JawaPos.com - Kamu merasa sedang mencoba mengungkapkan perasaan frustrasi kepada seseorang?
Namun alih-alih merespons, mereka justru diam, menghindari kontak mata, atau bahkan menghilang.
Menurut psikologi, sikap ini sering disebut sebagai shutting down. Meskipun bagimu ini terasa seperti pengabaian, sebenarnya ada mekanisme psikologis yang jauh lebih kompleks di baliknya.
Melansir dari YourTango, berikut ini beberapa alasan kenapa seseorang menutup diri saat menghadapi kemarahan atau teriakan.
1. Merasakan Beban Emosional yang Berlebihan
Saat menghadapi kemarahan, keadaan emosional bisa menjadi sangat kuat sehingga otak yang lebih berperan mengedepankan logika akan berhenti berfungsi sementara.
Orang tersebut merasa menanggung beban emosi yang berlebihan dan tidak lagi mampu memproses kata-kata atau memberikan argumen yang masuk akal.
2. Takut Memicu Konflik yang Lebih Panjang
Banyak orang yang memilih diam demi menjaga situasi agar tidak terjadi konflik yang lebih buruk.
Mereka mungkin berpikir jika memberikan respon saat kamu marah justru akan memperburuk hubungan.
3. Trauma di Masa Lalu
Seseorang yang tumbuh di lingkungan yang penuh teriakan dan sering menghadapi kemarahan cenderung bersikap menutup diri.
Hal ini dilakukan untuk bisa bertahan menghadapi hukuman dan sikap tidak dipedulikan saat masa lalu, kemudian membentuk kepribadiannya saat dewasa.
4. Memiliki Rasa Malu yang Mendalam
Teriakan sering kali memunculkan rasa malu yang membuat seseorang ingin bersembunyi atau menghilang.
Menurut psikologi, rasa malu inilah yang menjadikan seseorang enggan bersikap terbuka, terlebih jika harus berhadapan dengan orang baru.
5. Merasa Kesulitan dalam Meregulasi Emosi
Perlu diingat, tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik dalam meregulasi emosinya.
Padahal berbekal kemampuan inilah seseorang bisa menghadapi konflik yang sedang dihadapi.
Jangan salah paham, ya. Yuk, kenali mengapa mereka jadi diam saja atau bahkan menjauh saat kamu sedang marah.