiri.
6. Seseorang dapat menemukan makna dan tujuan melalui hubungan
Alasan terakhir berkaitan dengan makna.
Bagi sebagian orang, hubungan romantis bukan sekadar tentang memiliki seseorang untuk menemani makan, bepergian, atau berbicara. Hubungan dapat menjadi bagian dari gambaran kehidupan yang ingin mereka bangun.
Misalnya, seseorang ingin memiliki pasangan untuk membangun keluarga, berbagi kehidupan jangka panjang, saling mendukung dalam mencapai tujuan, atau menciptakan berbagai pengalaman bersama.
Ketika hubungan dikaitkan dengan tujuan yang lebih besar, berbagai usaha yang dibutuhkan dalam hubungan dapat terasa lebih masuk akal.
Bangun lebih pagi untuk mengantar pasangan, meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritanya, berdiskusi mengenai masa depan, atau menyelesaikan konflik mungkin terasa merepotkan pada saat tertentu.
Namun, seseorang bisa tetap melakukannya karena melihat hubungan tersebut sebagai sesuatu yang penting bagi kehidupannya.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya mengejar kenyamanan.
Dalam banyak situasi, manusia bersedia melakukan sesuatu yang sulit apabila hal tersebut dianggap memiliki makna.
Seseorang bahkan bisa memilih kehidupan yang penuh tanggung jawab dibandingkan kehidupan yang sepenuhnya bebas jika ia merasa tanggung jawab tersebut sesuai dengan nilai dan tujuan hidupnya.
Mengapa "repot" tidak selalu berarti hubungan itu buruk?
Penting untuk memahami bahwa hubungan yang sehat tetap membutuhkan usaha.
Dua orang yang berbeda hampir pasti memiliki perbedaan pendapat, kebiasaan, kebutuhan, dan ekspektasi. Karena itu, hubungan tidak mungkin selalu berjalan mulus.
Ada kalanya seseorang harus berkompromi. Ada kalanya harus mengubah jadwal. Ada kalanya perlu meminta maaf atau mengakui kesalahan.
Semua itu bisa terasa merepotkan.
Namun, ada perbedaan besar antara kerepotan yang merupakan bagian normal dari hubungan dan kerepotan yang muncul karena hubungan yang tidak sehat.
Dalam hubungan yang sehat, usaha biasanya berlangsung dua arah. Kedua orang sama-sama berusaha menjaga hubungan, menghargai batasan, mendengarkan, dan menyelesaikan masalah.
Sebaliknya, jika hanya satu pihak yang terus-menerus berkorban sementara pihak lainnya tidak menghargai atau bahkan memanfaatkan pengorbanan tersebut, kondisi itu perlu diperhatikan.
Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa masalah. Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan cara yang saling menghormati.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya mencari kenyamanan
Jika dipikirkan secara sederhana, hidup sendiri memang dapat terasa lebih mudah dalam beberapa hal.
Tidak perlu menyesuaikan jadwal dengan pasangan. Tidak perlu menjelaskan keberadaan kepada orang lain. Tidak perlu menghadapi konflik hubungan. Tidak perlu memikirkan kebutuhan orang lain setiap saat.
Tetapi manusia tidak hanya mencari hidup yang mudah.
Banyak orang juga mencari kedekatan, kasih sayang, rasa diterima, dukungan, pengalaman bersama, pertumbuhan, dan makna.
Itulah mengapa seseorang bisa mengatakan bahwa hubungan terkadang membuatnya lelah, tetapi pada saat yang sama tetap merasa hubungan tersebut berharga.
Kerepotan bukan selalu tanda bahwa seseorang berada dalam hubungan yang salah. Terkadang, kerepotan adalah bagian dari konsekuensi ketika seseorang memilih untuk berbagi kehidupannya dengan orang lain.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah usaha tersebut seimbang dan apakah hubungan memberikan lebih banyak rasa aman, penghargaan, dan kesempatan untuk berkembang daripada rasa takut, tertekan, dan kehilangan diri sendiri.
Pada akhirnya, hubungan yang baik bukan hubungan yang membuat seseorang tidak pernah merasa repot. Hubungan yang baik adalah hubungan yang membuat kedua orang merasa bahwa usaha yang mereka lakukan memiliki arti.