JawaPos.com - Sholat Tarawih merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan.
Namun, di tengah masyarakat sering muncul pertanyaan terkait adanya perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih. Ada yang melaksanakan 8 rakaat, 20 rakaat. Sholat Tarawih bahkan ada yang mengerjakan dengan jumlah rakaat lebih dari 20 rakaat. Ada yang 36 rakaat hingga 40 rakaat.
Perbedaan ini terkadang menimbulkan kebingungan bagi sebagian masyarakat. Yang perlu diketahui bahwa sholat Tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat sama-sama baik untuk dilaksanakan oleh umat Islam.
Perbedaan rakaat pada sholat Tarawih merupakan hal yang wajar karena sama-sama memiliki dasar kuat dalam Islam. Baik 8 rakaat maupun 20 rakaat, semuanya sah dan bernilai pahala selama dilakukan dengan ikhlas sesuai dengan tuntunan syariat.
Berikut penjelasan lengkap tentang perbedaan rakaat sholat Tarawih supaya umat Islam dapat memahaminya dengan baik, sehingga tidak perlu mempersoalkannya.
Sebaliknya, umat Islam dapat melaksanakan sholat Tarawih dengan tenang sesuai kenyamanan dan kemampuannya masing-masing.
Apa Itu Sholat Tarawih?
Sholat Tarawih adalah sholat sunnah yang hanya dilakukan pada bulan Ramadhan. Bisanya sholat ini dilakukan setelah sholat Isya dan merupakan bagian dari qiyamul lail yang dianjurkan pada bulan suci Ramadhan.
Rasulullah angat menganjurkan sholat Tarawih sebagaimana sabdanya:
“Barang siapa melaksanakan sholat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perbedaan Rakaat Sholat Tarawih dalam Sejarah Islam
1. Sholat Tarawih 8 Rakaat
Pendapat 8 rakaat merujuk pada hadis Aisyah radhiyallahu anha yang menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah sholat malam lebih dari 11 rakaat, termasuk sholat Witir.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dan menjadi dasar bagi sebagian ulama bahwa Tarawih 8 rakaat dengan ditambah 3 rakaat sholat Witir adalah jumlah yang paling mendekati praktik Nabi Muhammad.
Pendapat ini banyak diikuti oleh kalangan yang mengutamakan kesesuaian langsung dengan sunnah Rasulullah.
2. Sholat Tarawih 20 Rakaat
Pendapat 20 rakaat juga memiliki dasar kuat berdasarkan praktik dari para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu. Pada masa itu, Umar mengumpulkan umat Islam untuk melaksanakan sholat Tarawih secara berjamaah sebanyak 20 rakaat.
Praktik sholat Tarawih 20 rakaat juga terjadi masa Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thallib. Riwayat ini disebutkan dalam berbagai kitab hadis dan fiqih, dan diamalkan secara luas oleh mayoritas umat Islam, terutama mereka yang mengikuti mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Di Indonesia, sholat Tarawih 20 rakaat menjadi praktik yang paling umum di masjid-masjid.
3. Sholat Tarawih Lebih dari 20 Rakaat
Dalam beberapa riwayat dan praktik ulama salaf, sholat Tarawih juga dilakukan lebih dari 20 rakaat, seperti 36 rakaat dan 40 rakaat. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah rakaat Tarawih bersifat fleksibel dan tidak dibatasi secara mutlak.
Mengapa Terjadi Perbedaan Rakaat Sholat Tarawih?
Perbedaan rakaat sholat Tarawih terjadi karena ini adalah ibadah sunnah dan tidak adan penetapan jumlah rakaat secara tegas dari Rasulullah.
Perbedaan cara memahami hadis tentang sholat malam juga membuat munculnya perbedaan dalam jumlah rakaat sholat Tarawih. Selain itu, sahabat Nabi juga melakukan praktik ibadah yang satu ini berbeda-beda.
Namun yang pasti, mau 8 rakaat atau 20 rakaat, dapat dilakukan disesuaikan dengan kemudahan dan kemampuan masing-masing.
Sholat Tarawih yang Lebih Utama 8 atau 20 Rakaat?
Para ulama sepakat bahwa kualitas sholat lebih utama daripada jumlah rakaat. Kekhusyukan, ketenangan, dan konsistensi dalam beribadah jauh lebih penting dibanding memperdebatkan jumlah rakaat.
Sholat Tarawih boleh dilakukan sedikit atau banyak, sesuai kemampuan dan kondisi dari masing-masing jamaah.
Agar bulan Ramadhan tetap penuh dengan keberkahan, umat Islam dianjurkan untuk tidak saling menyalahkan terkait perbedaan jumlah rakaat dan menghormati tradisi yang biasa dilakukan masyarakat di masing-masing daerah.
Karena sejatinya perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih adalah rahmat, bukan sumber perpecahan.