← Beranda
Tekan Dwelling Time, Bea Cukai Jakarta Optimalkan PLB
AntaraKamis, 3 September 2026 | 15.58 WIB
Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta, Hendri Darnadi saat meninjau PT Sarana Gemilang di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Jakarta, Rabu (2/9/2026). (ANTARA/HO-Kanwil Bea Cukai Jakarta)

JawaPos.com - Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Jakarta mendorong optimalisasi Pusat Logistik Berikat (PLB) untuk memperlancar arus barang dari pelabuhan sekaligus menekan "dwelling time" dan biaya logistik.

Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta, Hendri Darnadi mengatakan hal itu saat meninjau PT Sarana Gemilang di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Jakarta, untuk memastikan pemanfaatan fasilitas PLB serta menggali persoalan yang dihadapi perusahaan.

"Kami memastikan bahwa fasilitas yang diberikan oleh Bea Cukai itu benar-benar bermanfaat, mampu untuk mendukung pertumbuhan atau perkembangan ekonomi, mampu meningkatkan kegiatan usaha," kata Hendri di Jakarta, Rabu (3/9).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jatim 3 September 2026: Cerah saat Siang, Berawan kala Malam

Dwelling time adalah waktu yang dibutuhkan peti kemas (kontainer) sejak dibongkar dari kapal hingga meninggalkan pelabuhan.

Hendri mengatakan fungsi Bea Cukai tidak hanya sebagai "trade facilitator" yang hanya memberikan kemudahan dalam kegiatan perdagangan. Di saat sama, Bea Cukai juga ikut memastikan fasilitas tersebut dapat membantu perusahaan mengembangkan usahanya.

"Peran Bea Cukai itu tidak hanya trade facilitator, tapi memberikan fasilitas kepada perusahaan, sehingga perusahaan itu menumbuhkembangkan industri dan menumbuhkembangkan ekonomi," jelasnya.

Menurut dia, kunjungan ini dalam rangka belanja masalah yang dihadapi pelaku usaha sekaligus dicarikan solusi terbaiknya. Ternyata, kata dia, PT Sarana Gemilang sebagai penerima fasilitas PLB sejak 2017-2026 tidak mengalami kendala berat dalam pemanfaatan fasilitas kepabeanan.

Baca Juga: Ramalan Keuangan Zodiak Pisces Kamis, 3 September 2026: Tinggalkan Penyesalan, Atur Uang Lebih Baik

"Alhamdulillah, ternyata dari tahun 2017 sampai 2026, perusahaan ini belum mempunyai kendala atau problem yang berat," ujarnya.

Untuk itu, Hendri memastikan dukungan dan ruang asistensi tetap terbuka bagi perusahaan penerima fasilitas PLB di wilayah Jakarta.

"Kita akan lakukan hal yang sama, memberikan support sebesar-besarnya untuk pertumbuhan ekonomi dan kejayaan ekonomi," imbuhnya.

Hendri menilai keberadaan PLB menjadi instrumen penting dalam mengurangi "dwelling time". Fasilitas tersebut memungkinkan barang yang masuk tidak terlalu lama tertahan di kawasan pelabuhan, karena tersedia tempat penampungan sebelum barang melanjutkan proses berikutnya.

"Keberadaan PLB ini sebagai bagian mereduksi dwelling time, mereduksi apa yang disebut dengan logistic cost. Sehingga, tidak ada lagi tertimbun-tertimbun, paling tidak kita mampu mengurai benang-benang kusut yang ada di pelabuhan, kemudian diarahkan ke bonded," ujarnya.

Namun, Hendri menegaskan fungsi PLB bukan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan di sekitar pelabuhan. Tetapi, mengurangi keterisian atau occupancy rate di pelabuhan.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Naik Tipis di Tengah Eskalasi AS-Iran, Cek Pemicu dan Proyeksi OPEC+

"Yang kita bisa urai itu adalah occupancy rate yang ada di pelabuhan, karena mereka akan bisa keluar lebih cepat dan ada penampung. Sehingga tidak ada antrean yang seperti dwelling time. Kemacetan di lalu lintasnya itu di luar domain Bea Cukai," paparnya.

Pada kesempatan kunjungan tersebut, Hendri mendengarkan dialog dari para pelaku usaha yang menyampaikan soal pengajuan permintaan kuota impor besi baja dan suku cadang yang memakan waktu lama dalam prosesnya.

Selain itu, pengurusan dokumen larangan dan pembatasan (lartas) juga lama, seperti pengurusan persetujuan/pertimbangan teknis di Kemenperin dan persetujuan impor di Kemendag.

EDITOR: Bintang Pradewo