← Beranda
Cek Cara Tertawamu! NASA Ungkap Hubungan Tawa dengan Tingkat Kecerdasan Emosional
Ryandi Zahdomo• Rabu, 1 April 2026 | 04.18 WIB
Ilustrasi seseorang ynag memiliki kecerdasan emosional

 

 

JawaPos.com - Siapa sangka cara Anda tertawa saat mengobrol bisa menjadi indikator seberapa cerdas Anda secara emosional? Ternyata, bukan hanya soal selera humor, tawa adalah "bahasa rahasia" yang digunakan NASA untuk menyeleksi astronot terbaik yang akan dikirim ke luar angkasa.

Istilah personality hire atau perekrutan berdasarkan kepribadian mungkin sering dianggap remeh di dunia kerja modern. Namun, bagi badan antariksa sekelas NASA, kepribadian dan kecerdasan emosional (EQ) justru menjadi faktor penentu hidup dan mati di dalam kapsul sempit sejauh jutaan mil dari Bumi.

Pola unik ini ditemukan setelah NASA meneliti rekaman wawancara para astronot selama puluhan tahun. Hasilnya mengejutkan: ada hubungan langsung antara kemampuan seseorang menyelaraskan tawanya dengan lawan bicara dan tingkat keberhasilan mereka dalam misi yang penuh tekanan.

Dilansir dari YourTango, penemuan ini membuktikan bahwa tawa bukan sekadar respons terhadap hal lucu, melainkan alat komunikasi tingkat tinggi. Berikut adalah ulasan mendalam mengapa cara Anda tertawa mencerminkan kecerdasan emosional yang Anda miliki.

Rahasia NASA di Balik Seleksi Astronot
Pada tahun 1980-an, NASA menghadapi masalah serius ketika para astronot di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) mulai mengalami depresi dan sering terlibat pertengkaran. Berada di ruang sempit selama enam bulan berturut-turut ternyata membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan otak atau fisik yang prima.

Menjadi ilmuwan roket saja tidak cukup jika seseorang mudah tersinggung atau sulit bekerja sama dalam tim. Kondisi isolasi yang ekstrem menuntut kepribadian yang mampu bertahan dalam hubungan interpersonal yang sangat menantang di bawah tekanan yang luar biasa berat.

NASA kemudian mulai meneliti kembali rekaman wawancara para astronot sukses untuk mencari pola yang sama. Mereka ingin menemukan apa yang membedakan individu yang mampu menjaga keharmonisan kru dengan mereka yang justru menjadi pemicu konflik di tengah misi.

Penemuan ini kemudian dicatat oleh jurnalis Charles Duhigg dalam bukunya "Supercommunicators". Duhigg menyoroti bagaimana keterampilan komunikasi, termasuk hal sekecil tawa, memengaruhi setiap aspek kehidupan kita, terutama dalam lingkungan kerja yang berisiko tinggi.

Tawa sebagai Bentuk Peniruan Emosional
Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana Anda tertawa terbahak-bahak, namun orang di sekitar Anda hanya terdiam? Atau sebaliknya, Anda ikut tertawa hanya karena melihat orang lain tertawa meskipun hal tersebut tidak terlalu lucu? Inilah yang disebut dengan peniruan emosional.

Orang dengan kecerdasan emosional yang lebih tinggi cenderung secara alami meniru atau menyelaraskan tawa mereka dengan orang lain. Ini bukan berarti mereka berpura-pura, melainkan bentuk empati bawah sadar untuk menciptakan koneksi dan rasa nyaman dengan lawan bicara.

Bagi NASA, astronot yang mampu menirukan ritme dan intensitas tawa pewawancara memiliki skor EQ tertinggi. Pola ini menunjukkan bahwa mereka memiliki radar emosional yang peka terhadap perasaan orang di sekitarnya, sebuah keterampilan krusial saat terjebak di luar angkasa.

Peniruan emosional ini membantu meredakan ketegangan dalam sekejap. Dalam kondisi stres tinggi, kemampuan untuk "ikut tertawa" dapat menjadi jembatan untuk menyelesaikan konflik dan membangun kepercayaan antar anggota kru yang sedang bertugas.

Ujian Kepribadian untuk Misi Menuju Mars

Misi ke Mars adalah tantangan terbesar manusia saat ini karena jaraknya yang jutaan mil dan membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam kapsul yang sangat sempit. Risiko gangguan mental dan konflik antar kru jauh lebih tinggi dibandingkan misi di orbit Bumi atau ISS.

Oleh karena itu, NASA masih menggunakan tes kepribadian dan kecerdasan emosional hingga saat ini. Mereka mengevaluasi calon astronot menggunakan Big 5 Personality Model untuk memastikan mereka tidak hanya tangguh secara mental, tetapi juga menyenangkan untuk diajak bergaul.

Menemukan orang yang tepat untuk misi Mars sangatlah krusial agar misi tersebut tidak berakhir tragis hanya karena masalah komunikasi. Sifat-sifat seperti keramahan, ekstroversi, dan kemampuan mengatasi masalah menjadi kriteria yang tidak bisa ditawar lagi.

Ilmuwan NASA menemukan bahwa selera humor adalah kunci utama untuk kesesuaian kru dan penyelesaian konflik. Tanpa kemampuan untuk membuat dan menerima lelucon, sebuah tim akan lebih mudah hancur saat menghadapi skenario darurat yang mengancam nyawa.

Mengapa 'Personality Hire' Itu Penting di Kantor

Jika rekan kerja Anda sering menyindir bahwa Anda dipekerjakan hanya karena "kepribadian yang asyik", Anda boleh berbangga hati. Bahkan organisasi secanggih NASA pun mengakui bahwa kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan emosional bisa menjadi beban bagi tim.

Kemampuan untuk bergaul, meredakan ketegangan dengan humor, dan berempati melalui tawa adalah keterampilan mahal yang tidak bisa dipelajari dari buku teks. Di era otomatisasi, kemampuan interpersonal inilah yang membuat seorang manusia tetap unggul dan tidak tergantikan.

Humor yang tepat sasaran terbukti mampu "dengan cepat meredakan masalah apa pun" dalam lingkungan kerja. Karyawan yang cerdas secara emosional tahu kapan harus serius dan kapan harus menggunakan tawa untuk mencairkan suasana yang kaku.

Jadi, cara Anda tertawa hari ini mungkin adalah tiket Anda menuju kesuksesan karier di masa depan. Selera humor dan empati bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dari kerja sama tim yang sukses, baik di kantor maupun di kapsul luar angkasa.

 

 

EDITOR: Estu Suryowati