← Beranda
Meski Pernikahan Naik, Angka Kelahiran Jepang Tetap Anjlok ke Rekor Terburuk
Dhimas GinanjarRabu, 3 Juni 2026 | 22.27 WIB
Ilustrasi. Angka kelahiran bayi di Jepang terus turun meski angka pernikahan naik. (Nippon.com)

JawaPos.com – Jepang kembali mencatat rekor terburuk dalam krisis demografi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Jumlah bayi yang lahir pada 2025 turun ke level terendah sepanjang sejarah, sementara tingkat fertilitas nasional juga menyentuh titik terendah baru.

Data yang dirilis Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada Rabu (3/6) menunjukkan hanya 671.236 bayi lahir dari warga negara Jepang sepanjang 2025.

Jumlah tersebut turun 2,2 persen atau berkurang 14.937 bayi dibandingkan tahun sebelumnya. Ini sekaligus menjadi tahun ke-10 berturut-turut angka kelahiran mengalami penurunan.

Tingkat fertilitas total Jepang, atau rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dilahirkan seorang perempuan sepanjang hidupnya, juga turun dari 1,15 menjadi 1,14.

Angka tersebut jauh di bawah tingkat penggantian populasi sebesar 2,1 yang dibutuhkan agar jumlah penduduk tetap stabil tanpa bergantung pada imigrasi.

Meski penurunannya lebih lambat dibanding beberapa tahun terakhir, pemerintah Jepang menilai langkah-langkah mendesak tetap diperlukan untuk menghentikan tren penurunan angka kelahiran.

Sedikit kabar positif datang dari jumlah pernikahan yang meningkat untuk dua tahun berturut-turut. Pada 2025, tercatat 489.119 pasangan menikah di Jepang.

Rata-rata usia pria saat menikah berada di angka 31 tahun, sementara perempuan 29,7 tahun. Keduanya sedikit lebih muda dibandingkan tahun sebelumnya.

Karena pernikahan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi angka kelahiran di Jepang, kenaikan jumlah pasangan menikah dianggap dapat memberikan dampak positif dalam beberapa tahun ke depan.

Dari 47 prefektur di Jepang, hanya empat wilayah yang berhasil mencatat peningkatan jumlah kelahiran. Tokyo, Toyama, dan Ishikawa mengalami kenaikan untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, sementara Kagawa mencatat peningkatan pertama dalam empat tahun.

Berdasarkan wilayah, tingkat fertilitas tertinggi tercatat di Okinawa dengan angka 1,52. Disusul Miyazaki sebesar 1,46 dan Fukui 1,45.

Sebaliknya, Tokyo memiliki tingkat fertilitas terendah di Jepang, hanya 0,96. Hokkaido dan Miyagi menyusul dengan angka 1,00.

Sementara itu, jumlah kematian sepanjang 2025 mencapai 1.589.489 orang. Meski turun untuk pertama kalinya dalam lima tahun, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah kelahiran.

Akibatnya, Jepang mengalami penurunan populasi alami sebesar 918.253 orang dalam setahun, atau selisih antara jumlah kematian dan kelahiran.

Ini menjadi tahun ke-19 berturut-turut Jepang mengalami penyusutan jumlah penduduk secara alami.

Kondisi tersebut bahkan lebih buruk dari perkiraan sebelumnya. Pada 2023, Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang memperkirakan jumlah kelahiran pada 2025 masih berada di kisaran 749.000 bayi.

Namun realisasinya jauh lebih rendah, yakni hanya 671.236 bayi.

Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi Jepang yang kini menghadapi populasi menua, kekurangan tenaga kerja, serta meningkatnya beban pembiayaan sistem pensiun dan layanan kesehatan nasional.

EDITOR: Dhimas Ginanjar