JawaPos.com - James Murdoch resmi mengambil alih New York magazine dan Vox dalam kesepakatan besar yang menandai perubahan arah dalam bisnis media keluarga Murdoch, sekaligus membangun model perusahaan media yang berbeda dari warisan ayahnya, Rupert Murdoch.
Nama Murdoch selama ini identik dengan kekuatan media konservatif di Amerika Serikat, terutama melalui Fox News, The Wall Street Journal, dan New York Post. Namun, posisi James Murdoch di puncak New York magazine justru menghadirkan kontras yang tajam, mengingat publikasi tersebut dikenal dengan jurnalisme panjang, kritik budaya, dan tulisan opini yang kerap viral.
Dilansir dari The Washington Post, Selasa (26/5/2026), James Murdoch mengumumkan kesepakatan pembelian New York magazine dari Vox Media, termasuk Vox.com dan jaringan podcastnya. Dalam pernyataannya, dia menyebut langkah itu sebagai komitmen terhadap "ketertarikan pada garis depan budaya" serta "komitmen mendalam terhadap jurnalisme ambisius dan percakapan yang membentuk agenda publik."
James Murdoch, 53 tahun, bukan figur baru dalam industri media. Dia pernah memimpin perusahaan induk Fox sebelum mundur sepenuhnya pada 2020 dari dewan News Corp setelah menyatakan adanya perbedaan pandangan terkait arah editorial. Sejak itu, dia menjauh dari struktur bisnis keluarganya dan mulai aktif mendukung isu perubahan iklim serta proyek media yang lebih progresif bersama istrinya, Kathryn Murdoch.
Nilai transaksi ini diperkirakan lebih dari 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,32 triliun dengan kurs Rp 17.750 per dolar AS. Setelah kesepakatan rampung, Vox Media akan dipisah. New York magazine, Vox.com, serta jaringan podcast seperti Today, Explained akan berada di bawah Lupa Systems milik James Murdoch, sementara aset lainnya, termasuk The Verge, Eater, SB Nation, Popsugar, dan The Dodo, akan membentuk perusahaan baru yang terpisah.
Di internal redaksi, respons awal cenderung hati-hati meski tidak sepenuhnya menolak perubahan kepemilikan. Seorang staf New York magazine mengatakan, "Murdoch secara terbuka menyampaikan hal yang ingin didengar banyak orang, bahwa dirinya menghargai jurnalisme panjang dan kritik budaya yang kami kerjakan."
Meski demikian, optimisme itu tidak sepenuhnya merata. Di kalangan sebagian staf, muncul sikap menunggu dan mengamati. "Sebagai calon pemilik, dia mengatakan hal-hal yang tepat," ujar salah satu staf, sembari menyinggung bahwa pola serupa kerap terjadi di industri media ketika komitmen awal pemilik baru tidak selalu bertahan setelah akuisisi selesai.
Nada kehati-hatian juga terdengar dari Vox.com. Salah satu staf menyebut, "Tentu saja setiap penjualan selalu membuat tidak nyaman, tetapi ini lebih baik karena pemiliknya tampak ingin membangun bisnis media yang serius," meski dia mengakui kekhawatiran soal potensi pemangkasan tenaga kerja masih membayangi di tengah tekanan industri yang terus berlangsung.
Pengamat media Bill Grueskin dari Columbia Journalism School menilai langkah James Murdoch berbeda dari pendekatan ayahnya. Dia menyebut James sedang "membangun kumpulan media dengan fokus lebih sempit, yang semuanya memiliki standar jurnalisme kuat, tetapi tidak berada pada skala raksasa seperti Fox atau Wall Street Journal."
Pandangan lain datang dari Rodney Benson, profesor di New York University, yang menilai akuisisi ini sebagai dukungan serius terhadap jurnalisme independen di tengah tekanan politik dan ekonomi. Sementara Mark Feldstein dari University of Maryland melihat adanya ironi keluarga, dengan menyatakan bahwa "uang dari konten konservatif di Fox News kini digunakan untuk mendukung perspektif yang justru berseberangan."
Langkah James Murdoch ini menunjukkan pergeseran cara modal dan pengaruh bekerja dalam industri media global. Di satu sisi, dia mewarisi nama besar Murdoch, tetapi di sisi lain dia sedang membangun ekosistem media yang lebih kecil, berbasis budaya dan jurnalisme digital, yang berpotensi menjadi penyeimbang dari dominasi media arus utama yang selama ini dibentuk keluarganya sendiri.