JawaPos.com - Banyak orang secara refleks menutup mata ketika berusaha mendengar sesuatu dengan lebih jelas, terutama di tempat yang bising seperti restoran atau keramaian.
Tindakan ini dianggap dapat membantu meningkatkan fokus terhadap suara yang ingin didengar dengan mengurangi gangguan visual.
Namun, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar.
Baca Juga: Sosoknya Menarik Perhatian, 5 Zodiak Terlahir Populer dan Disukai Banyak Orang
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menutup mata justru dapat mengurangi kemampuan seseorang dalam menangkap suara, terutama ketika berada di lingkungan dengan banyak kebisingan.
Temuan ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana otak manusia memproses informasi.
Tidak hanya mengandalkan pendengaran, otak juga memanfaatkan input visual untuk membantu memahami suara secara lebih efektif.
Simak selengkapnya yang dilansir dari Psychologytoday pada Selasa (31/03)
Studi Terbaru: Menutup Mata Justru Menghambat Pendengaran
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the Acoustical Society of America menguji bagaimana kondisi visual memengaruhi kemampuan seseorang dalam mendengar.
Para partisipan diminta untuk mendengarkan berbagai suara seperti burung, kereta, drum, keyboard, dan dayung kano melalui headphone, dengan latar suara bising.
Mereka kemudian diminta menyesuaikan volume suara hingga berada pada tingkat yang masih dapat didengar di atas kebisingan.
Dalam proses ini, partisipan dibagi ke dalam empat kondisi visual berbeda: menutup mata, melihat layar kosong, melihat gambar yang relevan dengan suara, dan menonton video yang sesuai dengan suara.
Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi paling sulit bagi partisipan adalah saat mereka menutup mata.
Sebaliknya, ketika mata tetap terbuka, bahkan hanya melihat layar kosong, kemampuan mendengar mereka meningkat secara signifikan.
Peran Visual dalam Meningkatkan Persepsi Suara
Penelitian ini menemukan bahwa informasi visual memiliki peran penting dalam membantu otak memahami suara.
Ketika partisipan melihat gambar yang relevan, mereka mampu mengenali suara pada tingkat volume yang lebih rendah.
Efek ini menjadi lebih kuat ketika mereka menonton video yang sesuai dengan suara yang didengar.
Hal ini menunjukkan bahwa otak tidak bekerja secara terpisah antara indera penglihatan dan pendengaran.
Sebaliknya, keduanya saling melengkapi untuk membentuk pemahaman yang lebih utuh terhadap lingkungan sekitar.
Dalam situasi nyata, seperti percakapan di tempat ramai, gerakan bibir lawan bicara dan ekspresi wajah dapat membantu seseorang memahami kata-kata yang mungkin tidak terdengar dengan jelas.
Penjelasan Ilmiah: Cara Otak Memproses Informasi
Data aktivitas otak yang diukur menggunakan elektroensefalografi (EEG) menunjukkan bahwa menutup mata mengubah kondisi otak menjadi lebih selektif dalam memproses informasi.
Kondisi ini dikenal sebagai neural criticality, di mana otak menyaring informasi secara lebih ketat.
Meskipun penyaringan ini dapat membantu mengurangi gangguan, efeknya tidak selalu menguntungkan.
Dalam lingkungan yang bising, penyaringan yang terlalu ketat justru dapat menghilangkan suara penting yang ingin didengar.
Sebaliknya, ketika mata terbuka, otak menerima lebih banyak konteks dari lingkungan sekitar.
Informasi visual ini membantu otak dalam memisahkan suara utama dari kebisingan latar belakang.
Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Temuan ini memiliki implikasi praktis, terutama dalam komunikasi sehari-hari.
Dalam situasi seperti berbicara di restoran atau tempat ramai, melihat lawan bicara secara langsung dapat membantu memahami percakapan dengan lebih baik.
Hal ini juga menjadi alasan mengapa komunitas tunarungu atau individu dengan gangguan pendengaran disarankan untuk berkomunikasi secara tatap muka.
Melihat gerakan bibir dan ekspresi wajah memberikan petunjuk tambahan yang sangat membantu.
Dengan demikian, mengandalkan satu indera saja tidak selalu efektif.
Kombinasi antara penglihatan dan pendengaran justru menjadi kunci dalam memahami informasi secara optimal.