JawaPos.com - Potensi industri halal di Indonesia untuk dikembangkan di masa depan sangat besar. Sayangnya, konsentrasi industri halal di Nusantara sejauh ini baru berkutat di bidang makanan atau bisnis kuliner saja.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur Ahmad Hakim Jayli dalam peluncuran buku Industri Halal karya Abdul Halim Mahfudz yang berlangsung di Universitas Ciputra (UC) Surabaya pada Jumat (21/8).
Buku yang dianggit Gus Iim, sapaan Abdul Halim Mahfudz, itu dirilis kepada publik empat bulan setelah wafatnya sang penulis.
Baca Juga: Kemenag Tegaskan Penghulu Sebagai Perawat Umat Dalam Transformasi KUA
Selain Hakim, buku Industri Halal tersebut diulas juga oleh Gus Bahar (Pengasuh Ponpes Salafiyah Seblak, Jombang). Acara diskusi tersebut dimoderatori oleh dosen UC Suryadi Kusniawan.
Gus Bahar yang juga putra kedua dari penulis buku mengatakan, proses brainstorming untuk buku itu berlangsung bertahun-tahun.
Seingat Gus Bahar, sejak 2023 atau tiga tahun yang lalu sang ayah selalu mendiskusikan hal itu selama berjam-jam setelah salat subuh.
Baca Juga: Lulus Program Magister Psikologi, Aryo Berbagi Pengalaman Sebagai Mentor
“Bapak melihat halal sebagai ekosistem. Artinya halal sebagai tonggak utama dan halal bukanlah sekadar untuk cantolan industri,” kata Gus Bahar.
Gus Bahar pun menuturkan jika ayahnya selalu mengulang-ulangi pertanyaan yang sifatnya filosofis kepadanya. Yaitu kenapa halal penting bagi seluruh umat.
Buku Industri Halal karya Gus Iim ini berisi tujuh bab. Bab pertama berisi tentang konsep awal halal. Pada bab ini, Gus Iim membahas sejarah, kaidah fikih, serta mekanisme audit halal di Indonesia.
Pada bab selanjutnya, penulis mengulang bagaimana halal mengalami perubahan dan pergeseran praktik serta makna secara historis. Tidak hanya di kawasan Arab melainkan juga di bagian dunia lainnya.
Di bab tiga, Gus Iim menjelaskan bagaimana ekonomi kolonial membentuk pola dagang, politik, sosial, dan budaya. Pada bab empat, Gus Iim mengupas perkembangan halal pascakolonial.
Selanjutnya di bab lima sampai tujuh, penulis yang juga mantan Sekretaris Jendral PSSI Pusat era Djohar Arifin itu mengulas tantangan halal di era modern, regulasi, dan kebijakan halal.
Baca Juga: Berdaya Bersama: Misi Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Dengan diluncurkannya buku ini, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur Hakim berharap perspektif soal industri halal akan semakin luas. Baik secara konsep maupun pelaksanaan.
“Harapannya ngomong industri halal ya tidak hanya dipahami sebagai konsep makanan halal. Melainkan juga wisata halal atau farmasi halal,” ungkap Hakim.
Menurut Hakim, sejumlah negara di luar Indonesai sudah sangat fokus dalam pengembangan industri halal.
Baca Juga: Raffi Ahmad Bersama Kemenag dan Masjid Istiqlal Gelar Program Jumat Berkah
Negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Australia, Selandia Baru, dan Jepang memberikan dukungan besar terhadap industri halal di negerinya.
“Dengan besarnya konsen negara-negara itu kepada industri halal, secara otomatis kini pemasukan negara itu sangat besar. Mereka jadi tujuan utama pelaku industri halal di mana pasarnya luar biasa menarik terutama bagi investor dari kawasan Arab,” beber Hakim.
Menurut dosen UC Suryadi, Gus Iim sebagai penulis buku Industri Halal ini juga punya konsen kepada dunia pendidikan. Dan materi-materi di buku ini sudah diajarkan kepada para mahasiswa UC yang mengambil mata kuliah industri halal yang diampu Gus Iim.
Baca Juga: Penyaluran Zakat Harus Tepat Sasaran dan Tidak Tumpang Tindih, Kemenag Luncurkan Satu Data ZIS-DS