JawaPos.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan ancaman keras kepada Inggris. Teheran menegaskan seluruh pangkalan militer Inggris yang digunakan Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan serangan ke wilayah Iran akan dianggap sebagai sasaran militer yang sah.
Peringatan itu disampaikan IRGC pada Kamis di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Iran, AS, dan Israel. Selain mengancam akan menyerang fasilitas militer Inggris, IRGC juga menuduh London berperan besar dalam operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut AS kini menggunakan pesawat pengebom strategis B-1 yang lepas landas dari RAF Fairford di Inggris setelah kapal-kapal perang Amerika di Samudra Hindia dilaporkan kehabisan persediaan rudal jelajah.
Baca Juga: Arsenal Bernostalgia dengan Seragam Legendaris 'Bruised Banana' untuk Jersey Tandang Musim 2026/2027
"Setiap pangkalan yang digunakan untuk melakukan agresi terhadap wilayah Iran merupakan target yang sah bagi kami," tegas IRGC mengutip media lokal Iran.
Iran juga memperingatkan Inggris agar tidak semakin memperburuk situasi. Menurut IRGC, London merupakan salah satu pihak yang paling bertanggung jawab atas meningkatnya ketidakstabilan di Timur Tengah karena keterlibatannya dalam operasi militer terhadap Iran.
IRGC menyatakan Inggris adalah "arsitek utama ketidakstabilan" di kawasan dan memiliki salah satu peran terbesar dalam serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran.
IRGC Klaim Serang Pangkalan AS di Qatar
Baca Juga: Timnas Singapura Perkasa di Kandang Kamboja, Pelatih Gavin Lee Belum Puas Usai Menang 2-1
Dalam pernyataan terpisah, IRGC mengklaim telah menyerang unit peperangan elektronik milik AS yang berada di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar.
Pasukan elite Iran itu juga mengaku serangan tersebut merusak menara pengatur lalu lintas udara di fasilitas militer yang menjadi salah satu basis utama operasi militer AS di kawasan Teluk.
Hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan yang diklaim Iran tersebut.
Selain melontarkan ancaman militer, IRGC menuduh Washington memanfaatkan ajakan untuk kembali berunding sebagai strategi untuk mengulur waktu.
Menurut IRGC, AS diduga ingin menggunakan jeda perundingan guna mengisi kembali persediaan persenjataan dan memperkuat kemampuan militernya sebelum kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Karena itu, Teheran menegaskan tidak akan membiarkan Washington memperoleh keuntungan dari apa yang disebut sebagai 'gencatan senjata yang menipu'.
Baca Juga: Justin Hubner Dilaporkan Tak Dilepas Fortuna Sittard ke Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026
Diketahui, situasi keamanan di Timur Tengah masih berada dalam kondisi yang sangat tegang sejak AS dan Israel melancarkan operasi militer bersama terhadap Iran pada Februari lalu.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta berbagai aset militer AS di kawasan Teluk.
Meski kedua pihak sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik pada bulan lalu, ketegangan kembali meningkat dalam sepekan terakhir.