JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa sebagian orang memang sulit diajak berbicara karena sikapnya yang cenderung merasa superior.
Mereka kerap membuat orang lain merasa tidak nyaman akibat sikap yang penuh rasa berhak tanpa alasan jelas.
Orang dengan tipe seperti ini biasanya berbicara dengan cara yang kasar dan cenderung meremehkan orang lain.
Dilansir dari laman YourTango pada Senin (17/8), berikut sembilan ucapan ciri khas yang biasa diucapkan orang yang sulit diajak berteman dalam kesehariannya.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Cafe Matcha Viral di Bandung, Punya Konsep Tap Bar Matcha Pertama yang Unik
1. "Enak ya jadi kamu"
Rasa cemburu dan kesedihan yang tidak terkendali sering kali terlihat jelas dari cara seseorang berbicara.
Mereka dapat mengalihkan atau bahkan merusak kebahagiaan orang lain hanya dengan satu kalimat sederhana.
Ucapan ini digunakan untuk meremehkan pencapaian orang lain seolah keberhasilan tersebut hanya karena bantuan pihak lain.
Mereka sulit memahami bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kendali penuh atas arah hidupnya masing-masing.
Baca Juga: Jangan Salah Nilai, Ini 7 Alasan Gamer Justru Bisa Menjadi Pasangan yang Ideal
2. "Sudah kuduga akan begini"
Orang yang terlalu percaya diri dan selalu ingin benar cenderung mengucapkan kalimat semacam ini.
Mereka tidak mampu menerima kesalahan sehingga selalu mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain di sekitarnya.
Sikap ini membuat mereka sulit terlibat dalam perdebatan sehat karena terlalu fokus mempertahankan kebenaran dirinya.
Mereka mengharapkan semua orang mengikuti egonya meski jelas-jelas sedang berada dalam posisi yang salah.
3. "Cuma bercanda, kok"
Jika seseorang ingin bersikap kasar, setidaknya ia harus berani bertanggung jawab atas ucapannya sendiri.
Orang yang sulit diajak berteman sering menghindari tanggung jawab dengan berlindung di balik alasan bercanda.
Sikap kasar yang disamarkan sebagai candaan tetap tidak bisa dianggap sebagai kejujuran yang terbuka.
Kebiasaan pasif-agresif ini membuat mereka sulit dijadikan teman maupun pasangan dalam sebuah hubungan.
4. "Aku memang begini orangnya"
Setiap orang sebenarnya dapat berubah selama memiliki keinginan yang kuat untuk melakukannya.
Ketika seseorang menggunakan alasan ini untuk membenarkan sikap buruknya, hal itu menandakan arah yang keliru.
Mereka berusaha menjadikan masalah pribadinya sebagai tanggung jawab orang lain di sekitarnya.
Padahal mereka sebenarnya memiliki kendali penuh atas tindakan dan perilaku yang mereka tunjukkan sendiri.
5. "Itu keputusan yang bodoh"
Mengkritik orang lain sering menjadi cara bagi orang yang sulit diajak berteman untuk merasa lebih baik.
Mereka menggunakan rasa malu dan kekejaman untuk menjatuhkan orang lain tanpa perlu mengubah dirinya sendiri.
Ucapan semacam ini tidak berasal dari niat mendukung, melainkan dari rasa tidak aman yang mendalam.
Kalimat ini digunakan untuk mencari kenyamanan sesaat di tengah ketidakstabilan yang dirasakan dalam dirinya.
6. "Kamu mau aku bilang apa?"
Kalimat ini sering muncul dari orang yang minim akal sehat dalam menjalani interaksi sosial.
Mereka menolak percaya bahwa dirinya memiliki kendali penuh atas perilaku yang ditunjukkannya sendiri.
Ketika sesuatu berjalan buruk, mereka selalu mencari orang lain untuk disalahkan atas situasi tersebut.
Sikap ini membuat mereka menyulitkan orang di sekitarnya karena selalu membutuhkan arahan dan kambing hitam.
7. "Siapa yang peduli?"
Orang yang benar-benar sulit diajak berteman sering menggunakan kalimat ini untuk meremehkan perasaan orang lain.
Mereka tidak dapat menerima kebahagiaan atau rasa percaya diri orang lain karena memicu gejolak dalam dirinya.
Sikap ini justru bertentangan dengan apa yang sebenarnya mereka rasakan di dalam hati mereka sendiri.
Karena enggan bertanggung jawab atas perasaannya, mereka berharap orang lain ikut merasa sengsara bersamanya.
8. "Itu belum seberapa, coba dengar..."
Ketika perhatian tertuju pada orang lain, mereka sulit menerima situasi tersebut dengan lapang dada.
Mereka selalu ingin menjadi pusat perhatian meski harus memotong pembicaraan atau menyaingi cerita orang lain.
Sikap ini terasa melelahkan bagi orang di sekitarnya, namun tetap menjadi kebiasaan alami bagi mereka.
Mereka tidak benar-benar peduli terhadap ucapan orang lain kecuali jika hal itu menguntungkan dirinya sendiri.
9. "Hidup memang tidak adil"
Orang yang merasa paling berhak sering mengaitkan keadilan dengan seberapa layak dirinya menerima sesuatu.
Mereka menganggap dirinya sebagai korban yang membutuhkan perhatian setiap kali menghadapi ketidakadilan sekecil apa pun.
Padahal ketidakadilan sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan layak atau tidaknya seseorang menerima suatu hal.
Mengharapkan orang lain selalu menghibur mereka atas ketidaknyamanan kecil terasa melelahkan bagi orang di sekitarnya.