JawaPos.com - Satu orang meninggal dunia dan lebih dari 30 lainnya masih hilang setelah kapal feri MV Matui tenggelam di perairan Vanuatu dalam kondisi laut yang sangat buruk. Operasi pencarian korban masih berlangsung, sementara otoritas mulai mengalihkan fokus pencarian dari perairan terbuka ke wilayah pesisir.
Dilansir dari Al Jazeera, MV Matui berangkat pada Jumat dari Pulau Santo menuju Pulau Ambae, di bagian utara Vanuatu. Kapal membawa lebih dari 40 penumpang dan awak ketika berlayar dalam kondisi laut yang dilaporkan sangat bergelombang.
Namun, kapal tidak pernah tiba di Ambae. Kantor Perdana Menteri Vanuatu Jotham Napat mengatakan sejauh ini 15 orang telah ditemukan dalam keadaan hidup, sementara satu jenazah berhasil dievakuasi dari laut.
Pemerintah Vanuatu menyatakan lebih dari 30 orang lainnya masih hilang di laut. Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan untuk menemukan korban yang kemungkinan masih bertahan hidup.
Baca Juga: 5 Tewas, 87 Hilang! Kapal Feri Dilaporkan Terbakar di Filipina
"Kami menyampaikan duka mendalam dan doa kepada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta," kata kantor Perdana Menteri Vanuatu Jotham Napat dalam pernyataan pada Minggu (13/9/2026), seperti dikutip The Guardian.
Pemerintah juga menyampaikan harapan agar para penyintas dapat segera pulih serta meminta keluarga korban tetap mendapat dukungan selama proses pencarian berlangsung.
Sementara itu, upaya penyelamatan dan evakuasi masih berlangsung dan melibatkan bantuan internasional. Maritime Rescue Coordination Centre di Kaledonia Baru turut membantu operasi pencarian, sementara sebuah pesawat Angkatan Bersenjata Prancis dikerahkan pada Minggu pagi untuk mendukung pencarian dari udara. Pusat koordinasi mengatakan 12 orang berhasil ditemukan pada Minggu pagi.
Seiring perkembangan operasi, pencarian di perairan terbuka mulai dikurangi. Tim penyelamat kini mengarahkan perhatian ke pesisir tenggara Vanuatu karena arus laut diduga dapat membawa penyintas atau korban ke wilayah tersebut.
Matai Seremaiah, anggota parlemen untuk Luganville yang ikut membantu pencarian, mengatakan wilayah pesisir tenggara menjadi salah satu titik utama yang akan diperiksa. Perubahan strategi ini dilakukan dengan mempertimbangkan kemungkinan pergerakan korban akibat arus laut setelah kapal tenggelam.
Di saat pencarian berlangsung, pemerintah juga membuka penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan. Kantor perdana menteri mengatakan tenggelamnya MV Matui diduga berkaitan dengan angin kencang dan peringatan kondisi laut yang tidak diindahkan, serta kemungkinan kelalaian, termasuk dugaan kapal membawa muatan berlebihan.
"Insiden ini tampaknya merupakan akibat dari angin kencang dan peringatan maritim yang tidak diindahkan, serta kemungkinan kelalaian, termasuk kelebihan muatan kapal," demikian pernyataan pemerintah Vanuatu.
Baca Juga: Jembatan Dermaga Pelabuhan Bastiong Ambruk Dihantam Kapal Feri
Penyelidikan menyeluruh akan dilakukan untuk memastikan fakta di balik tenggelamnya kapal sekaligus menentukan apakah terdapat pelanggaran atau kelalaian yang berkontribusi terhadap tragedi tersebut. Polisi Vanuatu, Maritime Safety Authority, dan operator feri Tui Shipping Agency belum memberikan tanggapan ketika dimintai komentar oleh Reuters.
Sementara itu, pencarian masih menjadi prioritas utama karena lebih dari 30 orang belum ditemukan. Pemerintah Vanuatu menyatakan pencarian akan terus dilakukan sembari mengarahkan sumber daya ke wilayah yang dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menemukan penyintas.