← Beranda
Hutan Bakau Terbesar Dunia di Bangladesh-India Terdesak Air Asin, Penghidupan 4 Juta Warga Tergerus
Mellyna Putri DiniarKamis, 3 September 2026 | 21.15 WIB
Sungai mengalir melintasi Sundarbans, hutan bakau terbesar di dunia, di dekat Rampal, Bangladesh / Foto: (The Conversation)

JawaPos.com — Krisis iklim di Sundarbans, kawasan hutan bakau terbesar di dunia yang membentang di wilayah Bangladesh dan India, mulai terlihat dari perubahan yang paling mendasar: air. 

Kolam yang sebelumnya menjadi sumber ikan dan penghidupan keluarga mengering, sementara air asin merangsek ke lahan pertanian dan sumber air tawar. Perlahan, tekanan ekologis itu berubah menjadi persoalan ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang bergantung pada delta tersebut.

Sundarbans, yang berada di pertemuan sungai Gangga, Brahmaputra, dan Meghna di Teluk Benggala, merupakan hutan bakau terbesar di dunia serta Situs Warisan Dunia UNESCO. Sekitar empat juta orang bergantung pada ekosistem ini untuk pangan, pendapatan, dan tempat tinggal. Namun, benteng alami terhadap siklon dan kenaikan permukaan laut itu kini menghadapi tekanan yang semakin kompleks.

Dilansir dari The Conversation, Kamis (3/9/2026), peneliti yang mengunjungi Sundarbans pada Mei 2026 awalnya mencari cerita tentang kondisi hutan bakau. Namun, yang mereka temukan adalah sebuah kolam kering dan retak di wilayah delta yang selama ini identik dengan kelimpahan air. Beberapa bulan sebelumnya, kolam itu masih berisi ikan yang menjadi sumber pangan sebuah keluarga.

Kini, keluarga tersebut harus bergabung dengan kelompok swadaya dan mengumpulkan tabungan bersama warga lain untuk bertahan hidup. Kondisi itu menggambarkan persoalan yang lebih luas. “Yang pertama kali mengejutkan kami bukanlah pohon-pohon yang hilang, melainkan air yang hilang,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut. 

Masalahnya tidak berhenti pada satu kolam. Tanggul yang dibangun untuk menahan aliran pasang surut disebut rusak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat memperbaikinya. Perbaikannya pun semakin bersifat darurat, dengan lumpur dan bambu digunakan menjelang musim hujan, bukan penguatan infrastruktur yang memadai. Air asin juga terus merangsek ke lahan pertanian yang sebelumnya mampu menghasilkan dua kali panen padi dalam setahun. 

Kolam air tawar untuk budi daya ikan pun berubah menjadi payau. Setelah kondisi itu terjadi, pemulihannya tidak mudah. Ikan yang mampu bertahan di air payau umumnya bernilai ekonomi lebih rendah. Dampaknya kemudian merembet ke keputusan rumah tangga: membentuk koperasi, mengambil pekerjaan bergaji, atau mengirim anggota keluarga ke kota yang sebelumnya tidak pernah mereka rencanakan sebagai tempat tinggal.

“Inilah gambaran adaptasi iklim ketika tidak lagi sekadar menjadi kebijakan, tetapi berubah menjadi keputusan rumah tangga yang harus diambil di bawah tekanan,” demikian gambaran yang disampaikan dalam laporan The Conversation. Kerentanan iklim, menurut penulisnya, jarang muncul melalui satu bencana besar. Sebaliknya, tekanan kecil dapat terakumulasi selama bertahun-tahun hingga kerusakannya menjadi bersifat struktural. 

Karena itu, kerusakan tanggul tidak selalu terjadi akibat satu badai. “Tanggul tidak gagal setelah satu kali badai; tanggul gagal karena perbaikan tidak mampu mengimbangi erosi,” tulis para peneliti. “Inilah seperti apa keruntuhan sebuah delta jika dilihat dari dalam, dan ini bukan skenario masa depan.” 

Persoalan berikutnya adalah pembiayaan adaptasi. Pendanaan iklim selama ini lebih mudah diarahkan untuk bencana dengan peristiwa yang jelas, seperti siklon atau banjir. Sebaliknya, kerusakan yang berlangsung perlahan, seperti meningkatnya salinitas selama bertahun-tahun, jauh lebih sulit memperoleh perhatian dan pendanaan, meskipun proses inilah yang perlahan mendorong keluarga meninggalkan pertanian dan perikanan.

Baik Bangladesh maupun India menerima pembiayaan iklim untuk kawasan delta tersebut. Namun, laporan itu menilai sebagian besar manfaat belum cukup menjangkau rumah tangga yang menghadapi keputusan paling mendasar, mulai dari berhenti bertani, bekerja di pabrik, hingga menjual ternak terakhir mereka. Dana lebih banyak berhenti pada proyek tanggul dan penanaman bakau, meskipun keduanya tetap penting. 

Yang membuat Sundarbans relevan bagi dunia adalah pola serupa juga mulai terlihat di delta lain. Delta Mekong di Asia Tenggara, Delta Nil di Mesir, dan Delta Niger di Nigeria menghadapi persoalan tanggul serta intrusi air asin dengan lintasan berbeda. Sundarbans, dalam hal ini, bukan sekadar korban krisis iklim, melainkan gambaran awal tentang apa yang dapat terjadi ketika kerusakan ekologis yang bergerak perlahan melampaui kemampuan sistem untuk mencegahnya. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho