JawaPos.com — Isu dugaan intoleransi dan pelarangan misa Natal di Wisma Sahabat Yesus, kawasan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, ditepis oleh pengelola wisma, tokoh lintas agama, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Mereka menegaskan tidak jadinya misa beberapa waktu lalu merupakan hasil proses dialog yang berjalan antara warga, aparat, dan pengelola wisma.
Pimpinan Wisma Sahabat Yesus, Romo Robertus Bambang Rudianto atau Romo Rudi, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang hadir dan terlibat dalam dialog. Dukungan itu datang dari pemerintah kelurahan, kepolisian, hingga tokoh lintas agama.
“Terima kasih atas dukungan semua pihak, khususnya di sebelah saya ada Pak Lurah dari Pondok Cina, Pak Nurman. Di sebelah saya ada Pak KH Kholadi dari FKUB, dan sampingnya ada Pak Josman Kapolsek, dan ada Romo Dion juga dari Gereja Katolik yang ada di FKUB,” ujar Romo Rudi.
Dia menegaskan, perayaan Natal yang berlangsung di wisma tersebut merupakan bagian dari silaturahmi dan proses saling mengenal antar warga.
“Intinya saya mengatakan ini semua adalah bagian dari silaturahmi. Jadi semua sungguh ketika bertemu, dan ketika saling menyapa dari hati, ya inilah kita dapat bersama-sama merayakan,” katanya.
Romo Rudi menekankan, iman dan moral tidak dapat dipisahkan dari sikap saling menghormati antar manusia.
“Maka bagi saya sangat jelas ya, kita semua orang beriman itu pasti bermoral dan kita bermoral pasti menghormati dan inilah cara kita bersilaturahmi melalui menghormati manusia satu sama lain,” ujarnya.
“Dan iman itu tidak terbatas pada agama Katolik. Semua, anda semua juga yang dari Muslim, dari Buddha, dari Hindu, semua merayakan iman itu dengan bagaimana cara kita saling menghormati manusia,” ucapnya.
Menanggapi rumor dan tudingan yang menyebut Depok sebagai kota intoleran, Romo Rudi meminta publik melihat persoalan secara lebih positif.
“Tapi kan tidak semua suara itu harus ditanggapi, karena ada juga suara yang tidak mewakili, menghormati manusia juga. Nah makanya di sini saya hanya mengatakan satu hal, mari kita melihat dengan cara positif,” katanya.
Dia menegaskan tidak ada larangan maupun pembatalan misa, melainkan proses yang membutuhkan waktu dan komunikasi.
“Dan saya di Depok ini dan di tengah-tengah warga semua dan saya mengatakan juga setiap kali ada pertanyaan apakah dilarang? Tidak ada larangan, tidak ada pembatalan. Kita butuh waktu ya, butuh waktu untuk saling mengenal,” ujarnya.
Menurut Romo Rudi, dinamika yang terjadi merupakan hal wajar dalam kehidupan bertetangga.
“Maka sebenarnya ini proses saling mengenal dan saya menganggapnya itu sangat wajar,” tuturnya.
Dia juga memastikan tidak ada intimidasi terhadap dirinya.
“Aduh, saya orang bebas. Saya orang bebas dan saya tidurnya nyenyak. Saya seorang pastur yang diutus oleh gereja membawa damai. Damai saya itu dari atas, bukan dari manusia,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan FKUB Kota Depok, Ahmad Kholadi, menyatakan, isu yang berkembang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Menurutnya, FKUB secara rutin melakukan dialog lintas agama untuk menjaga kerukunan.
“Dalam isu kejadian ini, sebetulnya tidak ada terjadi apa-apa, cuma itu barangkali ada kesalahpahaman, mis informasi, sehingga ada pernyataan-pernyataan yang seakan-akan ini ada masalah, padahal gak ada masalah,” ujarnya.
Dia menegaskan tidak ada penolakan dari tokoh masyarakat setempat.
“Saya diskusi sama lurah, tidak ada masalah, tokoh masyarakat tidak ada masalah, tidak ada penolakan. Tokoh masyarakatnya bilang juga ke FKUB, tidak ada penolakan, di media itu salah semua,” katanya.
Ahmad Kholadi juga memaparkan, indeks kerukunan Kota Depok justru menunjukkan tren positif.
“Tahun 2025, kita naik sampai 16 digit. Artinya kita sekarang di urutan 76. Dan kemarin rilis dari lembaga survei UI, bahwa Depok ini mengalami peningkatan yang signifikan juga, nilainya 71,” jelasnya.
Dia berharap media dapat ikut mengedukasi publik secara proporsional.
“Media mohon doanya untuk terus mengkampanyekan supaya Depok ini menjadi kota toleran, dan kota yang rukun, dan harmoni,” pungkasnya.