JawaPos.com - Memiliki hubungan yang bahagia dan sehat bukan berarti Anda dan pasangan tidak pernah bertengkar, tidak pernah kecewa, atau selalu memiliki pandangan yang sama. Justru, hubungan yang sehat adalah hubungan yang mampu melewati perbedaan, konflik, dan masa-masa sulit tanpa kehilangan rasa hormat dan kepedulian satu sama lain.
Dalam psikologi hubungan, kualitas sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar rasa cinta yang dimiliki dua orang. Cara pasangan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, memberikan dukungan, menjaga kepercayaan, dan menghargai batas pribadi juga memiliki peran yang sangat besar.
Banyak orang mengira hubungan yang bahagia terjadi ketika seseorang menemukan "orang yang tepat". Padahal, hubungan yang sehat juga dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan yang tepat.
Cinta mungkin menjadi awal dari sebuah hubungan, tetapi cara Anda memperlakukan satu sama lainlah yang menentukan apakah hubungan tersebut dapat bertahan.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (14/8), jika Anda ingin memiliki hubungan yang lebih bahagia, dewasa, dan sehat, berikut tujuh kunci yang penting untuk dipegang.
1. Komunikasi yang Jujur, Terbuka, dan Aman
Komunikasi adalah salah satu fondasi terpenting dalam sebuah hubungan.
Bukan hanya tentang seberapa sering Anda berbicara dengan pasangan, tetapi tentang apakah Anda merasa aman untuk mengatakan apa yang sebenarnya Anda rasakan.
Ada perbedaan besar antara berkata, "Kamu memang tidak pernah peduli kepadaku," dengan mengatakan, "Aku merasa kurang diperhatikan akhir-akhir ini dan aku ingin kita lebih sering meluangkan waktu bersama."
Kalimat pertama cenderung menyerang karakter pasangan. Kalimat kedua menjelaskan perasaan dan kebutuhan.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan tidak seharusnya menjadi musuh yang harus dikalahkan dalam setiap percakapan. Ketika ada masalah, tujuan komunikasi bukanlah mencari siapa yang paling benar, melainkan memahami apa yang sedang terjadi dan mencari jalan keluar bersama.
Komunikasi yang sehat juga berarti berani membicarakan hal-hal yang tidak nyaman.
Perasaan kecewa, kebutuhan emosional, batas pribadi, masalah keuangan, kecemburuan, rencana masa depan, bahkan ketidakpuasan dalam hubungan sebaiknya tidak terus-menerus disimpan hanya karena takut memicu konflik.
Masalah kecil yang dibicarakan dengan tenang biasanya jauh lebih mudah diselesaikan daripada masalah kecil yang dipendam selama berbulan-bulan hingga berubah menjadi kebencian.
Namun, komunikasi yang baik bukan berarti harus selalu berbicara.
Ada saat ketika seseorang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Karena itu, mengatakan, "Aku sedang terlalu emosi. Bolehkah kita membicarakannya lagi setelah aku lebih tenang?" bisa jauh lebih sehat daripada memaksakan percakapan ketika emosi sedang memuncak.
Kuncinya: bicarakan masalahnya, bukan menghancurkan harga diri orangnya.
2. Belajar Menyelesaikan Konflik, Bukan Menghindarinya
Tidak ada hubungan yang benar-benar bebas konflik.
Dua orang yang berbeda pasti memiliki kebutuhan, kebiasaan, pengalaman, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, pertengkaran bukan otomatis tanda bahwa hubungan Anda gagal.
Yang lebih penting adalah bagaimana Anda bertengkar.
Dalam hubungan yang tidak sehat, konflik sering berubah menjadi kompetisi. Masing-masing ingin menang, membuktikan bahwa dirinya benar, atau membuat pasangan merasa bersalah.
Akibatnya, pembicaraan yang awalnya hanya mengenai satu masalah dapat berubah menjadi daftar kesalahan selama bertahun-tahun.
"Masalahmu sekarang juga sama seperti waktu itu."
"Kamu memang dari dulu seperti ini."
"Kamu tidak pernah berubah."
Kalimat-kalimat seperti itu biasanya tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, pasangan akan menjadi defensif dan semakin sulit mendengarkan.
Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk membedakan antara masalah yang harus diselesaikan dan orang yang harus dihormati.
Anda boleh marah terhadap perilaku pasangan, tetapi bukan berarti Anda harus merendahkan pasangan sebagai manusia.
Cobalah berfokus pada satu masalah dalam satu waktu. Dengarkan sudut pandang pasangan sebelum memberikan pembelaan. Jika emosi terlalu tinggi, ambillah jeda dan kembali membicarakannya setelah keduanya lebih tenang.
Dan yang tidak kalah penting, belajar meminta maaf.
Permintaan maaf yang sehat bukan sekadar "maaf kalau kamu merasa tersinggung". Permintaan maaf yang lebih bermakna adalah ketika seseorang mampu mengakui tindakannya:
"Maaf, tadi cara bicaraku memang menyakitimu. Aku seharusnya tidak mengatakan itu."
Kemampuan mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan. Justru, itu merupakan salah satu bentuk kedewasaan emosional.
3. Bangun Kepercayaan, Bukan Sekadar Menuntutnya
Kepercayaan tidak muncul hanya karena seseorang berkata, "Percayalah kepadaku."
Kepercayaan dibangun dari perilaku yang konsisten.
Ketika seseorang mengatakan akan melakukan sesuatu lalu benar-benar melakukannya, kepercayaan tumbuh.
Ketika seseorang dapat menjaga rahasia pasangannya, kepercayaan tumbuh.
Ketika seseorang jujur meskipun kejujuran tersebut tidak selalu menyenangkan, kepercayaan tumbuh.
Sebaliknya, kebohongan kecil yang dilakukan berulang kali dapat perlahan-lahan merusak rasa aman dalam hubungan.
Kepercayaan juga berkaitan dengan prediktabilitas emosional. Pasangan perlu merasa bahwa dirinya tidak harus terus-menerus berjalan di atas "kulit telur" karena takut menghadapi ledakan emosi, ancaman, manipulasi, atau hukuman diam.
Namun, membangun kepercayaan bukan berarti harus mengontrol pasangan.
Memeriksa ponsel setiap saat, meminta lokasi sepanjang hari, melarang pasangan berteman dengan orang tertentu, atau menuntut laporan tentang setiap aktivitas bukanlah pengganti kepercayaan.
Hubungan yang sehat memiliki batas yang jelas, tetapi tetap memberikan ruang bagi individu untuk menjadi dirinya sendiri.
Kepercayaan pada akhirnya berbunyi seperti:
"Aku tidak harus mengawasi kamu setiap saat untuk merasa aman dalam hubungan ini."
Dan jika kepercayaan pernah rusak, memperbaikinya membutuhkan waktu. Tidak cukup hanya meminta pasangan untuk segera melupakan kejadian tersebut. Orang yang terluka membutuhkan konsistensi, kejujuran, dan perubahan perilaku yang nyata.
4. Jangan Kehilangan Diri Sendiri Hanya Karena Sedang Jatuh Cinta
Salah satu kesalahpahaman tentang cinta adalah anggapan bahwa hubungan yang sangat dekat berarti dua orang harus melakukan semuanya bersama.
Padahal, hubungan yang sehat tidak menghapus identitas pribadi.
Anda tetap membutuhkan teman, keluarga, pekerjaan, hobi, waktu sendiri, tujuan pribadi, dan ruang untuk berkembang.
Begitu juga dengan pasangan.
Mencintai seseorang tidak berarti Anda harus memiliki seluruh kehidupannya. Pasangan bukanlah seluruh dunia Anda.
Justru, dua orang yang tetap memiliki kehidupan pribadi yang sehat dapat membawa pengalaman baru ke dalam hubungan.
Masalah muncul ketika hubungan berubah menjadi ketergantungan yang ekstrem. Seseorang mulai merasa tidak mampu bahagia tanpa pasangannya, kehilangan teman-temannya, meninggalkan minat pribadi, atau merasa bersalah setiap kali ingin melakukan sesuatu sendiri.
Hubungan yang sehat memberikan kedekatan sekaligus kebebasan.
Ada waktu untuk berkata, "Mari kita lakukan bersama."
Tetapi ada juga waktu untuk berkata, "Kamu nikmati waktumu, aku juga akan menikmati waktuku."
Kemandirian bukan berarti tidak membutuhkan pasangan.
Kemandirian berarti Anda mampu mencintai pasangan tanpa kehilangan hubungan dengan diri sendiri.
5. Belajar Memberikan Apresiasi dan Rasa Terima Kasih
Seiring berjalannya waktu, sesuatu yang dulu terasa istimewa dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Di awal hubungan, pesan sederhana seperti "sudah makan?" mungkin terasa sangat berarti.
Namun setelah bertahun-tahun bersama, perhatian kecil tersebut bisa dianggap sebagai kewajiban.
Di sinilah apresiasi menjadi penting.
Jangan menunggu pasangan melakukan sesuatu yang luar biasa untuk mengatakan terima kasih.
Hargai hal-hal sederhana.
"Terima kasih sudah mendengarkanku."
"Aku menghargai kamu sudah berusaha memahami aku."
"Terima kasih sudah membantu hari ini."
"Aku senang bisa menjalani hari-hari ini bersamamu."
Kalimat sederhana seperti itu dapat membantu pasangan merasa dilihat dan dihargai.
Apresiasi bukan berarti memuji pasangan secara berlebihan. Intinya adalah menunjukkan bahwa Anda memperhatikan usaha yang dilakukan pasangan.
Banyak hubungan tidak hancur karena satu masalah besar, tetapi perlahan menjadi dingin karena kedua orang di dalamnya berhenti menunjukkan penghargaan.
Ketika seseorang terus-menerus merasa tidak dihargai, ia dapat mulai bertanya dalam dirinya:
"Untuk apa aku berusaha kalau semua yang kulakukan dianggap biasa?"
Karena itu, jangan hanya berbicara ketika pasangan melakukan kesalahan. Berikan perhatian juga ketika pasangan melakukan sesuatu dengan baik.
Hubungan membutuhkan koreksi ketika ada masalah, tetapi juga membutuhkan apresiasi ketika sesuatu berjalan dengan baik.
6. Jadilah Tempat yang Aman Secara Emosional
Salah satu hal paling berharga dalam hubungan adalah perasaan bahwa Anda bisa menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus takut dihakimi.
Tempat yang aman secara emosional bukan berarti pasangan harus selalu setuju dengan Anda.
Anda tetap boleh berbeda pendapat.
Anda tetap boleh dikritik ketika melakukan kesalahan.
Tetapi kritik tersebut disampaikan dengan rasa hormat.
Pasangan yang merasa aman secara emosional tahu bahwa ketika dirinya sedang sedih, kecewa, takut, atau gagal, ia tidak akan langsung dipermalukan.
Ada perbedaan antara mengatakan:
"Kamu terlalu sensitif."
dengan:
"Aku mungkin tidak melihat masalahnya seperti kamu, tapi aku ingin memahami kenapa hal itu membuatmu terluka."
Kalimat kedua menciptakan ruang untuk koneksi.
Menjadi tempat yang aman juga berarti belajar mendengarkan tanpa selalu buru-buru memberikan solusi.
Terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:
"Aku mengerti ini pasti berat buatmu."
"Aku di sini."
"Terima kasih sudah mau menceritakannya."
Dalam hubungan jangka panjang, rasa aman seperti ini sangat penting karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Akan ada kehilangan, kegagalan, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, dan berbagai situasi yang menguji seseorang.
Ketika dunia terasa berat, hubungan seharusnya menjadi salah satu tempat di mana seseorang bisa mendapatkan dukungan, bukan sumber ketakutan tambahan.
7. Pilih Pasanganmu Setiap Hari, Bukan Hanya Saat Semuanya Mudah
Cinta bukan hanya tentang perasaan yang muncul secara spontan.
Perasaan bisa naik dan turun.
Ada hari ketika Anda merasa sangat dekat dengan pasangan. Ada pula hari ketika Anda merasa lelah, kesal, atau membutuhkan ruang.
Karena itu, hubungan yang bertahan lama membutuhkan komitmen dalam bentuk tindakan sehari-hari.
Memilih pasangan setiap hari berarti tetap berusaha memperlakukan pasangan dengan baik bahkan ketika suasana hati sedang buruk.
Berarti tetap berusaha mendengarkan meskipun percakapan terasa sulit.
Berarti tetap menyediakan waktu untuk hubungan meskipun pekerjaan sedang sibuk.
Berarti tidak membiarkan hubungan berjalan hanya berdasarkan kebiasaan.
Hubungan perlu dirawat.
Bayangkan hubungan seperti sebuah taman. Anda tidak bisa menanam sesuatu lalu meninggalkannya bertahun-tahun dan berharap tanaman tersebut tetap tumbuh dengan baik.
Ia membutuhkan perhatian.
Begitu juga hubungan.
Kencan tidak harus mahal. Percakapan sebelum tidur, makan bersama tanpa memainkan ponsel, berjalan sore, memberikan pelukan, mengirim pesan perhatian, atau sekadar menanyakan bagaimana hari pasangan dapat menjadi bentuk investasi emosional yang sederhana tetapi berarti.
Yang penting bukan selalu seberapa besar tindakan tersebut, melainkan konsistensinya.
Hubungan Sehat Bukan Hubungan yang Sempurna
Pada akhirnya, hubungan yang bahagia bukanlah hubungan tanpa masalah.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang bersedia menghadapi masalah sebagai sebuah tim.
Mereka bisa berbeda pendapat tanpa saling menghancurkan.
Mereka bisa meminta maaf tanpa merasa kalah.
Mereka bisa mengatakan "aku butuh kamu" tanpa kehilangan kemandirian.
Mereka bisa mengatakan "aku butuh ruang" tanpa membuat pasangan merasa ditolak.
Mereka bisa saling mengkritik tanpa merendahkan.
Dan mereka bisa mencintai satu sama lain tanpa menjadikan cinta sebagai alasan untuk mengontrol.
Tujuh kunci di atas dapat dirangkum secara sederhana:
komunikasi yang sehat, kemampuan menyelesaikan konflik, kepercayaan, kemandirian, apresiasi, keamanan emosional, dan komitmen.
Tidak ada hubungan yang akan selalu berjalan mulus. Akan ada hari ketika Anda dan pasangan salah memahami satu sama lain. Akan ada kekecewaan. Akan ada perbedaan.
Namun, kualitas hubungan sering kali terlihat bukan ketika semuanya berjalan baik, melainkan ketika keduanya menghadapi sesuatu yang sulit.
Jadi, jika Anda ingin memiliki hubungan yang bahagia dan sehat, jangan hanya bertanya:
"Apakah aku mencintai orang ini?"
Cobalah bertanya juga:
"Apakah cara aku mencintainya membuat hubungan ini menjadi tempat yang aman, sehat, dan penuh rasa hormat?"
Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang siapa yang kita pilih.
Cinta juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang kita pilih.