← Beranda
Bertemu Trump, Xi Jinping Minta AI Tetap Berada di Bawah Kendali Manusia
Rian Alfianto• Jumat, 25 September 2026 | 18.10 WIB
Tangkapan layar detik-detik Donald Trump berjabat tangan dengan Xi Jinping. (CGTN)

 

JawaPos.com - Presiden Tiongkok Xi Jinping meminta pengembangan kecerdasan buatan (AI) tetap berada di bawah kendali manusia saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. 

Menurut Xi, kedua negara memiliki kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk memastikan AI dikembangkan demi kepentingan manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan Xi dalam pertemuan dengan Trump ketika keduanya membuka pembicaraan bersama para pejabat dari masing-masing negara. AI menjadi salah satu isu yang dibahas di tengah meningkatnya kekhawatiran global mengenai dampak perkembangan teknologi tersebut.

"Kami memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI untuk selamanya dan memastikan bahwa pengembangan AI selalu berada di bawah kendali manusia dan melayani kesejahteraan masyarakat," kata Xi mengutip Spectrum News.

Pernyataan Xi menegaskan bahwa perkembangan kemampuan AI perlu diikuti dengan pengelolaan risiko. Terlebih, teknologi tersebut kini berkembang pesat dan penggunaannya semakin luas, mulai dari industri hingga berbagai layanan yang digunakan masyarakat.

Trump Sebut AI sebagai Salah Satu Agenda

Trump sebelumnya mengatakan AI akan menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam pertemuannya dengan Xi. Ia bahkan menggunakan istilah 'superintelligence' ketika membicarakan perkembangan teknologi AI.

Melalui unggahan di media sosial pada Kamis (24/9), Trump mengatakan dirinya ingin mempertahankan posisi pembahasan AI seperti saat itu.

"Saya ingin meninggalkannya persis di tempatnya. Itu juga posisi Tiongkok," kata Trump.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya menjadi persoalan teknologi, tetapi juga mulai masuk ke dalam pembicaraan tingkat tinggi antara dua negara dengan pengaruh besar dalam pengembangan teknologi tersebut.

Kekhawatiran mengenai AI juga semakin luas, terutama terkait potensi perubahan pada pasar kerja serta risiko penggunaan teknologi yang tidak terkendali.

Pembahasan mengenai pengelolaan risiko AI antara Amerika Serikat dan China sebenarnya telah berlangsung sebelum pertemuan Trump dan Xi.

Menteri Keuangan kedua negara bertemu pada awal pekan ini. Dalam pertemuan tersebut, Amerika Serikat mengusulkan mekanisme notifikasi baru untuk menangani insiden yang berkaitan dengan AI.

Mekanisme tersebut dapat menjadi saluran komunikasi bagi kedua negara apabila terjadi insiden AI yang memiliki dampak signifikan, terutama yang berkaitan dengan keamanan.

Langkah ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi antara Washington dan Beijing berjalan bersamaan dengan kebutuhan untuk membangun komunikasi mengenai risiko AI.

AI Jadi Isu Strategis AS-Tiongkok

Pertemuan Trump dan Xi berlangsung di tengah persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. AI menjadi salah satu bidang yang semakin strategis karena kemampuannya dapat memengaruhi industri, ekonomi, keamanan, hingga perkembangan teknologi masa depan.

Karena itu, pesan Xi mengenai kendali manusia atas AI memiliki konteks yang lebih luas. Tiongkok Amerika Serikat tidak hanya berupaya mengembangkan teknologi tersebut, tetapi juga mulai membicarakan bagaimana AI digunakan dan bagaimana risiko yang menyertainya dikelola.

Bagi masyarakat, arah pembicaraan kedua negara dapat berpengaruh terhadap perkembangan tata kelola AI secara global. Persoalannya bukan hanya seberapa canggih AI dapat dibuat, tetapi juga sejauh mana manusia tetap memegang kendali atas keputusan dan penggunaan teknologi tersebut.

EDITOR: Estu Suryowati