← Beranda
Iran-Oman Sepakati Jalur Baru Hormuz, Trump Ancam Bom jika Kesepakatan Ganggu Negosiasi AS
Rian AlfiantoRabu, 19 Agustus 2026 | 01.27 WIB
Ilustrasi kapal tanker di perairan Selat Hormuz. (AP Photo/Kamran Jebreili)
 

JawaPos.com - Iran dan Oman dilaporkan telah mencapai pemahaman awal mengenai peta jalur transit baru bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kesepakatan ini menjadi langkah penting untuk menghidupkan kembali lalu lintas di jalur energi strategis tersebut, tetapi belum jelas apakah skema yang disepakati Teheran dan Muscat memenuhi tuntutan Amerika Serikat untuk membuka Hormuz secara penuh, aman, dan bebas pungutan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, kesepahaman mengenai jalur transit telah tercapai dalam pembicaraan bilateral dengan Oman.

"Sebuah pemahaman telah dicapai mengenai peta rute transit," kata Baghaei kepada wartawan di Teheran.

Meski demikian, Baghaei belum menjelaskan secara rinci bentuk jalur tersebut. Namun, laporan sebelumnya menyebut kapal kemungkinan akan masuk melalui jalur yang berada dekat perairan Iran dan keluar melalui jalur yang berdekatan dengan Oman.

Pada tahap awal, kapal disebut dapat melintasi rute tersebut tanpa dikenai biaya transit.

Kesepakatan Iran dan Oman sendiri muncul ketika lalu lintas kapal di Selat Hormuz hampir terhenti akibat perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Sebelum perang, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. Gangguan terhadap jalur ini kemudian memicu guncangan energi global dan mendorong harga minyak mentah melonjak.

Harga minyak Brent, yang sebelumnya berada di kisaran USD 70 per barel sebelum perang, bahkan sempat mendekati USD 115 per barel pada awal Mei lalu.

Data perusahaan analitik maritim Kpler menunjukkan lalu lintas masih sangat terbatas. Pada Minggu, hanya tiga kapal yang tercatat melewati Selat Hormuz.

Kondisi itu membuat pembukaan kembali jalur pelayaran menjadi salah satu isu paling krusial dalam upaya meredakan dampak ekonomi perang.

Diketahui juga, pembicaraan Iran dan Oman mengenai rute baru serta mekanisme pengelolaan lalu lintas kapal telah berlangsung sekitar tiga bulan.

Teheran berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan dengan Oman berdiri sendiri dan tidak bergantung pada tercapai atau tidaknya kesepakatan Iran dengan Amerika Serikat mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Saat ini terdapat tiga jalur yang digunakan di kawasan selat, yakni jalur yang melewati perairan teritorial Iran, rute yang sebelumnya digunakan di bagian tengah selat, serta jalur Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang melintasi perairan Oman di bagian selatan.

Namun, ketiga jalur tersebut terdampak konflik. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan telah menyerang kapal yang melintas melalui ketiga rute tersebut.

Karena itu, jalur baru yang sedang disiapkan Iran dan Oman diharapkan dapat memberikan mekanisme transit alternatif sekaligus mengurangi risiko bagi kapal komersial.

Walaupun pembicaraan dengan Oman menunjukkan perkembangan, negosiasi langsung mengenai pembukaan Hormuz dengan Amerika Serikat masih menemui hambatan.

Baghaei mengatakan pembicaraan dengan Washington bergantung pada pencabutan sejumlah persyaratan yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran.

Iran juga menuntut Amerika Serikat menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang diberlakukan sejak April serta membayar ganti rugi perang.

Menurut Baghaei, pembicaraan memang berjalan lambat. Namun, Teheran tetap menargetkan kesepahaman tersebut dirampungkan sebagai satu paket yang mencakup peta jalur transit dan pernyataan bersama.

Di sisi lain, perkembangan antara Iran dan Oman justru memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump mengancam Oman dengan serangan militer jika negara tersebut dianggap menghambat kemungkinan kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Pemerintahan Trump sebelumnya beberapa kali menyatakan bahwa Washington semakin dekat dengan kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan tersebut disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian perang, serta pembatasan program pengayaan uranium Iran.

Namun, Teheran membantah bahwa pihaknya sedang melakukan negosiasi dengan Washington.

Trump pada Senin mengatakan pembicaraan informal dengan IRGC tetap berlangsung. Ia juga menegaskan Amerika Serikat tidak terburu-buru mencapai kesepakatan.

EDITOR: Estu Suryowati