JawaPos.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan infrastruktur pusat data milik perusahaan teknologi Amazon di Bahrain dalam serangan rudal jelajah yang dilancarkan pada Selasa (21/7) waktu setempat.
Selain itu, Iran juga mengaku menyerang sistem pertahanan udara dan instalasi radar Amerika Serikat (AS) yang berada di wilayah Bahrain.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah Bahrain, otoritas Amerika Serikat, maupun Amazon belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim tersebut. Belum ada pula verifikasi independen yang memastikan tingkat kerusakan atau dampak dari serangan yang diklaim Iran.
Baca Juga: Bongkar Berbagai Kasus Termasuk Korupsi, Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU
Klaim itu muncul ketika konflik militer langsung antara Iran dan Amerika Serikat memasuki hari ke-10, di tengah berbagai upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah.
Iran Klaim Sasar Pusat Data Amazon dan Sistem Pertahanan AS
Dalam pernyataan yang dirilis kantor hubungan masyarakat IRGC, Pasukan Dirgantara Garda Revolusi mengaku menggunakan sejumlah rudal jelajah untuk menyerang fasilitas yang disebut sebagai infrastruktur data pusat Amazon di Bahrain.
IRGC juga menyatakan serangan turut menyasar sistem pertahanan udara Amerika Serikat serta instalasi radar yang berada di kawasan Muharraq dan Riffa, Bahrain, demikian dikutip via Euronews.
Namun hingga kini belum ada konfirmasi dari pihak berwenang Bahrain maupun militer AS mengenai klaim tersebut.
Iran Sebut Serangan sebagai Balasan atas Aksi Militer AS
Dalam pernyataan yang sama, IRGC menegaskan operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai 'agresi militer AS kemarin terhadap fasilitas sipil yang masih dalam tahap pembangunan di Darkhovin'.
Menurut Iran, serangan Amerika menargetkan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Darkhovin yang masih dibangun.
Iran Minta IAEA dan Dewan Keamanan PBB Bertindak
Secara terpisah, Misi Tetap Iran untuk Organisasi Internasional di Wina mendesak Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengutuk serangan AS terhadap fasilitas nuklir Darkhovin.
Sementara itu, IAEA menyatakan masih meninjau laporan mengenai dugaan serangan tersebut, tetapi belum mengeluarkan penilaian independen mengenai insiden yang diklaim Iran.
Ketegangan Iran-AS Terus Meningkat
Ketegangan antara kedua negara terus meningkat setelah Amerika Serikat memperluas serangan terhadap sejumlah infrastruktur Iran.
Baca Juga: Bongkar Berbagai Kasus Termasuk Korupsi, Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU
Sebelumnya, Teheran telah memperingatkan bahwa jika serangan-serangan tersebut berlanjut, Iran akan membalas dengan menargetkan fasilitas dan infrastruktur di negara-negara kawasan yang digunakan atau disediakan untuk kepentingan militer Amerika Serikat.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan Iran akan membayar 'berkali-kali lipat' atas kematian tiga prajurit Amerika di Yordania dan Irak baru-baru ini.
Dengan belum adanya konfirmasi dari pihak Bahrain, Amazon, maupun Amerika Serikat, klaim IRGC mengenai penghancuran pusat data Amazon dan serangan terhadap sistem pertahanan AS masih belum dapat diverifikasi secara independen.
Situasi ini menambah ketidakpastian di tengah eskalasi konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah.