← Beranda
Orang yang Tidak Tahu Apakah Video AI Itu Asli Atau Palsu Biasanya Menampilkan 3 Ciri Ini, Menurut Psikologi
KuswandiMinggu, 17 Agustus 2025 | 03.37 WIB
Seseorang yang sedang menonton video AI (Freepik/syda_productions)

JawaPos.com - Selama bertahun-tahun, saya terpesona oleh otak manusia dan kemampuannya untuk membedakan kenyataan. Anda tahu apa yang saya maksud: Melihat yang palsu dari yang asli. Menjelajahi dunia digital dengan skeptisTidak menyukai setiap video AI yang muncul di feed Anda.

Sebagai penggemar psikologi yang rajin, saya tertarik dengan bagaimana beberapa orang dapat dengan mudah mengetahui apakah video AI itu asli atau palsu, sementara yang lain dibiarkan menggaruk-garuk kepala.

Di masa lalu, rasa ingin tahu saya membawa saya jauh ke dalam dunia ajaran Buddha dan perhatian penuh. Saat ini, saya sama-sama terpesona oleh dunia teknologi, khususnya kecerdasan buatan, dan dampaknya terhadap persepsi kita tentang realitas.

Beberapa tahun yang lalu, saya adalah salah satu dari orang-orang yang tidak dapat membedakan video AI asli dari video palsu. Itu membuat frustrasi dan sedikit memalukan. Tapi kemudian saya terjun ke dunia psikologi yang luas.

Dan coba tebak? Saya menemukan bahwa ada ciri-ciri khusus yang biasanya ditampilkan oleh orang-orang yang tidak dapat membedakan video AI asli dari video palsu. Dan dalam artikel ini, saya akan mengungkapkan 3 ciri ini kepada Anda. Harapanku? Bahwa Anda mungkin menganggap pengetahuan ini menarik dan berguna seperti saya. Dikutip dari geediting pada Sabtu (16/8), mari selami.

1) Kurangnya skeptisisme

Ciri pertama yang saya temukan umum di antara orang-orang yang kesulitan membedakan video AI asli dari video palsu adalah kurangnya skeptisisme. Kedengarannya lugas, bukan? Tetapi bagi seseorang yang biasa merekam setiap video dengan nilai nominal, itu adalah wahyu.

Psikologi memberi tahu kita bahwa skeptisisme adalah sifat kritis di era digital. Ini mendorong kita untuk mempertanyakan apa yang kita lihat dan dengar, terutama ketika menyangkut dunia online. Saya menemukan bahwa orang-orang yang mudah dibodohi oleh video AI seringkali tidak memiliki pola pikir yang mempertanyakan ini.

Mereka lebih cenderung menerima apa adanya, tanpa menggali lebih dalam atau mencari verifikasi. Ini tidak berarti mereka mudah tertipu atau naif. Sebaliknya, mereka mungkin terlalu percaya pada keaslian konten online.

Jika Anda sering dibodohi oleh video AI, mulailah mengembangkan sikap skeptis yang sehat. Setiap kali Anda menemukan video online, tanyakan pada diri Anda: "Mungkinkah ini dibuat secara artifisial?” Catat setiap ketidakkonsistenan atau keanehan yang mungkin menunjukkan bahwa ini adalah kreasi AI. Dengan mengembangkan kebiasaan ini, Anda mengambil langkah pertama untuk meningkatkan keterampilan kearifan Anda dalam lanskap digital.

2) Ketergantungan berlebihan pada isyarat visual

Ciri lain yang saya perhatikan pada mereka yang tidak dapat membedakan video AI asli dari video palsu adalah ketergantungan yang berlebihan pada isyarat visual. Saya ingat ketika pertama kali mulai menjelajahi dunia video AI.

Saya terpesona oleh visual yang sempurna dan gerakan yang hidup. Saya berasumsi bahwa jika itu terlihat nyata, itu pasti nyata. Tetapi ketika saya mempelajari lebih dalam dunia psikologi, saya menyadari bahwa mata kita sering kali dapat menipu kita.

Psikolog terkenal Daniel Kahneman pernah berkata, "Apa yang Anda lihat adalah semua yang ada.” Kutipan ini menyoroti kecenderungan kita untuk mendasarkan penilaian kita hanya pada apa yang segera tersedia bagi kita, yang seringkali menyebabkan kesalahan dalam persepsi.

Saya belajar bahwa teknologi AI telah berkembang ke titik di mana ia dapat menciptakan visual yang sangat realistis. Tapi ini tidak secara otomatis sama dengan keaslian. Sekarang, ketika saya menonton video online, saya tidak hanya fokus pada tampilannya.

Saya juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti sumber video, konteks penyajiannya, dan motivasi potensial apa pun di balik pembuatannya. Jadi, jika Anda adalah seseorang yang cenderung terlalu mempercayai mata Anda, ingatlah kata-kata Kahneman dan cobalah untuk melihat ke luar permukaan. Ini mungkin hanya membantu Anda menemukan video AI palsu berikutnya.

3) Pengetahuan terbatas tentang teknologi AI

Ciri ketiga yang sering membuat orang tersandung adalah pemahaman yang terbatas tentang teknologi AI. Saya dapat memahami hal ini dengan cukup baik. Beberapa tahun yang lalu, pengetahuan saya tentang AI masih belum sempurna.

Saya tahu itu adalah kata kunci dalam industri teknologi, tetapi saya tidak tahu bagaimana itu bisa menghasilkan video yang begitu meyakinkan. Saat saya mulai belajar lebih banyak tentang cara kerja deepfake dan konten buatan AI lainnya, saya memperoleh perspektif baru.

Saya mulai memahami kemampuan dan keterbatasan AI, dan bagaimana AI dapat digunakan untuk menghasilkan kepalsuan yang meyakinkan. Pengetahuan ini adalah pengubah permainan. Itu memungkinkan saya untuk menganalisis video secara kritis dan melihat tanda-tanda halus dari generasi buatan yang akan saya lewatkan sebelumnya.

Jika Anda kesulitan membedakan video AI asli dari video palsu, mungkin ada baiknya menginvestasikan waktu untuk mempelajari teknologi di baliknya. Anda tidak perlu menjadi seorang ahli, tetapi memiliki pemahaman dasar dapat membantu Anda membedakan yang asli dari yang palsu.

EDITOR: Kuswandi