← Beranda
Tumbuh dalam Keluarga yang Tidak Harmonis? Ini 8 Kebiasaan yang Kemungkinan Kamu Memilikinya
Setyo Adi Nugroho• Kamis, 2 April 2026 | 03.08 WIB
Perilaku orang dewasa yang dibesarkan dari keluarga tidak harmonis menurut Psikologi. (Pexels/ Thnh Phng)

 

JawaPos.com - Tidak semua orang beruntung tumbuh dalam keluarga yang penuh cinta dan dukungan.

Bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang kurang harmonis, pengalaman masa kecil sering membentuk kepribadian dan kebiasaan mereka saat dewasa.

Pola asuh yang sarat konflik, ketidakpastian, atau minim kasih sayang dapat meninggalkan dampak emosional yang mendalam tanpa disadari.

Mengacu pada Geediting, berikut delapan kebiasaan yang kerap dimiliki oleh orang-orang yang tumbuh dalam keluarga kurang harmonis.

1) Kepekaan Terhadap Konflik

Orang yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh konflik biasanya memiliki kepekaan tinggi terhadap pertengkaran atau ketegangan di sekitarnya. 

Mereka bisa dengan cepat membaca perubahan suasana hati orang lain dan sering kali memiliki firasat yang kuat tentang potensi perselisihan.

Kepekaan ini bisa menjadi kelebihan karena mereka mampu memahami situasi sosial dengan lebih baik. 

Mereka bisa merasakan ketika seseorang merasa tidak nyaman, ketika ada ketidakseimbangan dalam hubungan, atau ketika sebuah percakapan mengarah pada ketegangan. 

Ini bisa membuat mereka lebih diplomatis dan bijaksana dalam berinteraksi dengan orang lain.

Namun, di sisi lain, kepekaan berlebih terhadap konflik juga bisa menjadi beban emosional. 

Mereka cenderung merasa cemas atau bahkan takut jika berada di lingkungan yang penuh perselisihan, meskipun konflik tersebut tidak secara langsung berkaitan dengan mereka. 

Dalam beberapa kasus, mereka bisa menjadi sangat menghindari konfrontasi, bahkan ketika mereka seharusnya berbicara atau membela diri.

Akibatnya, mereka bisa mengalami kesulitan dalam mengutarakan pendapat atau mengekspresikan ketidaksetujuan mereka dalam hubungan pribadi maupun profesional, karena mereka takut memicu konflik yang bisa mengingatkan mereka pada pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.

2) Mencari Stabilitas dalam Hidup

Setelah mengalami kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian di masa kecil, banyak orang yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis memiliki dorongan kuat untuk mencari stabilitas di masa dewasa. 

Mereka mungkin menjadi sangat berhati-hati dalam memilih pasangan, pekerjaan, atau lingkungan sosial demi menghindari drama dan konflik yang pernah mereka alami.

Stabilitas bagi mereka bukan sekadar kenyamanan, tetapi juga sebuah kebutuhan emosional yang mendalam. 

Mereka bisa berusaha keras untuk menciptakan kehidupan yang lebih tenang, damai, dan terstruktur, sehingga mereka tidak harus menghadapi ketegangan yang terus-menerus seperti yang mereka alami saat kecil.

Namun, terkadang kebutuhan ini bisa membuat mereka terlalu kaku atau takut mengambil risiko. 

Mereka mungkin enggan mencoba hal-hal baru atau menjelajahi peluang yang bisa meningkatkan kualitas hidup mereka karena takut kehilangan kestabilan yang telah mereka bangun. 

Oleh karena itu, mereka perlu menemukan keseimbangan antara mencari stabilitas dan tetap terbuka terhadap perubahan yang positif.

3) Berjuang dengan Kepercayaan Terhadap Orang Lain

Salah satu dampak paling umum dari tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik adalah kesulitan dalam mempercayai orang lain. 

Jika di masa kecil mereka sering mengalami janji yang diingkari, ketidakpastian emosional, atau pengkhianatan dari orang-orang terdekat, mereka cenderung membawa kewaspadaan ini ke dalam hubungan mereka di masa dewasa.

Mereka mungkin butuh waktu lama untuk merasa nyaman dengan seseorang, bahkan dengan orang yang memiliki niat baik. 

Mereka cenderung menganalisis perkataan dan tindakan orang lain secara mendalam, mencari tanda-tanda bahwa seseorang mungkin akan menyakiti mereka atau mengingkari kepercayaan yang telah diberikan.

Di satu sisi, ini bisa menjadi mekanisme perlindungan yang baik agar mereka tidak mudah dimanipulasi atau dimanfaatkan. 

Namun, di sisi lain, jika mereka terlalu defensif, mereka bisa kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang sehat dan penuh kasih dengan orang lain.

4) Kesulitan dalam Membentuk Hubungan Intim

Mereka yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis sering kali menghadapi tantangan dalam membangun hubungan yang sehat dan intim. Hal ini bisa terjadi karena beberapa alasan:

  • Takut disakiti – Mereka mungkin merasa lebih aman dengan menjaga jarak emosional agar tidak mengalami rasa sakit yang pernah mereka alami saat kecil.
  • Ekspektasi rendah terhadap hubungan – Jika mereka terbiasa melihat hubungan yang penuh pertengkaran atau pengabaian, mereka bisa memiliki pandangan pesimis tentang cinta dan komitmen.
  • Terjebak dalam hubungan tidak sehat – Beberapa orang tanpa sadar mencari pasangan yang memiliki pola hubungan mirip dengan yang mereka alami saat kecil, bahkan jika itu tidak sehat.

Menyadari pola ini adalah langkah pertama untuk membangun hubungan yang lebih sehat. 

Dengan memahami akar permasalahan, mereka bisa lebih sadar dalam memilih pasangan dan membangun hubungan yang lebih seimbang serta saling mendukung.

5) Ketahanan yang Kuat

Meskipun menghadapi banyak tantangan, orang yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis sering kali memiliki ketahanan mental yang luar biasa. 

Mereka terbiasa menghadapi kesulitan sejak kecil dan belajar bagaimana bertahan dalam situasi yang sulit.

Ketahanan ini bisa menjadi aset besar dalam kehidupan mereka, terutama dalam menghadapi masalah yang datang di masa depan. 

Mereka memiliki kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan, menemukan solusi dalam situasi sulit, dan bangkit kembali setelah mengalami kegagalan.

Namun, ada sisi negatif dari ketahanan ini. Beberapa orang bisa menjadi terlalu terbiasa hidup dalam kondisi sulit sehingga mereka tidak menyadari ketika mereka sebenarnya berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 

Mereka mungkin menerima perlakuan buruk atau bekerja terlalu keras tanpa memberi diri mereka istirahat karena merasa itu adalah sesuatu yang “normal.”

6) Kompensasi Berlebihan dalam Pengasuhan Anak

Bagi mereka yang memiliki anak, pengalaman masa kecil yang sulit bisa membuat mereka berusaha menjadi orang tua yang sangat berbeda dari orang tua mereka dulu. 

Mereka mungkin bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah mereka alami.

Ini bisa berarti mereka menjadi sangat protektif, berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, atau bahkan terlalu cemas dalam mengasuh anak karena takut melakukan kesalahan.

Namun, meskipun niat ini baik, terkadang sikap overprotective bisa membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan sendiri. 

Oleh karena itu, mereka perlu menyeimbangkan antara memberikan kasih sayang dan membiarkan anak-anak mereka belajar dari pengalaman mereka sendiri.

7) Kemandirian yang Tinggi

Saat seseorang tumbuh dalam lingkungan yang tidak mendukung, mereka sering kali belajar untuk mengandalkan diri sendiri sejak dini. 

Mereka mungkin merasa sulit untuk meminta bantuan atau percaya bahwa mereka harus menyelesaikan segalanya sendiri.

Kemandirian ini bisa menjadi kekuatan besar, tetapi juga bisa menjadi beban emosional jika mereka merasa kesulitan dalam menerima dukungan dari orang lain.

8) Kemampuan Berempati yang Tinggi

Salah satu hal positif yang sering dimiliki oleh orang-orang yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis adalah kemampuan mereka untuk berempati. 

Mereka tahu bagaimana rasanya merasa kesepian, tidak didengar, atau diabaikan, sehingga mereka sering kali lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Kemampuan ini membuat mereka menjadi teman, pasangan, atau pemimpin yang suportif dan penuh perhatian.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho