← Beranda
Terdampak Normalisasi Sungai, Dua Rumah Warga di Bantaran Ciliwung Benhil Ambruk
Ryandi ZahdomoJumat, 26 Juni 2026 | 23.35 WIB
Dua unit rumah warga dan satu tempat pembuangan sampah (TPS) di Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat longsor, Jumat (26/6). (Istimewa)

JawaPos.com - Kawasan bantaran Kali Ciliwung di Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat mendadak mencekam Jumat (26/6) pagi. Dua unit rumah warga dan satu tempat pembuangan sampah (TPS) setempat dilaporkan ambles akibat longsor yang diduga kuat dipicu oleh aktivitas proyek normalisasi sungai.

Meski satu bangunan rumah berlantai dua hancur total dan bangunan di sebelahnya kini dalam kondisi miring, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Pemilik rumah diketahui telah mengosongkan bangunan beberapa hari sebelum bencana terjadi.

Berawal dari Pengerukan Sungai dan Tekanan Truk Sampah

Ali Nugroho, 44, salah satu korban terdampak menceritakan, tanda-tanda petaka ini mulai muncul semenjak adanya proyek pengerukan aliran kali oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta.

Baca Juga: Terdampak Normalisasi Sungai, Dua Rumah Warga di Bantaran Ciliwung Benhil Ambruk

Saat ini, posisi rumah Ali ambles hingga lebih rendah dari permukaan jalanan, meninggalkan puing-puing asbes dan dinding yang hancur berantakan. Tepat di seberang sungai, alat berat milik Dinas SDA tampak masih terparkir.

"Proyek pengerukan itu mungkin sudah sebulan lalu. Setelah pengerukan, tanah mulai bergeser," ungkap Ali di lokasi kejadian, Jumat (26/6).

Situasi di lapangan diperparah oleh aktivitas logistik harian di sekitar bantaran. Ali menambahkan, truk-truk pengangkut sampah dengan tonase besar setiap hari melintasi akses jalan di samping rumahnya, memberikan tekanan yang mempercepat laju penurunan tanah.

Langkah Sigap Mengungsi Selamatkan Nyawa Keluarga

Sadar akan bahaya yang mengintai sejak pergeseran tanah pertama kali terdeteksi pada Jumat (19/6) lalu, Ali langsung mengambil keputusan cepat untuk memboyong seluruh anggota keluarganya mengungsi.

Langkah antisipasi ini terbukti menyelamatkan nyawa mereka, walau sebagian besar perabotan rumah tangga berharga terpaksa ditinggalkan di dalam rumah yang kian miring.

"Alhamdulillah tidak ada korban, karena dari awal tanah geser itu kami sudah mengungsi semua. Untuk barang-barang yang rusak itu lemari dan sebagian perabotan karena saya sudah tidak berani naik ke lantai dua," tutur Ali.

Warga Kecewa Aduan ke Kelurahan Sempat Diabaikan

Balada di bantaran Ciliwung ini menyisakan kekecewaan mendalam. Ali membeberkan bahwa pihak keluarga sebenarnya telah melaporkan gejala pergeseran tanah ini kepada pihak RW dan kelurahan setempat sejak sepekan lalu. Namun, respon cepat yang diharapkan tak kunjung datang hingga longsor benar-benar meruntuhkan huniannya.

Hingga saat ini, Ali belum bisa mengalkulasi total kerugian materiil atas rumah yang ia bangun sejak tahun 2004 tersebut. Mengingat kerusakan ini berkejaran dengan proyek strategis daerah, warga menuntut pertanggungjawaban nyata dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Kami berharap ada ganti rugi. Ini dampaknya langsung terasa setelah adanya pengerukan," imbuh Ali.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah