← Beranda
Menlu Iran Sebut Netanyahu 'Ular', Hasut AS untuk Terus Berperang dengan Iran
Rian AlfiantoSelasa, 1 September 2026 | 23.15 WIB
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghci. (AP)

 

JawaPos.com - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kalau Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghasut Amerika Serikat untuk terus berperang dengan Iran.

Araghchi bahkan menyebut Netanyahu sebagai 'ular' setelah menilai sang perdana menteri Israel secara terbuka mengklaim telah berhasil memengaruhi Washington untuk mengambil sikap konfrontatif terhadap Teheran.

Tudingan tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di X pada Senin. Ia menyinggung pernyataan Netanyahu dalam bahasa Ibrani yang menurutnya memperlihatkan kebanggaan atas keberhasilannya memengaruhi kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran.

“Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membanggakan bahwa ia telah menipu pemerintahan AS untuk berperang melawan Iran atas nama Israel. Netanyahu secara eksplisit menertawakan bagaimana ia 'memengaruhi' Amerika melalui 1.000 jam siaran di jaringan televisi AS,” kata Araghchi.

Baca Juga: Stasiun Karet Dialihkan ke BNI City, Keluhan Pengguna: Jalannya Jauh

“Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan POTUS. Ular,” lanjutnya.

Pernyataan itu memperlihatkan semakin tajamnya retorika Teheran terhadap Netanyahu di tengah konflik Iran-AS-Israel yang belum sepenuhnya mereda.

Diketahui, perang antara Iran dan Amerika Serikat pecah pada 28 Februari setelah serangan AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior militer.

Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke berbagai wilayah di kawasan. Konflik pun meluas dan meningkatkan kekhawatiran akan perang regional yang lebih besar.

Gencatan senjata pada April lalu berhasil menghentikan pertempuran paling intens. Namun, kesepakatan tersebut belum menghasilkan perdamaian permanen.

Serangan sporadis, terutama di sekitar Selat Hormuz, masih terjadi. Kondisi itu membuat hubungan Iran dan Amerika Serikat tetap berada dalam situasi genting.

Washington bahkan belakangan mengubah pendekatannya terhadap Teheran dengan menjalankan kampanye yang disebut sebagai 'economic asphyxiation' atau pencekikan ekonomi terhadap Iran.

Kemarin, ketegangan kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Pulau Larak pada Minggu malam.

Serangan tersebut menjadi aksi militer AS terhadap wilayah itu yang pertama dalam sebulan. Iran kemudian mengatakan telah merespons dengan melancarkan serangan terhadap Yordania dan Uni Emirat Arab.

Baca Juga: Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor

Rangkaian aksi tersebut menunjukkan bahwa gencatan senjata belum sepenuhnya mengakhiri permusuhan. Sebaliknya, konflik masih dapat kembali meningkat sewaktu-waktu jika serangan dan aksi balasan terus berlanjut.

Posisi Selat Hormuz menjadi perhatian khusus karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Eskalasi di wilayah itu berpotensi tidak hanya berdampak pada keamanan Timur Tengah, tetapi juga pasokan dan harga energi global.

Tudingan Araghchi juga muncul beberapa hari setelah Netanyahu menolak kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat.

Pekan lalu, Netanyahu menyatakan tidak melihat prospek kesepakatan tersebut dan menyebut para pemimpin Iran sebagai 'savages' atau 'orang-orang biadab'.

Sikap keras Netanyahu dan tudingan terbaru dari Araghchi menunjukkan bahwa ruang diplomasi antara pihak-pihak yang bertikai masih sangat terbatas.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan