JawaPos.com - Hampir 20 negara Islam mulai menyusun langkah bersama untuk merespons tindakan Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa. Kesepakatan itu mengemuka dalam pertemuan tingkat menteri mengenai Yerusalem yang digelar di Amman, Yordania, Rabu (5/8), di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan pembahasan dalam forum tersebut secara khusus difokuskan pada perkembangan terbaru di Masjid Al-Aqsa. Menurutnya, negara-negara peserta tidak ingin perhatian dunia terhadap Palestina beralih akibat konflik lain yang sedang berlangsung di kawasan.
"Hari ini kami menghadiri pertemuan yang benar-benar bersejarah di Amman," kata Fidan kepada wartawan usai pertemuan.
Dilansir via TRT World, ia menjelaskan, hampir 20 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bertukar pandangan mengenai berbagai langkah yang dapat diambil, mulai dari upaya diplomatik hingga tindakan kolektif lainnya sebagai respons atas pelanggaran yang terjadi di Masjid Al-Aqsa.
"Ada pertukaran pandangan yang sangat serius. Negara-negara terhormat di dunia Islam menyampaikan kekhawatiran sekaligus kemarahan mereka, sembari membahas langkah-langkah praktis, diplomatik, dan tindakan lain yang perlu diambil," lanjutnya.
Dunia Islam Tak Ingin Fokus Palestina Tergeser
Fidan menegaskan perang yang terjadi di kawasan Teluk, dampak penutupan Selat Hormuz, hingga berbagai gejolak regional tidak boleh mengalihkan perhatian internasional dari situasi di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
Menurutnya, Israel justru berpotensi memperluas tindakannya apabila perhatian dunia terpecah.
"Karena kami tahu, jika perhatian kami teralihkan ke isu lain, Israel akan lebih mudah melakukan apa yang sedang dilakukannya di Gaza, Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, dan Tepi Barat," kata Fidan.
Turki Tegaskan Al-Aqsa adalah Tempat Suci Umat Islam
Dalam kesempatan itu, Fidan kembali menegaskan dukungan Turki terhadap status Masjid Al-Aqsa. Ia juga mengakui peran historis dan hukum Yordania sebagai penjaga situs-situs suci di Yerusalem Timur yang diduduki.
Menurut Fidan, pemerintah dan masyarakat Turki memandang Masjid Al-Aqsa sebagai salah satu tempat suci yang memiliki arti penting bagi bangsa mereka.
"Presiden kami (Recep Tayyip Erdogan), pemerintah, negara, dan masyarakat kami memandang Masjid Al-Aqsa sebagai salah satu tempat suci kami sendiri. Setiap pelanggaran terhadapnya kami anggap sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai bangsa kami," tegasnya.
Ia menambahkan Turki dan Yordania juga menyampaikan pesan solidaritas bersama terkait Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa dalam forum tersebut.
Empat Negara Bahas Perdamaian Gaza
Selain menghadiri pertemuan mengenai Yerusalem, Fidan juga mengikuti pertemuan kelima kelompok yang beranggotakan Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Pakistan.
Keempat negara membahas perkembangan terbaru di Jalur Gaza sekaligus mengevaluasi upaya implementasi rencana perdamaian yang tengah diupayakan.
Fidan mengatakan Mesir dan Turki masih aktif menjalankan peran mediasi dalam proses tersebut.
"Kami secara serius membahas bagaimana merespons dan mengelola sikap Israel, pengabaian terhadap hukum internasional, serta kegagalannya mematuhi aturan dalam pelaksanaan rencana perdamaian," ucapnya.
Ia mengungkapkan para menteri telah mencapai sejumlah keputusan yang akan disampaikan kepada para pemimpin masing-masing negara.
"Anda akan melihat langkah-langkah yang berkaitan dengan keputusan tersebut dalam beberapa hari ke depan," kata Fidan.
Pertemuan itu juga membahas risiko meluasnya konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan di Laut Merah serta potensi eskalasi yang lebih besar.
Baca Juga: Usai Tutup Masjidil Aqsa, Israel Larang Kardinal Ikuti Misa Minggu Palma
Menurut Fidan, empat negara tersebut turut meninjau dokumen visi regional yang sedang mereka susun bersama sebagai kerangka awal untuk menciptakan solusi jangka panjang atas berbagai persoalan di kawasan.
"Ini akan menjadi langkah pertama untuk menyusun kerangka penyelesaian permanen terhadap berbagai persoalan di kawasan. Dengan menyelesaikan pekerjaan ini secara sistematis, kami berharap dapat membangun stabilitas, keamanan, dan perdamaian regional secara bertahap," pungkasnya.