← Beranda
Momen Haru Bang Yos Lihat Tiang Monorel Kuningan Dibongkar Setelah 22 Tahun: Hati Saya Lega Sekali!
Ryandi ZahdomoRabu, 14 Januari 2026 | 18.12 WIB
Mantan Kepala BIN Sutiyoso

JawaPos.com - Setelah hampir 22 tahun mangkrak, tiang proyek monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said akhirnya mulai dibongkar. Langkah ini diambil oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai solusi final atas polemik keberadaan tiang monorel.

Pembongkaran perdana ini dilakukan pada Rabu (14/1) dan dihadiri langsung oleh sang penggagas awal proyek tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (Bang Yos). Gubernur Pramono pun turut menghadirkan Bang Yos dalam pembongkaran di depan stasiun LRT Setiabudi ini.

Dalam momen itu Sutiyoso mengaku lega melihat tiang-tiang tersebut dibongkar. Ia mengaku selama bertahun-tahun merasa sedih setiap kali melintasi kawasan Kuningan karena proyek yang ia rintis pada 2003 itu tidak berlanjut dan justru menjadi beban estetika kota.

"Jujur saja hari ini hati saya itu lega sekali gitu ya dengan adanya kepastian yang dicanangkan ya oleh Pak Gubernur Pramono pada pagi hari ini," ujar Bang Yos di lokasi, Rabu (14/1).

Ia mengakui bahwa pilihan yang ada saat ini hanya dua, yakni melanjutkan atau membongkar. Mengingat kondisi struktur yang sudah tidak memungkinkan, pembongkaran menjadi pilihan rasional.

"Mudah-mudahan kalau saya lewat ini enggak sakit mata lagi saya suatu saat, yang selama ini terus terpikir gini aduh. Ya sedih aja ya gitu kan, aku mulai itu jadinya kayak begini. Ya kepastian itulah yang diberikan oleh Gubernur Pramono dan itu adalah keputusan yang paling tepat," tambahnya.

Mengapa Monorel Dulu Berhenti?

Sutiyoso juga buka mengenai sejarah panjang dan akhir pahit proyek monorel Jakarta. Pria yang akrab disapa Bang Yos ini mengaku lega setelah puluhan tahun melihat proyek ambisiusnya hanya menjadi "besi tua" yang terbengkalai.

Kisah ini bermula pada 2003, saat Bang Yos memutar otak mencari solusi macet Jakarta. Tak main-main, ia memboyong pakar dari berbagai universitas untuk merancang Jaringan Transportasi Makro di Jakarta.

Dalam proses perancangannya, Bang Yos melakukan studi banding ke berbagai negara. Namun, pilihannya jatuh pada satu kota yang dianggap memiliki kemiripan dengan Jakarta.

"Saya berhenti lama di Bogota, ibu kota Kolombia. Karena situasinya sama dengan di Jakarta," kenang Bang Yos.

Dari sana, lahir rencana besar empat moda transportasi terintegrasi: MRT di bawah tanah, monorel di jalur layang, 15 koridor Busway di jalan raya, dan waterway sebagai alternatif.

Bang Yos mengakui bahwa membangun transportasi modern saat itu tidak mudah. Dampak kerusuhan Mei 1998 masih terasa, membuat investor enggan melirik Indonesia.

"Saya mulai yang tidak perlu investor, karena saat itu kondisi sosial ekonomi kita belum mapan akibat kerusuhan Mei tahun 98. Itu akibatnya amat panjang, terutama kepercayaan investor terhadap Indonesia lebih khusus lagi Jakarta," ungkapnya.

Karena butuh langkah nyata, ia memutuskan memulai dengan Busway yang tidak memerlukan dana investor besar. Namun, demi kecepatan, monorel tetap dijalankan secara paralel.

"Tetapi rencana yang dibuat oleh pakar transportasi tadi yang saya yakini menyelesaikan masalah untuk jangka panjang, kalau tidak pernah saya mulai, sampai hari raya kuda juga enggak jadi-jadi gitu," tegasnya.

Sayangnya, setelah masa jabatannya berakhir pada 2007, proyek tersebut kehilangan arah. Tiang-tiang yang sudah berdiri tegak di kawasan Kuningan justru dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun.

Bang Yos menyebutkan bahwa pada 2014, rencana monorel tiba-tiba diganti menjadi LRT, sebuah langkah yang menurutnya tidak ada dalam rencana awal. Sejak saat itu, tiang beton tersebut berubah menjadi pemandangan yang menyedihkan.

"Nah, sejak itulah mangkrak total ini, jadi besi tua, jadi apa namanya barang seperti ini yang merusak estetika kota gitu," kata Bang Yos.

109 Tiang Monorel Dibongkar

Di lokasi yang sama, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, proses hukum dan administrasi telah diselesaikan dengan hati-hati. Sebanyak 109 tiang akan dibongkar secara bertahap dalam beberapa bulan kedepan.

"Tentunya untuk melakukan ini prosesnya panjang dan secara khusus saya berterima kasih kepada Kajati DKI Jakarta yang telah memberikan support sepenuhnya untuk melakukan penataan jalan Rasuna Said ini dan juga KPK karena pada waktu itu secara khusus saya juga melaporkan kepada KPK supaya tidak ada permasalahan di kemudian hari," ujar Pramono Anung di lokasi, Rabu (14/1)

Pramono Anung menjelaskan, biaya pembongkaran tiang monorel hanya menghabiskan anggaran berkisar Rp 254 juta. Kemudian nantinya akan dilakukan penataan trotoar, jalan, saluran air dan taman dengan anggaran sekitar Rp102 miliar.

"Kemudian untuk penataan secara keseluruhan nanti ada jalan, ada selokan ada taman kemudian ada pendestrian diperkirakan Rp102 miliar. Sehingga sekaligus saya ingin meluruskan bahwa yang Rp100 miliar itu bukan motongnya, motongnya hanya Rp254 juta rupiah," terangnya.

Pramono juga memberikan apresiasi kepada Sutiyoso, sang penggagas awal monorel. Menurutnya, kegagalan proyek di masa lalu lebih disebabkan oleh pergantian kebijakan setelah masa jabatan Bang Yos berakhir.

"Bukan Bang Yos tidak mau menyelesaikan karena memang Bang Yos sudah berakhir tugasnya, tidak dilanjutkan, berganti kebijakan," katanya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan