JawaPos.com — Transisi energi global diperkirakan memasuki fase paling krusial dalam satu dekade ke depan, ketika tenaga surya diproyeksikan menjadi sumber listrik terbesar dunia pada 2035. Namun, di saat yang sama, lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data kecerdasan buatan (AI) diperkirakan tetap menjaga peran bahan bakar fosil dalam sistem energi global.
Laporan terbaru BloombergNEF menyebut pergeseran tersebut akan melampaui batu bara, minyak, dan gas alam secara bertahap. Transformasi ini berlangsung seiring meningkatnya elektrifikasi industri dan lonjakan konsumsi listrik yang dipicu pesatnya adopsi AI di berbagai sektor ekonomi.
Dilansir dari TechCrunch, Rabu (20/5/2026), laporan tersebut menyebut, “Tenaga surya akan menjadi sumber energi terbesar dalam satu dekade ke depan, melampaui batu bara, minyak, dan gas alam, menurut laporan terbaru BloombergNEF. Pergeseran besar ini akan terjadi bersamaan dengan lonjakan historis konsumsi energi yang didorong oleh AI dan elektrifikasi seluruh industri.”
Baca Juga: Pertamina Hadirkan Listrik Tenaga Surya, Terangi Tenda Pengungsi di Aceh Tamiang
Dalam laporan yang sama, Matthias Kimmel, kepala ekonomi energi BloombergNEF, menegaskan, “Tenaga surya sedang memenangkan perlombaan,” kepada TechCrunch.
Menurut BloombergNEF, dominasi tenaga surya terutama ditopang faktor ekonomi. Penurunan biaya produksi membuat energi ini semakin sulit disaingi sumber lain. Pakistan menjadi salah satu contoh, dengan penambahan 25 gigawatt kapasitas tenaga surya dalam dua tahun terakhir setelah lonjakan harga gas alam pasca invasi Rusia ke Ukraina.
Di sisi lain, pusat data AI menjadi salah satu pendorong permintaan energi terbesar dalam sejarah modern. BloombergNEF memperkirakan kebutuhan tersebut akan mendorong tambahan kapasitas besar, termasuk 1 terawatt tenaga surya skala utilitas, 400 gigawatt kapasitas surya, 370 gigawatt gas alam, serta 110 gigawatt batu bara.
Meski begitu, laporan tersebut menegaskan bahwa karakter operasional gas dan batu bara yang mampu beroperasi 24 jam membuat keduanya masih menyumbang 51 persen dari tambahan pembangkitan listrik untuk pusat data hingga 2050. Dengan demikian, sektor teknologi global secara tidak langsung masih mempertahankan relevansi bahan bakar fosil dalam bauran energi.
Persaingan teknologi energi lain juga semakin ketat. Solusi seperti penyimpanan energi jangka panjang, panas bumi, dan nuklir mulai menarik minat investor besar. Google, misalnya, mengalokasikan investasi senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 17,75 triliun (kurs Rp 17.750 per dolar AS) untuk baterai berkapasitas 100 jam dari Form Energy dalam proyek pusat data terbarunya.
Sementara itu, perusahaan seperti Fervo Energy dan X-energy mencatat momentum baru setelah melantai di bursa, menandai meningkatnya minat terhadap alternatif energi di luar tenaga surya. Namun, biaya rendah dan kemampuan produksi massal membuat tenaga surya tetap berada pada posisi paling kompetitif dalam jangka panjang.
Penurunan biaya panel surya juga dipercepat oleh kebijakan industri Tiongkok serta skala produksi global. Kombinasi tersebut menekan harga dan memperluas adopsi di berbagai negara, termasuk pasar berkembang yang sensitif terhadap biaya energi.
Di Eropa, kelebihan pasokan listrik tenaga surya bahkan mulai menekan profitabilitas pembangkit pada siang hari, seperti di Spanyol dan Italia. Sebagai respons, pengembang mulai membangun sistem hibrida yang menggabungkan panel surya dan baterai untuk mengoptimalkan harga listrik pada malam hari.
BloombergNEF mencatat kapasitas baterai global mencapai 112 gigawatt pada tahun lalu dan diperkirakan hampir tiga kali lipat pada 2035. Perusahaan seperti Redwood Materials hingga Ford turut masuk ke sektor penyimpanan energi untuk menangkap peluang pertumbuhan tersebut.
Pada akhirnya, transisi energi ini tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga geopolitik dan kemandirian energi. Dalam skenario ekonomi murni, ketergantungan impor energi global diperkirakan menurun, termasuk pada negara-negara produsen minyak besar. Namun dalam skenario net-zero, ketergantungan tersebut berpotensi hampir sepenuhnya hilang, menandai pergeseran besar dalam struktur kekuatan energi global.