← Beranda
7 Bahasa Tubuh Ini Jadi Tanda Kamu Terjebak dalam Hubungan yang Toxic, Apa Saja?
Setyo Adi NugrohoSenin, 6 April 2026 | 01.06 WIB
Ilustrasi Hubungan Toxic (stockking/freepik)

JawaPos.com – Menjalani hubungan yang tidak sehat atau toxic dapat menguras energi, baik secara emosional, mental, maupun fisik.

Sering kali, seseorang tidak langsung menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam hubungan seperti itu.

Dalam kajian psikologi, salah satu cara untuk mengenalinya adalah dengan memperhatikan bahasa tubuh, yaitu sinyal non-verbal yang muncul secara alami dan kerap tidak disadari.

Bahasa tubuh dapat mencerminkan perasaan terdalam, terutama ketika kata-kata tidak mampu lagi menggambarkan apa yang dirasakan.

Dalam hubungan yang toxic, tubuh biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti stres berkepanjangan, rasa tidak nyaman, hingga ketakutan atau tekanan.

Contohnya bisa terlihat dari perubahan sikap saat bersama pasangan, ekspresi wajah yang tampak tidak natural, atau kebiasaan menghindar dan menunduk ketika terjadi konflik.

Para psikolog menilai bahwa memahami bahasa tubuh dapat membantu mengidentifikasi apakah seseorang sedang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Mengutip geediting, berikut tujuh bentuk bahasa tubuh yang sering muncul pada individu yang berada dalam hubungan toxic.

Simak penjelasannya agar Anda bisa lebih peka terhadap tanda-tanda tersebut, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar Anda.

1. Mudah Gelisah dan Emosi Tidak Stabil

Salah satu tanda pertama bahwa Anda berada dalam hubungan yang tidak sehat adalah perasaan gelisah yang terus-menerus. 

Anda mungkin merasa sering cemas tanpa alasan yang jelas, mudah marah, atau bahkan merasa sedih tanpa sebab yang pasti.

Ketika seseorang berada dalam hubungan yang toxic, tubuhnya merespons dengan meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol. 

Ini bisa membuat Anda lebih sensitif terhadap kritik, sulit menikmati momen bahagia, dan bahkan merasa takut untuk berbicara secara jujur kepada pasangan. 

Jika Anda mendapati diri Anda merasa tidak tenang setiap kali berada di dekat pasangan atau saat berinteraksi dengannya, ini bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang salah dalam hubungan tersebut.

2. Sering Merasa Tidak Nyaman Secara Fisik Tanpa Alasan yang Jelas

Pernahkah Anda merasa sakit kepala, nyeri otot, atau perut terasa tidak nyaman, tetapi hasil pemeriksaan medis menunjukkan tidak ada masalah kesehatan? 

Bisa jadi ini adalah respons tubuh terhadap stres emosional yang berkepanjangan.

Ketika Anda berada dalam hubungan yang penuh tekanan, tubuh Anda cenderung mengalami ketegangan yang berlebihan. 

Ini bisa menyebabkan nyeri pada leher, bahu, atau bahkan gangguan pencernaan seperti maag dan sindrom iritasi usus besar. 

Tubuh Anda berbicara kepada Anda dengan cara yang sering kali tidak Anda sadari, dan jika gejala-gejala ini terus berulang tanpa penyebab medis yang jelas, mungkin sudah waktunya untuk mengevaluasi hubungan yang sedang Anda jalani.

3. Kesulitan Tidur atau Sering Mimpi Buruk

Tidur adalah waktu bagi tubuh untuk memulihkan energi, tetapi ketika pikiran Anda dipenuhi dengan kecemasan dan tekanan akibat hubungan yang buruk, tidur bisa menjadi tantangan besar. 

Anda mungkin mengalami insomnia, sering terbangun di malam hari, atau bahkan mengalami mimpi buruk yang mengganggu.

Ketika otak terus-menerus dalam kondisi stres, sistem saraf sulit untuk rileks, sehingga tidur nyenyak menjadi hal yang sulit dicapai. 

Kurang tidur juga bisa memperburuk kondisi mental dan emosional Anda, membuat Anda lebih mudah merasa lelah, sensitif, dan kesulitan berpikir jernih. 

Jika pola tidur Anda terganggu secara signifikan sejak menjalani hubungan tertentu, hal ini patut menjadi perhatian.

4. Merasa Lelah Sepanjang Waktu

Hubungan yang tidak sehat bisa sangat menguras energi, bahkan ketika Anda tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. 

Anda mungkin sering merasa lelah, tidak bersemangat, atau bahkan merasa tidak memiliki motivasi untuk menjalani hari.

Stres emosional yang berkepanjangan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan mengganggu produksi hormon yang bertanggung jawab atas keseimbangan energi dalam tubuh. 

Rasa lelah ini bisa bersifat mental maupun fisik, membuat Anda merasa lesu dan tidak memiliki gairah untuk melakukan hal-hal yang dulu Anda sukai.

5. Nafsu Makan Berkurang atau Menghilang

Ketika seseorang mengalami tekanan emosional yang tinggi, nafsu makan bisa menurun secara drastis. 

Anda mungkin merasa mual saat melihat makanan, kehilangan selera terhadap makanan favorit Anda, atau bahkan merasa perut terasa penuh meskipun belum makan.

Ini adalah salah satu cara tubuh merespons stres dengan mengubah pola metabolisme dan sistem pencernaan Anda. 

Jika dibiarkan terus-menerus, kurangnya asupan makanan yang cukup dapat menyebabkan penurunan berat badan yang tidak sehat serta kekurangan nutrisi yang diperlukan tubuh.

6. Makan Berlebihan untuk Mengalihkan Stres

Sebaliknya, beberapa orang justru mengalami peningkatan nafsu makan yang tidak terkendali saat berada dalam hubungan yang toxic. 

Makanan sering kali menjadi pelarian untuk mengatasi stres dan menghibur diri.

Anda mungkin tanpa sadar mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, atau karbohidrat dalam jumlah berlebihan sebagai cara untuk mendapatkan rasa nyaman sesaat. 

Namun, kebiasaan ini justru dapat memicu masalah kesehatan lain, seperti kenaikan berat badan yang tidak sehat, gangguan pencernaan, dan bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.

7. Sering Sakit Tanpa Penyebab yang Jelas

Jika Anda mulai sering mengalami flu, demam, atau penyakit ringan lainnya yang muncul berulang kali, ini bisa menjadi tanda bahwa sistem kekebalan tubuh Anda melemah akibat stres berkepanjangan.

Stres yang tidak terkelola dapat menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap infeksi, memperlambat proses penyembuhan, dan membuat Anda lebih mudah merasa lelah atau tidak enak badan. 

Ketika tubuh Anda sering jatuh sakit tanpa alasan yang jelas, cobalah perhatikan apakah ada faktor emosional atau psikologis dalam hidup Anda yang mungkin berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho