← Beranda
7 Sifat Ini Sering Ditunjukkan Orang Tua yang Iri dengan Kesuksesan Anak Sendiri, Apa Saja?
Setyo Adi Nugroho• Senin, 6 April 2026 | 00.32 WIB
Ilustrasi sifat yang sering ditunjukkan oleh orang tua yang sebenarnya merasa iri dengan kesuksesan anaknya. (Freepik)

JawaPos.com - Tidak semua orang tua mampu sepenuh hati merasa bangga atas keberhasilan anaknya.

Walaupun idealnya mereka menjadi penyokong utama, pada kenyataannya ada orang tua yang justru merasa tersaingi atau kurang nyaman melihat pencapaian anak.

Perasaan tersebut kerap hadir tanpa disadari, muncul melalui kritik yang terselubung, tuntutan yang berlebihan, atau sikap yang sulit merasa puas.

Tanpa maksud yang jelas untuk menyakiti, sebagian orang tua bisa memperlihatkan tanda-tanda kecemburuan terhadap keberhasilan anak mereka sendiri.

Baca Juga: Bukan Tentang Nilai yang Sempurna: Inilah 6 Sifat Penting yang Dibutuhkan Setiap Anak, Menurut Psikologi

Mengutip Hack Spirit, berikut tujuh karakteristik yang sering terlihat pada orang tua yang diam-diam merasa iri terhadap kesuksesan anaknya.

1) Ambisi Pribadi yang Belum Terselesaikan

Setiap individu memiliki impian dan cita-cita yang ingin mereka capai dalam hidupnya. 

Namun, tidak semua orang berhasil mewujudkannya. Beberapa orang tua mungkin pernah memiliki harapan besar terhadap masa depan mereka sendiri, tetapi karena berbagai keterbatasan, entah itu ekonomi, keadaan keluarga, atau pilihan hidup yang mereka ambil, impian tersebut tidak pernah terwujud. 

Ketika mereka melihat anak mereka berhasil mencapai sesuatu yang pernah mereka dambakan, perasaan iri bisa muncul secara tidak sadar. 

Mereka mungkin merasa bahwa anak mereka hidup dalam kondisi yang lebih baik, memiliki kesempatan yang lebih luas, dan mampu meraih sesuatu yang bagi mereka hanya menjadi angan-angan.

Ketidaksadaran akan rasa iri ini sering kali muncul dalam bentuk sikap yang tampaknya sepele, seperti membandingkan pencapaian anak dengan pengalaman mereka sendiri atau mencoba mengambil kredit atas keberhasilan anak. 

Dalam beberapa kasus, mereka bahkan bisa meremehkan keberhasilan tersebut, bukan karena tidak bangga, tetapi lebih karena ada perasaan kecewa terhadap diri sendiri yang tidak bisa mereka akui secara langsung.

2) Takut Menjadi Usang

Sebagai orang tua, banyak individu yang merasa memiliki peran penting dalam kehidupan anak-anak mereka. 

Mereka terbiasa menjadi tempat bergantung, pemberi nasihat, serta pengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan anak. 

Namun, seiring bertambahnya usia, anak mulai tumbuh dewasa, mandiri, dan mampu membuat keputusan sendiri. 

Dalam kondisi ini, beberapa orang tua mulai merasa bahwa peran mereka semakin berkurang dan takut bahwa mereka tidak lagi dibutuhkan seperti sebelumnya.

Kesuksesan anak sering kali dijadikan indikator bahwa mereka telah mampu menjalani hidup sendiri tanpa banyak bergantung pada orang tua. 

Bagi sebagian orang tua, hal ini bisa memicu kecemasan dan ketakutan bahwa hubungan mereka dengan anak akan semakin menjauh. 

Rasa takut ini bisa diwujudkan dalam berbagai cara, mulai dari sikap defensif, kritik yang berlebihan terhadap keputusan anak, hingga ketidakmampuan untuk memberikan dukungan penuh terhadap pencapaian anak. 

Dalam beberapa kasus, mereka bahkan berusaha mempertahankan relevansi mereka dengan mencampuri atau mengontrol keputusan anak, meskipun hal tersebut sudah tidak diperlukan.

3) Keengganan untuk Menerima Perubahan

Kesuksesan sering kali membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan seseorang. 

Bagi anak yang telah meraih keberhasilan, perubahan tersebut bisa berupa peningkatan kesibukan, perubahan prioritas, atau bahkan cara mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. 

Namun, tidak semua orang tua siap menerima perubahan ini. Mereka yang terbiasa dengan pola hubungan yang lebih dekat dan intens dengan anak mungkin merasa bahwa keberhasilan tersebut justru menjauhkan mereka dari anak.

Sebagian orang tua mungkin mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa anak mereka kini memiliki kehidupan sendiri yang berbeda dari yang mereka bayangkan. 

Mereka merasa tersisih dan kehilangan peran penting dalam kehidupan anak. 

Perasaan ini bisa muncul dalam bentuk kecemburuan yang tidak disadari atau kritik yang terkesan tidak konstruktif. 

Mereka mungkin mengeluhkan betapa sibuknya anak hingga sulit dihubungi atau merasa tidak lagi menjadi prioritas dalam hidup anak. 

Jika tidak disadari dan diatasi, hal ini bisa menciptakan jarak emosional yang semakin besar antara orang tua dan anak.

4) Kesulitan Melepaskan Kendali

Sejak kecil, banyak anak tumbuh dalam lingkungan di mana orang tua memegang kendali penuh atas kehidupan mereka. 

Mulai dari pendidikan, pergaulan, hingga keputusan-keputusan besar dalam hidup, orang tua sering kali menjadi sosok yang menentukan arah. 

Namun, seiring bertambahnya usia, anak mulai mengembangkan pemikiran dan kemandirian sendiri. 

Ketika anak berhasil mencapai kesuksesan, mereka semakin mandiri dan tidak lagi memerlukan bimbingan atau arahan dari orang tua dalam banyak hal.

Bagi beberapa orang tua, kehilangan kendali ini bisa menjadi pengalaman yang sulit diterima. 

Mereka merasa bahwa mereka tidak lagi memiliki pengaruh besar dalam kehidupan anak, dan hal ini dapat memicu rasa tidak nyaman atau bahkan kecemburuan. 

Bentuk dari perasaan ini bisa beragam, mulai dari sering memberikan saran yang tidak diminta, mengkritik keputusan anak, hingga mempertanyakan pilihan-pilihan yang telah terbukti berhasil. 

Dalam beberapa kasus, mereka bahkan bisa mencoba memaksakan pandangan mereka agar tetap relevan dalam kehidupan anak.

5) Membandingkan Timeline Pribadi

Tanpa disadari, banyak orang tua memiliki kebiasaan untuk membandingkan pencapaian anak dengan pencapaian mereka sendiri di usia yang sama. 

Jika mereka merasa bahwa anak lebih sukses daripada mereka dulu, perasaan iri bisa muncul dalam bentuk komentar yang meremehkan atau sikap yang kurang apresiatif. 

Sebaliknya, jika mereka merasa anak belum mencapai sesuatu yang mereka harapkan, mereka bisa memberikan tekanan berlebihan agar anak mencapai standar yang mereka anggap ideal.

Perbandingan ini sering kali tidak disadari, tetapi bisa berdampak besar pada hubungan antara orang tua dan anak. 

Anak mungkin merasa bahwa pencapaian mereka tidak pernah cukup baik di mata orang tua atau bahwa setiap kesuksesan mereka selalu diukur berdasarkan standar yang tidak realistis. 

Jika terus berlanjut, hal ini bisa membuat anak merasa tidak dihargai dan kehilangan motivasi untuk berbagi kebahagiaan mereka dengan orang tua.

6) Berjuang dengan Harga Diri

Kesuksesan anak bisa menjadi refleksi bagi orang tua, baik dalam hal kebanggaan maupun tantangan bagi harga diri mereka. 

Orang tua yang merasa belum cukup sukses dalam hidupnya mungkin melihat keberhasilan anak sebagai pengingat atas kegagalan atau keterbatasan mereka sendiri. 

Perasaan ini bisa menimbulkan rasa rendah diri yang sulit diakui secara terbuka.

Dalam beberapa kasus, orang tua yang berjuang dengan harga diri mereka sendiri bisa menunjukkan sikap yang kurang mendukung terhadap kesuksesan anak. 

Mereka mungkin lebih sering mengkritik daripada memberikan pujian, atau bahkan menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap pencapaian anak. 

Hal ini bukan karena mereka tidak bangga, tetapi lebih karena mereka merasa tidak nyaman menghadapi perasaan mereka sendiri.

7) Mengabaikan Pencapaian Diri Sendiri

Orang tua yang merasa iri terhadap kesuksesan anak sering kali lupa bahwa mereka sendiri juga memiliki pencapaian dalam hidup. 

Mereka terlalu fokus pada perbandingan sehingga melupakan peran besar yang telah mereka mainkan dalam membesarkan anak hingga mencapai keberhasilan tersebut. 

Padahal, tanpa dukungan, kerja keras, dan pengorbanan mereka, anak mungkin tidak akan berada di posisi saat ini.

Dalam beberapa kasus, orang tua bahkan bisa merasa bahwa kesuksesan anak adalah sesuatu yang "milik" mereka, bukan hasil dari kerja keras anak secara mandiri. 

Mereka mungkin sering mengklaim bahwa keberhasilan anak adalah berkat didikan dan usaha mereka sendiri, tanpa mengakui bahwa anak juga memiliki peran besar dalam mencapai kesuksesan tersebut. 

Jika tidak disadari, hal ini bisa membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi kurang sehat, karena anak merasa bahwa pencapaian mereka tidak sepenuhnya diakui sebagai hasil usaha mereka sendiri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho