JawaPos.com - Aksi premanisme kembali menghantui warga Jakarta dan menjadi sorotan tajam di media sosial.
Salah satu insiden yang memicu kemarahan publik adalah intimidasi terhadap seorang pedagang bakso di Tanah Abang yang mangkok dagangannya dipecahkan oleh oknum tak bertanggung jawab.
Tak hanya itu, video viral lainnya juga memperlihatkan aksi pemalakan terhadap sopir bajaj di kawasan Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI Kevin Wu mengecam keras maraknya aksi premanisme di Tanah Abang.
Baca Juga: Hercules Tak Tolak Pembangunan di Tanah Abang, Minta Negara Tunjukkan Bukti secara Hukum
Ia menilai, praktik premanisme sangat merusak citra Jakarta yang sedang bertransformasi menjadi kota global dan pusat ekonomi internasional.
Kevin Wu mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk memberikan perhatian khusus pada masalah ini.
Menurutnya, aparat tidak boleh hanya bergerak setelah sebuah kasus menjadi viral di media sosial.
"Saya sangat menyayangkan premanisme masih terjadi di Jakarta dewasa ini. Fenomena tersebut sangat mengganggu dan merugikan masyarakat. Saya harap Pemprov DKI bisa memberikan atensi dan segera mengatasinya," tegas Kevin Wu, Senin (13/4).
Ia mengingatkan, banyak warga yang sebenarnya sudah menjadi korban jauh sebelum videonya tersebar luas.
Baca Juga: Preman Tanah Abang yang Pecahkan Mangkok Pedagang Bakso Dibekuk Polisi, Positif Gunakan Sabu
"Dan jangan sampai Pemprov DKI juga baru bertindak ketika ada kejadian-kejadian yang viral. Karena masyarakat yang menghadapi premanisme ini sebenarnya sudah dirugikan sebelum kasus-kasus itu mencuat di masyarakat," sambungnya.
Nasib Pedagang Kecil dan Ancaman bagi Investor
Kasus pedagang bakso dan sopir Bajaj di Tanah Abang menjadi potret nyata betapa rentannya rakyat kecil terhadap praktik pungli dan intimidasi.
Kevin prihatin melihat mereka yang sedang berjuang mencari nafkah justru harus menghadapi tekanan fisik dan mental.
"Seperti pedagang bakso kemarin. Itu kan ‘wong cilik’ yang harus berdagang untuk menafkahi diri dan keluarganya. Kita ini tidak tega melihat ‘wong cilik’ seperti itu dibuat lebih menderita lagi oleh praktik-praktik intimidasi dan pemerasan seperti terlihat dalam videonya," ucap Kevin.
Tak hanya menyasar pedagang kaki lima, praktik premanisme ini juga sudah merambah ke sektor usaha yang lebih besar dalam bentuk permintaan jatah parkir hingga jatah pegawai secara paksa.
Baca Juga: Bertemu Menteri PKP Maruarar Sirait di Tanah Abang, Hercules: Lahan Negara Saya Serahkan Hari Ini!
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Kevin khawatir iklim investasi di Jakarta akan memburuk.
Investor dan pelaku usaha akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya di Jakarta jika keamanan tidak terjamin.
"Bagaimana bisnis di Jakarta ini ingin sehat dan bertumbuh kembang. Bagaimana investor dari luar mau masuk, bagaimana orang tertarik untuk berusaha di Jakarta kalau kondisi ini terjadi terus menerus. Mimpi kota global akan terus menjadi mimpi kalau Pemprov DKI tidak berhasil megatasi persoalan ini," lanjutnya.
Kevin meminta ketegasan hukum tanpa pandang bulu untuk menjamin keamanan setiap warga negara yang mencari nafkah secara jujur di ibu kota.
"Pemprov DKI perlu menegakkan hukum setegas-tegasnya, tidak memihak kepada siapapun itu. Khususnya terhadap premanisme, jangan sampai ada kekendoran atau malah perlakuan khusus. Pemprov DKI perlu hadir memberikan keamanan bagi para warga dan pengusaha yang ingin berusaha secara jujur," imbuhnya.
Baca Juga: Viral Palak Pengendara di Kebon Kacang, Dua Preman Tanah Abang Langsung Diciduk Polisi